Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Selasa (2/6/2026) dibuka menguat 82,62 poin atau 1,35 persen ke level 6.210,00 seiring penguatan bursa saham global yang didorong euforia perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Sementara itu, Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan turut naik 5,05 poin atau 0,83 persen ke posisi 616,22.
Bursa Global Menguat Berkat Sentimen AIHead of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan penguatan pasar global masih ditopang sentimen positif dari sektor AI meskipun risiko inflasi energi akibat konflik Amerika Serikat dan Iran masih membayangi.
“Pasar global masih ditopang oleh euforia AI, meski risiko inflasi energi dari konflik AS dengan Iran belum mereda,” ungkap Liza.
Sejumlah indeks utama dunia seperti MSCI World, MSCI Asia ex-Japan, MSCI Emerging Markets, Wall Street Big Three, dan Nikkei Jepang mencatat rekor penguatan baru.
Bursa Korea Selatan bahkan melonjak sekitar 4 persen dalam perdagangan terbaru.
Di Amerika Serikat, indeks Dow Jones menguat 0,09 persen, S&P 500 naik 0,26 persen, dan Nasdaq Composite bertambah 0,60 persen.
Namun demikian, Liza menilai ekonomi Amerika Serikat masih menghadapi kondisi K-shaped economy, ketika korporasi besar menikmati lonjakan investasi AI sementara tingkat tabungan masyarakat berada pada level historis rendah.
Investor Cermati Kebijakan The Fed dan Data KetenagakerjaanYardeni Research memperkirakan bank sentral Amerika Serikat, The Fed, akan mengadopsi kebijakan yang lebih ketat (tightening bias) dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 16-17 Juni 2026.
Lembaga tersebut juga memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Juli 2026.
“Fokus pelaku pasar kini beralih ke data ketenagakerjaan AS, khususnya Nonfarm Payrolls pada Jumat nanti, yang berpotensi menjadi katalis utama pergerakan pasar,” ujar Liza.
Di pasar Asia, indeks Nikkei Jepang naik 1,58 persen, Hang Seng Hong Kong menguat 1,37 persen, dan Strait Times Singapura bertambah 0,61 persen.
Sementara itu, indeks Shanghai Composite terkoreksi tipis 0,13 persen.
Kebijakan Pemerintah dan BI Jadi SorotanDari dalam negeri, pemerintah mulai mengoperasikan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai BUMN ekspor untuk mendukung kebijakan ekspor satu pintu komoditas strategis sejak 1 Juni 2026.
Komoditas tahap awal yang masuk skema tersebut meliputi batu bara, minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), dan ferro alloy yang menyumbang sekitar 23,4 persen total ekspor nasional.
Pemerintah juga menawarkan insentif Pajak Penghasilan hingga 0 persen bagi eksportir yang menempatkan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) di dalam negeri.
Di sisi lain, Bank Indonesia memperkuat stabilisasi rupiah melalui intervensi pasar valuta asing, pembelian Surat Berharga Negara (SBN), serta pembatasan pembelian valuta asing tanpa dokumen pendukung hingga 25.000 dolar AS per bulan mulai Juni 2026.
Liza mengingatkan investor untuk tetap berhati-hati di tengah berbagai kebijakan baru yang muncul.
“Di tengah bermunculan kontroversi regulasi dan kebijakan baru pemerintah, Kiwoom Research sarankan untuk tidak membuka posisi Buy terlalu agresif (tetap mini lot), dan hanya dalam mode trading cepat. Perhatikan rotasi sektor yang diuntungkan dari katalis/sentimen pasar,” ungkapnya.




