Jakarta (ANTARA) - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menggelar Pekan Jamu 2026 mulai hari ini hingga 7 Juni 2026 mendatang untuk menunjukkan kekayaan keanekaragaman hayati herbal di Indonesia siap bersaing di tingkat global.
"Indonesia memiliki sekitar 75 persen keanekaragaman hayati (biodiversity) herbal dunia, menunjukkan besarnya potensi kekayaan alam nasional. Kekayaan tersebut tidak hanya berupa bahan baku tanaman obat, tetapi juga budaya jamu yang telah diwariskan turun-temurun dan dimanfaatkan untuk kesehatan masyarakat," kata Kepala BPOM Taruna Ikrar di Jakarta, Selasa.
Taruna mengemukakan, melalui Pekan Jamu ini, BPOM ingin menunjukkan bahwa jamu tidak hanya berbentuk minuman dalam botol, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi berbagai produk lain yang memiliki potensi ekspor besar.
"Masyarakat diharapkan semakin mengenal, mendukung, dan memanfaatkan jamu secara optimal karena secara historis,pada masa kerajaan, jamu merupakan minuman kesehatan yang disajikan bagi raja, keluarga kerajaan, dan tamu-tamu penting, kata 'jamu' sendiri dianggap memiliki makna yang luhur dan agung," ujar dia.
Taruna menegaskan pentingnya kolaborasi model antara akademisi, perusahaan, dan pemerintah untuk mengembangkan industri jamu di Indonesia, mengingat ada potensi 31 ribu kekayaan alam di Indonesia yang belum dieksplor secara optimal untuk fitofarmaka atau sediaan obat berbahan dasar alam (tanaman, hewan, atau mineral).
"Dari sekitar 40.000 spesies biodiversitas dunia, sekitar 30.000–31.000 berada di Indonesia berdasarkan data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kekayaan biodiversitas Indonesia terbentuk melalui sejarah geologi Nusantara yang menggabungkan unsur flora Asia dan Australia serta proses evolusi selama jutaan tahun, oleh karena itu, potensi ekonomi jamu Indonesia sangat besar," ucap Taruna.
Saat ini, lanjut Taruna, nilai ekonomi industri jamu sekitar Rp1,2 triliun berdasarkan data industri yang tercatat. Potensi pasar global industri kesehatan, khususnya untuk jamu, diperkirakan dapat mencapai sekitar Rp350 triliun untuk Indonesia apabila biodiversitas yang dimiliki dapat dimanfaatkan secara optimal.
Baca juga: BPOM upayakan inovasi jamu jadi fitofarmaka guna lengkapi layanan RS
Baca juga: BPOM akan tingkatkan UPT di Kepri kuatkan pengawasan obat-makanan
Baca juga: Anggota DPR ingatkan masyarakat lebih cerdas dalam pilih kosmetik-obat
"Indonesia memiliki sekitar 75 persen keanekaragaman hayati (biodiversity) herbal dunia, menunjukkan besarnya potensi kekayaan alam nasional. Kekayaan tersebut tidak hanya berupa bahan baku tanaman obat, tetapi juga budaya jamu yang telah diwariskan turun-temurun dan dimanfaatkan untuk kesehatan masyarakat," kata Kepala BPOM Taruna Ikrar di Jakarta, Selasa.
Taruna mengemukakan, melalui Pekan Jamu ini, BPOM ingin menunjukkan bahwa jamu tidak hanya berbentuk minuman dalam botol, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi berbagai produk lain yang memiliki potensi ekspor besar.
"Masyarakat diharapkan semakin mengenal, mendukung, dan memanfaatkan jamu secara optimal karena secara historis,pada masa kerajaan, jamu merupakan minuman kesehatan yang disajikan bagi raja, keluarga kerajaan, dan tamu-tamu penting, kata 'jamu' sendiri dianggap memiliki makna yang luhur dan agung," ujar dia.
Taruna menegaskan pentingnya kolaborasi model antara akademisi, perusahaan, dan pemerintah untuk mengembangkan industri jamu di Indonesia, mengingat ada potensi 31 ribu kekayaan alam di Indonesia yang belum dieksplor secara optimal untuk fitofarmaka atau sediaan obat berbahan dasar alam (tanaman, hewan, atau mineral).
"Dari sekitar 40.000 spesies biodiversitas dunia, sekitar 30.000–31.000 berada di Indonesia berdasarkan data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kekayaan biodiversitas Indonesia terbentuk melalui sejarah geologi Nusantara yang menggabungkan unsur flora Asia dan Australia serta proses evolusi selama jutaan tahun, oleh karena itu, potensi ekonomi jamu Indonesia sangat besar," ucap Taruna.
Saat ini, lanjut Taruna, nilai ekonomi industri jamu sekitar Rp1,2 triliun berdasarkan data industri yang tercatat. Potensi pasar global industri kesehatan, khususnya untuk jamu, diperkirakan dapat mencapai sekitar Rp350 triliun untuk Indonesia apabila biodiversitas yang dimiliki dapat dimanfaatkan secara optimal.
Baca juga: BPOM upayakan inovasi jamu jadi fitofarmaka guna lengkapi layanan RS
Baca juga: BPOM akan tingkatkan UPT di Kepri kuatkan pengawasan obat-makanan
Baca juga: Anggota DPR ingatkan masyarakat lebih cerdas dalam pilih kosmetik-obat





