Rachel Vennya Akui Kurang Setuju VOC Parenting, Tak Mau Anak Alami Luka Emosional

grid.id
1 jam lalu
Cover Berita

Grid.ID - Perdebatan mengenai pola asuh anak atau parenting belakangan semakin ramai dibicarakan di media sosial. Istilah seperti gentle parenting hingga VOC parenting kerap menjadi topik diskusi di kalangan orang tua muda. Menanggapi fenomena tersebut, selebgram dan influencer Rachel Vennya turut membagikan pandangannya mengenai cara dirinya membesarkan kedua anaknya.

Melalui unggahan di akun Threads pribadinya, Rachel Vennya menegaskan bahwa setiap orang tua memiliki pendekatan yang berbeda dalam mendidik anak. Menurutnya, tidak ada satu metode parenting yang bisa diklaim paling benar karena setiap anak memiliki karakter yang berbeda dan setiap keluarga memiliki dinamika tersendiri.

"Banyak yang suka bahas parenting VOC dan gentle parenting, sebenarnya aku ngerasa semua orang ya beda-beda aja ngedidik anaknya," tulis Rachel Vennya di akun Threads pribadinya yang dikutip Grid.ID pada Selasa (2/6/2026).

Dalam unggahannya, Rachel mengungkapkan bahwa dirinya cenderung menerapkan prinsip gentle parenting dalam membesarkan kedua buah hatinya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa gentle parenting bukan berarti membiarkan anak melakukan apa saja tanpa aturan.

Rachel menjelaskan bahwa dirinya tidak pernah menggunakan kekerasan fisik maupun verbal terhadap anak-anaknya. Ia menghindari kebiasaan memaki, menggunakan kata-kata kasar, memukul, atau mencubit ketika menghadapi perilaku anak yang dianggap tidak sesuai.

Meski demikian, ia juga mengakui bahwa dirinya tetap bisa marah sebagai seorang ibu. Bedanya, kemarahan tersebut disampaikan melalui ekspresi dan nada bicara yang tegas tanpa harus melibatkan tindakan yang bersifat menyakiti.

"Kita nggak pernah tau parenting mana yang berhasil, kalo buat aku sendiri aku termasuk gentle parenting: tidak pernah memaki, kata-kata kotor, memukul, cubit, dan lain-lain tapi bukan berarti tidak pernah marah," tulisnya.

Bahkan, menurut pengakuannya, kedua anaknya sering menyebut dirinya galak. Namun kesan tersebut muncul bukan karena hukuman fisik atau bentakan, melainkan dari tatapan mata dan intonasi suara yang tegas ketika memberikan arahan.

"Anak-anak aku suka bilang aku galak hanya dipermainan mata dan nada tegas plus hukuman-hukuman yang masih make sense dan tidak abusive," ungkap Rachel.

Mantan istri Okin itu juga menegaskan bahwa menerapkan gentle parenting bukan berarti menghilangkan konsekuensi ketika anak melakukan kesalahan. Menurutnya, anak tetap perlu memahami bahwa setiap tindakan memiliki tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan.

Untuk itu, ia menerapkan berbagai bentuk hukuman yang menurutnya masih masuk akal dan tidak bersifat abusif. Salah satu contoh yang ia lakukan adalah membatasi akses terhadap hal-hal yang disukai anak, seperti penggunaan iPad atau aktivitas sosial tertentu.

 

"Contoh hukumannya kalo misal melakukan suatu kesalahan ya nggak boleh pegang ipad selama beberapa waktu bisa seminggu, sebulan atau lebih, nggak boleh ikut lomba atau playdate," lanjutnya.

Bagi Rachel, bentuk konsekuensi seperti itu bertujuan untuk mengajarkan anak mengenai tanggung jawab tanpa harus melukai fisik maupun mental mereka. Dengan cara tersebut, anak belajar bahwa setiap tindakan memiliki dampak yang harus diterima.

Rachel juga menekankan bahwa penerapan aturan dan konsekuensi harus disesuaikan dengan usia anak. Menurutnya, metode yang digunakan kepada anak usia balita tentu berbeda dengan anak yang sudah lebih besar.

Ia mengungkapkan bahwa konsekuensi yang diterapkannya mulai berlaku ketika anak telah memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai aturan, umumnya setelah usia tiga tahun ke atas. Sementara untuk anak yang masih batita, pendekatan yang dilakukan lebih berfokus pada pengenalan batasan sederhana.

"Jadi ya itu hukuman-hukuman yang aku terapin biar mereka tau kalo ada yang harus dipertanggungjawabkan. Ini berlaku setelah mereka punya hobby umur 3 tahun keatas, kalo masih batita ya emang masih NO NO," ungkapnya.

"Tapi NO NO nya pake prinsip, hukuman pake prinsip, mau nangis kaya apapun tidak akan mengubah hukuman aku. Dan mereka tau itu dari kecil kalo buna punya prinsip, disertai kita sebagai orang tua harus menepati janji," lanjutnya.

Dalam unggahannya, Rachel juga mengungkapkan bahwa dirinya kurang setuju dengan konsep yang sering disebut netizen sebagai VOC parenting, istilah yang umumnya digunakan untuk menggambarkan pola asuh keras, otoriter, dan cenderung mengandalkan hukuman fisik maupun verbal.

Meski demikian, Rachel tidak secara langsung menyebut pola asuh tersebut salah. Ia menyadari bahwa setiap orang tua memiliki pengalaman dan pertimbangan masing-masing dalam membesarkan anak.

Namun, ada alasan pribadi yang membuatnya memilih pendekatan berbeda. Rachel mengaku tidak ingin anak-anaknya tumbuh dengan beban emosional yang berlebihan akibat pola asuh yang terlalu keras. Ia bahkan menyinggung mengenai pengalaman emosional yang pernah ia rasakan dan berharap siklus tersebut dapat berhenti pada dirinya.

"Aku kurang setuju VOC parenting, aku nggak bilang itu salah karena ya balik anakku juga belum pada gede, tapi aku nggak mau mereka punya riwayat emosi yang keterlaluan. Aku punya rantai itu dan aku ingin berhenti di aku," tulis Rachel. (*)

Artikel Asli


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Profil Ryamirzard Ryacudu, Mantan KSAD dan Menhan Era Jokowi yang Meninggal Dunia di Usia 76 Tahun
• 23 menit lalugrid.id
thumb
KPK Panggil Lagi Bos Maktour Fuad Terkait Kasus Korupsi Haji
• 2 jam laludetik.com
thumb
Belanja Modal Perusahaan Besar Jepang Menyusut Imbas Perang Iran
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Viral Suroboyo Bus Ugal-ugalan di Prapen, DPRD Surabaya Minta Evaluasi dan Cek Kesehatan Sopir
• 15 jam laluberitajatim.com
thumb
Selasa ini harga emas Antam turun Rp25.000 menjadi Rp2,774 juta/gr
• 4 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.