Harga Sapi Impor Mahal Imbas Rupiah Melemah, Industri Susu Mau Naikkan Harga Produk?

idxchannel.com
2 jam lalu
Cover Berita

Kenaikan kurs berdampak pada meningkatnya harga sapi perah impor maupun biaya bahan baku susu yang masih didominasi produk impor.

Harga Sapi Impor Mahal Imbas Rupiah Melemah, Industri Susu Mau Naikkan Harga Produk? (Foto Tangguh/IMG)

IDXChannel - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) mulai memberikan tekanan terhadap industri susu nasional. Kenaikan kurs berdampak pada meningkatnya harga sapi perah impor maupun biaya bahan baku susu yang masih didominasi produk impor.

Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementerian Pertanian (Kementan) Makmun mengatakan, tingginya nilai dolar AS menyebabkan harga sapi perah impor mengalami kenaikan.

Baca Juga:
Mengurai Masalah Rantai Pasok Industri Susu Nasional

"Memang sekarang ada kenaikan harga sapi perah," kata Makmun dalam konferensi pers Hari Susu Nusantara di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Selasa (2/6/2026).

Dampak pelemahan rupiah juga dirasakan oleh pelaku industri pengolahan susu. General Manager Research and Development (R&D) Health and Wellness Divisi Dairy PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) Tjatur Lestijaman mengungkapkan, mayoritas kebutuhan bahan baku susu nasional masih bergantung pada impor, sehingga pergerakan kurs menjadi faktor yang memengaruhi biaya produksi.

Baca Juga:
Dilema dan Tantangan Industri Susu Nasional

"Kurang lebih karena 80 persen dari kebutuhan susunya masih impor, dan harganya juga terpaut dengan dolar. Sedikit banyak memang ada pengaruh terhadap biaya bahan baku Indomilk dalam hal ini," katanya.

Baca Juga:
Perkuat Industri Susu, Ini Strategi Nestle Jaga Kemitraan dengan Peternak 

Meski demikian, Tjatur menegaskan, perusahaan berupaya agar kenaikan biaya produksi tidak sepenuhnya dibebankan kepada konsumen melalui kenaikan harga produk.

"Tetapi kami berkomitmen bahwa itu kita tidak akan pass on 100 persen kepada konsumen. Jadi kita masih melihat bahwa masyarakat perlu ada daya beli yang masih bisa, masih terjangkau oleh masyarakat," kata Tjatur.

Untuk menekan dampak kenaikan biaya akibat pelemahan rupiah, perusahaan melakukan berbagai langkah efisiensi di lini produksi. Upaya tersebut diharapkan mampu menjaga harga produk tetap terjangkau di tengah tekanan biaya bahan baku yang meningkat.

"Dengan kondisi seperti itu, kami melakukan program-program efisiensi di pabrik-pabrik kami. Sehingga biayanya juga bisa ditekan. Sehingga pengaruh dari inflasi dolar ini tidak 100 persen kita pass on ke konsumen," katanya.

(Dhera Arizona)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sentil Dino Patti Djalal, Ketum Logis 08: Jangan Hanya Hitung Perjalanan, Lihat Hasilnya untuk Rakyat
• 1 jam lalujpnn.com
thumb
Peringati Hari Lahir Pancasila, Kades Junrejo Soroti Pergeseran Makna Sila Keempat
• 22 jam lalurealita.co
thumb
Moral Self-Licensing: Ketika Otak Izinkan Kita Berbuat Buruk
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Kebakaran Hebat Landa Kawasan Padat Penduduk di Kemayoran, Damkar Jakarta Terjunkan 100 Personel
• 15 jam lalutvonenews.com
thumb
Polda Metro Bakal Panggil Influencer Promosikan Hanania Travel
• 4 menit laludetik.com
Berhasil disimpan.