Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penumpang angkutan udara atau pesawat domestik mengalami penurunan cukup dalam, yakni mencapai 18,72% secara bulanan pada April 2026.
Secara umum, berbaga moda memang mengalami penurunan pada April 2026, baik secara bulanan maupun tahunan.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini melaporkan penurunan terjadi baik pada moda angkutan udara domestik, angkutan laut domestik, maupun angkutan danau, sungai, dan penyeberangan (ASDP).
“Sedangkan [secara bulanan] angkutan udara internasional dan angkutan kereta mengalami peningkatan,” ujarnya dalam konferensi pers, Selasa (2/6/2026).
Melihat angka yang lebih terperinci, jumlah penumpang angkutan udara domestik pada April 2026 tercatat sebanyak 4,57 juta orang. Selain turun 18,72% secara bulanan (month to month/Mtm), angka tersebut mencerminkan penurunan 15,85% secara tahunan (year on year/YoY).
Penurunan tersebut terpantau terjadi setelah berakhirnya periode puncak mobilitas masyarakat selama musim mudik dan libur Idulfitri yang jatuh pada Maret. Sementara itu, BPS mencatat harga bahan bakar untuk pesawat (avtur) di Indonesia juga meningkat pada periode April 2026 dibandingkan dengan periode Maret 2026.
Baca Juga
- Efek Harga Avtur, Sektor Transportasi Inflasi 0,61% pada Mei 2026
- Harga Avtur Turun, Fuel Surcharge Pesawat Tetap Maksimal 50% per Juni 2026
- Harga Avtur Turun 10%, Tiket Pesawat Lebih Murah?
Sebagaimana diketahui, kenaikan harga avtur yang dirilis Pertamina pada April 2026 mencapai lebih dari 70% MtM.
Berbanding terbalik dengan domestik, di tengah tekanan harga avtur, penumpang angkutan udara internasional justru mencapai 1,56 juta orang. Jumlah tersebut meningkat 0,93% dibandingkan bulan sebelumnya, meskipun masih turun 1,78% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan untuk domestik terjadi di Bandara Hasanuddin-Makassar sebesar 13,24%, Soekarno Hatta-Tangerang sebesar 8,66%, dan Kualanamu-Medan sebesar 6,36%. Sementara jumlah penumpang internasional terbesar terdapat pada Bandara Soekarno Hatta-Tangerang, yaitu mencapai 632.100 orang atau 40,54% dari total penumpang ke luar negeri.
Pada moda transportasi laut, jumlah penumpang angkutan laut domestik tercatat sebanyak 2,93 juta orang. Realisasi ini turun 6,17% MtM dan turun 9,81% YoY.
Penurunan jumlah penumpang terjadi di Pelabuhan Balikpapan 50,81%, Makassar 11,44%, dan Tanjung Priok sebesar 4,78%. Sebaliknya, peningkatan jumlah penumpang hanya terjadi di Pelabuhan Tanjung Perak sebesar 225,87% dan Belawan sebesar 140,34%.
Adapun jumlah penumpang angkutan sungai, danau, dan penyeberangan mengalami penurunan paling dalam. Pada April 2026, jumlah penumpang ASDP tercatat sebanyak 4,69 juta orang, turun 33,54% dibandingkan bulan sebelumnya dan turun 24,99% dibandingkan April 2025.
Penurunan jumlah penumpang terjadi di seluruh pelabuhan utama yang diamati, yaitu di Pelabuhan Bakauheni sebesar 41,79%, Merak sebesar 37,34%, Gilimanuk sebesar 35,99%, Pototano sebesar 27,58%, dan Ketapang sebesar 10,65%.
Kereta Tumbuh PositifSementara itu, moda kereta api menjadi satu-satunya transportasi massal domestik yang masih menunjukkan pertumbuhan secara bulanan dan tahunan.
Jumlah penumpang kereta api mencapai 48,28 juta orang pada April 2026 atau naik 0,30% dibandingkan Maret 2026. Secara tahunan, jumlah penumpang kereta juga meningkat 7,65%.
Dari jumlah tersebut, sebagian besar adalah penumpang Jabodetabek yang merupakan penumpang pelaju (commuter) alias para pengguna KRL, yaitu sebanyak 30,6 juta orang atau 63,35% dari total penumpang angkutan kereta.
Peningkatan jumlah penumpang terjadi untuk wilayah/rute komuter Jabodetabek, MRT, LRT, dan kereta cepat Whoosh masing-masing naik 2,10%, 11,29%, 11,61%, dan 7,76%.
Sebaliknya, penurunan jumlah penumpang terjadi pada wilayah/rute Jawa non-Jabodetabek dan non-Jawa yang masing-masing turun sebesar 11,98% dan 3,83% MtM.
Adapun sejalan dengan penurunan jumlah pengguna pesawat rute domestik, pengguna kereta bandara juga tercatat turun sebesar 9,84% MtM.





