jpnn.com - JAKARTA - Sejumlah kiai muda, pengasuh pesantren, akademisi, dan intelektual Nahdlatul Ulama (NU) yang tergabung dalam Halaqah Kiai Muda NU Solo Raya menyoroti melemahnya fungsi kepemimpinan ulama di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Hal itu mengemuka dalam Halaqah Kiai Muda NU bertema Meneguhkan Supremasi Moral dan Kepemimpinan Ulama dalam Dinamika NU Kontemporer yang digelar di Pondok Pesantren Al-Mustofa, Ngeboran, Sawit, Boyolali, Selasa (2/6).
BACA JUGA: Keresahan Warga NU Menguat, Mubes DIY Desak PBNU Kembali ke Khitah
Forum tersebut menghadirkan intelektual NU Ahmad Baso dan Pengasuh PPM Aswaja Nusantara Mlangi, Gus Mustafid, sebagai narasumber.
Ahmad Baso menilai fungsi kepemimpinan ulama dalam tubuh PBNU mengalami pelemahan. Dia mengingatkan pesan almarhum KH Ahmad Siddiq mengenai pentingnya menjaga organisasi tetap berada di jalur perjuangannya.
BACA JUGA: Wasekjen PBNU: Kasus Kekerasan Seksual Oknum Ponpes Tak Mewakili Wajah Pesantren
"KH Ahmad Siddiq pernah mengibaratkan NU seperti rel kereta api yang harus tetap berada pada jalurnya, bukan seperti taksi yang arah perjalanannya ditentukan sepenuhnya oleh sopir," kata Baso.
Menurut dia, organisasi harus berjalan berdasarkan prinsip dan sistem, bukan bergantung pada figur tertentu.
BACA JUGA: Gus Yahya Tegaskan Muktamar PBNU Bukan Batu Loncatan Pemilu 2029
Baso menegaskan posisi Rois Aam memiliki peran strategis sebagai penjaga arah organisasi sekaligus otoritas moral tertinggi yang mampu memberikan koreksi terhadap berbagai penyimpangan, termasuk kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada umat.
Dia juga mengenang pengalaman saat diminta almarhum KH Sahal Mahfudh menyusun pidato iftitah dalam sebuah forum bersama pemerintah.
Saat itu, kata Baso, KH Sahal meminta agar pidato tersebut tetap memuat kritik terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap kurang tepat.
"Beliau mengajarkan bahwa tugas ulama bukan sekadar mendukung, tetapi juga mengingatkan dan mengoreksi ketika ada kebijakan yang keliru," ujarnya.
Baso menyebut sosok Rois Aam ideal harus memiliki empat kriteria, yakni wara', faqih, muharrik, dan munazzim.
"Jika Rois Aam tidak memiliki kapasitas keilmuan yang kuat, maka otoritas ulama akan melemah dan mudah terpinggirkan dalam pengambilan keputusan organisasi," katanya.
Sementara itu, Gus Mustafid menilai kritik dan masukan dari nahdiyin harus dipahami sebagai bentuk tanggung jawab moral untuk kemajuan organisasi.
Menurutnya, terdapat tiga fondasi utama NU sebagaimana termuat dalam Qanun Asasi yang dirumuskan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari.
Pertama, otoritas ilmu dan keulamaan. Kedua, prinsip al-ittihad atau persatuan. Ketiga, NU sebagai alat perjuangan untuk menegakkan nilai-nilai agama, kemaslahatan sosial, dan kepentingan umat.
"Ketegangan dan perbedaan pendapat boleh saja terjadi, tetapi jangan sampai memutus tali persatuan yang menjadi warisan para pendiri NU," ujar Gus Mustafid.
Dia menegaskan NU tidak boleh dijadikan sarana kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu.
"NU adalah alat perjuangan. Organisasi ini dibangun untuk mengabdi kepada agama, bangsa, dan umat, bukan untuk menjadi tangga bagi kepentingan personal atau kelompok," tuturnya. (mcr8/jpnn)
Redaktur : Mufthia Ridwan
Reporter : Kenny Kurnia Putra




