Mengenal Collagen Stimulator yang Bekerja Bertahap untuk Perawatan Antiaging

herstory.co.id
1 jam lalu
Cover Berita
HerStory, Jakarta —

Penuaan kulit merupakan proses alami yang terjadi seiring bertambahnya usia. Namun, sejumlah faktor eksternal seperti paparan sinar ultraviolet (UV) dan polusi diketahui dapat mempercepat munculnya tanda-tanda aging pada kulit.

"Paparan UV tinggi adalah faktor penyebab aging nomor satu," ujar aesthetic doctor dr. Catherine Soebroto, Dipl. CIBTAC dari dr. BELLE Aesthetic Clinic Pondok Indah, Jakarta, dalam konferensi pers yang diselenggarakan oleh dr. BELLE Aesthetic Clinic dan Galderma di Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Menurut dr. Catherine, salah satu perubahan yang umum terjadi pada kulit yang menua adalah berkurangnya kadar kolagen dan elastin yang berfungsi sebagai penopang struktur kulit.

"Ini karena kulit mulai kehilangan kolagen dan elastin, yang merupakan penopang struktur kulit. Dengan berkurangnya kolagen, kulit menjadi tipis sehingga kendor dan tampak turun," paparnya.

Secara teori, kolagen pada kulit berkurang sekitar 10 persen setiap 10 tahun.

Mengenali Tanda Penuaan Kulit

Salah satu cara sederhana untuk menilai tingkat penuaan kulit adalah melalui tes cubit pipi.

"Kalau kulit bisa ditarik sampai panjang, tandanya kulit sudah sangat tipis," terang dr. Catherine.

Ia menjelaskan bahwa kulit yang muda dan sehat umumnya memiliki lapisan yang lebih tebal, serta tekstur yang kencang, kenyal, dan halus.

Menurutnya, karakteristik penuaan kulit juga dapat berbeda pada setiap kelompok etnis. Orang Asia cenderung memiliki kulit yang lebih tebal dibandingkan orang Kaukasia.

"Jadi tidak terlalu keriput, tapi lebih ke arah kendur sehingga tampak heavy jaw saat terjadi penuaan. Berbeda dengan orang Kaukasian yang cenderung berkerut dan keriput, karena kulitnya lebih tipis," jelasnya.

Mengenal PLLA-SCA sebagai Collagen Stimulator

Meski penuaan merupakan proses alami, berbagai pilihan perawatan facial rejuvenation kini tersedia untuk membantu menjaga kualitas kulit tanpa harus menjalani tindakan operasi.

Salah satu yang diperkenalkan adalah PLLA-SCA (Poly-L-Lactic Acid Skin Collagen Activator), yang disebut sebagai collagen stimulator.

Menurut dr. Catherine, PLLA-SCA bekerja dengan menstimulasi produksi kolagen tipe I dan III sehingga membantu meningkatkan ketebalan lapisan kulit.

"Ini adalah collagen stimulator, yang bekerja menstimulasi kolagen tipe I dan III, sehingga lapisan kulit kembali tebal dan naik. Secara internasional, orang-orang di luar negeri sangat suka dengan biostimulator karena hasilnya alami," ujarnya.

Berbeda dengan dermal filler yang memberikan volume secara instan, PLLA-SCA bekerja secara bertahap dengan merangsang sel fibroblast untuk memproduksi kolagen alami baru.

Perawatan ini ditujukan untuk membantu:

  • Membangun kembali struktur kulit
  • Menambah volume yang hilang
  • Menyamarkan kerutan
  • Membantu mengencangkan wajah secara bertahap

"Setelah tiga bulan, kulit akan naik, pigmentasi berkurang, smile line lebih tersamar, kulit di sekitar mata lebih naik, dan dagu pun naik sehingga jaw line lebih terlihat," kata dr. Catherine.

Telah Digunakan Secara Global Lebih dari 25 Tahun

PLLA-SCA dari Galderma disebut sebagai world's leading collagen stimulator yang telah digunakan oleh dokter estetika di berbagai negara selama lebih dari 25 tahun dan tersedia di Indonesia sejak Oktober tahun lalu.

"Obat yang usianya sudah lebih dari 10 tahun, keamanan dan efektivitasnya sudah teruji, karena kalau tidak, pasti sudah tidak produksi lagi," tutur dr. Catherine.

Perawatan dengan PLLA-SCA memerlukan beberapa sesi penyuntikan, dengan kebutuhan yang disesuaikan berdasarkan usia dan kondisi wajah masing-masing individu.

Hasil Bertahap dengan Efek Jangka Panjang

Karena bekerja dengan merangsang pembentukan kolagen alami, hasil PLLA-SCA tidak muncul secara instan.

Setelah disuntikkan, material PLLA-SCA akan terurai secara alami dan hilang sepenuhnya dari tubuh seiring waktu. Namun, kolagen baru yang terbentuk sebagai hasil stimulasi tersebut dapat bertahan hingga sekitar 25 bulan dan membantu mempertahankan kualitas serta struktur kulit dalam jangka panjang.

"Dia merangsang produksi kolagen, lalu hilang, jadi tidak perlu takut sama sekali," tegas dr. Catherine.

Ia menambahkan bahwa efek yang dihasilkan dapat bertahan hingga sekitar 25 bulan atau lebih dari dua tahun.

Selain pemilihan produk, dr. Catherine juga menekankan pentingnya memilih dokter dan klinik yang tepat untuk menjalani prosedur antiaging.

"Obatnya sudah bagus dan aman, tapi kalau yang menyuntik bukan ahli, berisiko terjadi berbagai efek samping. Penting sekali untuk memilih dokter dan klinik yang tepat," pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tempat Wisata Gratis di Jakarta Ternyata Mengerek Wisatawan di Musim Liburan Panjang
• 20 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Harga BBM per 1 Juni 2025, Banderol Solar Nonsubsidi Serempak Turun
• 21 jam lalumedcom.id
thumb
Banyak Drama, Unggahan Adik Sarwendah Diduga Sindir Ruben Onsu
• 4 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Kakorlantas: Skema One Way di Puncak Berdasarkan Data Traffic Counting
• 22 jam lalurctiplus.com
thumb
Israel Bahas RUU Larangan Azan, Imam Besar Al Aqsa: Berbahaya
• 5 jam lalucelebesmedia.id
Berhasil disimpan.