Kebakaran kembali melanda kawasan Kelurahan Kebon Kosong, Kemayoran, permukiman padat penduduk di Jakarta Pusat. Menyikapi kejadian berulang tersebut, Pemerintah Provinsi Jakarta telah berulang kali menawarkan relokasi kepada warga terdampak ke rumah susun, terlebih area yang terbakar sebenarnya lahan negara.
Pada Senin (1/6/2026) malam, kebakaran terjadi di kawasan Pasar Jiung, Jalan Kemayoran Gempol, Kelurahan Kebon Kosong, Kecamatan Kemayoran. Api yang diduga dipicu korsleting listrik itu dengan cepat merambat dan melahap permukiman semipermanen yang saling berimpitan.
Data sementara mencatat sekitar 304 bangunan terdampak. Sebanyak 354 kepala keluarga atau 679 jiwa harus mengungsi. Area terdampak mencakup dua rukun warga (RW), yakni RW 004 yang meliputi RT 012 hingga RT 016, serta RW 005 yang mencakup RT 001 hingga RT 003.
Sejumlah rumah semi permanen milik warga dan kios pasar ikut hangus dilalap api. Delapan warga dilaporkan mengalami luka-luka serta sesak napas akibat menghirup asap, dan telah mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan terdekat.
Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta menerima laporan kebakaran pukul 20.55 WIB dan mulai melakukan pemadaman pada 21.05 WIB. Sebanyak 35 unit mobil damkar dan 175 personel dikerahkan, sebelum api dinyatakan padam dan selesai proses pendinginan pada Selasa (2/6/2026) pukul 04.15 WIB.
Hingga Selasa siang, warga masih menyisir puing-puing bangunan untuk mencari sisa barang yang masih bisa diselamatkan. Namun sebagian besar rumah telah rata dengan tanah, menyisakan rangka bangunan hangus dan puing berserakan.
Sejumlah warga mengaku api menjalar sangat cepat sejak awal kejadian. Api sulit dikendalikan.
Lilis (46), warga yang rumahnya berada tak jauh dari titik awal api menceritakan dirinya sempat ikut membantu memadamkan api. Warga memanfaatkan peralatan seadanya sebelum kobaran membesar. Upaya mereka sayangnya tidak berhasil menahan laju api.
”Sudah disiram, tapi (api) malah makin besar. Cepat sekali merambatnya,” ujar Lilis.
Menurut Lilis, kondisi bangunan didominasi material kayu dan tripleks. Keberadaan kabel listrik juga malang melintang di sekitar lokasi. Semua itu membuat api cepat menjalar ke rumah-rumah lain yang berdempetan.
Kesaksian serupa disampaikan Radit (18), yang saat kejadian tengah bermain di depan rumah. Sambil mengais puing dan mencari kabel bekas terbakar untuk diambil tembaganya, ia menceritakan detik-detik awal kebakaran.
”Api berasal dari rumah yang digaris polisi itu, sekitar pukul 20.30 malam,” ujarnya sambil menunjuk arah rumah tersebut.
Awalnya, ia dan teman-temannya mengira asap yang muncul adalah sisa pembakaran biasa. Namun asap semakin tebal hingga warga mulai panik.
”Dikira apinya cuma kecil, jadi (pengurus) RT dan RW datang cuma bawa alat pemadam api ringan (APAR), pas didobrak pintunya, api langsung menyembur keluar,” lanjutnya.
Angin yang berembus cukup kencang ditambah material rumah warga yang mudah terbakar membuat api dengan cepat menyambar-nyambar sekitarnya. Api dengan cepat merambat ke rumah lain. Rumah Radit yang hanya berjarak sekitar tiga bangunan dari titik awal juga ikut terbakar. Ia yang tinggal bersama tujuh anggota keluarga hanya sempat menyelamatkan dokumen penting.
”Padahal rumah kami baru selesai direnovasi dua bulan yang lalu,” ujarnya.
Warga lainnya, Kotnawi (66), menyebut dirinya telah tinggal di kawasan itu sejak 1977. Diakuinya bahwa lahan yang ditempati warga merupakan aset pemerintah pusat. Warga setempat menyadari akan status tersebut.
”Istilahnya, kita numpang. Jadi sewaktu-waktu kalau pemerintah pakai, ya kita harus siap,” jelasnya.
Ia menambahkan, tidak ada sistem sewa antara warga dan pemerintah. Selain itu, tidak ada lahan yang berstatus milik pribadi di kawasan tersebut.
Dalam kebakaran yang terjadi pada Senin malam, Kotnawi kehilangan delapan rumah. Rumah-rumah tersebut terdiri dari tempat tinggalnya sendiri, rumah mertuanya, rumah adiknya, rumah anak-anaknya, serta beberapa unit yang disewakan sebagai kontrakan.
Sementara itu, warga lain, Ayu (30), mengaku trauma karena kebakaran di kawasan tersebut terjadi berulang. Ia masih mempertimbangkan apakah akan bertahan atau pindah.
”Masih bingung mau lanjut di sini atau pindah karena sudah lama tinggal di sini sama orangtua,” katanya.
Ia menyadari banyak warga enggan pindah karena faktor ekonomi, sejarah tempat tinggal, serta keterikatan sosial yang kuat.
Dalam tiga tahun terakhir, kawasan Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat, tercatat tercatat tiga kali dilanda kebakaran besar. Salah satunya terjadi pada Januari 2025, ketika api melahap permukiman di RT 001 hingga RT 011 RW 004, Jalan Kemayoran Gempol, Kelurahan Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat,
Dalam peristiwa yang terjadi pada dini hari tersebut, sebanyak 543 rumah permanen dan semi permanen hangus terbakar. Dampaknya, sekitar 1.797 warga atau 607 kepala keluarga harus kehilangan tempat tinggal. Dugaan sementara penyebab kebakaran adalah hubungan pendek arus listrik (korsleting).
Kebakaran Januari 2025 bukanlah kejadian pertama di Kebon Kosong. Sebulan sebelumnya, yakni pada 10 Desember 2024, kebakaran juga melanda kawasan Jalan Kemayoran Gempol di RT 003, 004, 005, 006, 007, 008, dan 009 RW 005, Kelurahan Kebon Kosong.
Peristiwa itu menghanguskan sekitar 200 rumah semipermanen dan berdampak pada sekitar 1.800 warga. Pascakebakaran, warga mengungsi ke tiga lokasi, yaitu SD Negeri Kebon Kosong 09, masjid, dan tanah lapang tak jauh dari lokasi kebakaran.
Kondisi kawasan yang padat, akses jalan yang sempit, serta instalasi listrik yang belum tertata rapi menjadi faktor yang membuat risiko kebakaran terus berulang.
Sebenarnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta telah beberapa kali menawarkan relokasi kepada warga terdampak kebakaran di Kemayoran ke rumah susun (rusun) sebagai alternatif hunian yang dinilai lebih aman dan layak huni.
Tawaran tersebut kembali disampaikan oleh Wakil Gubernur Jakarta, Rano Karno, saat meninjau langsung lokasi kebakaran pada Selasa (2/6/2026). Namun, banyak warga enggan pindah karena telah tinggal dan membangun kehidupan mereka di kawasan tersebut selama bertahun-tahun.
”Tadi saya ngobrol dengan beberapa warga. Saya tanya, 'nggak mau coba tinggal di rumah susun?' Mereka menjawab, 'Aduh, kita lahir di sini, bahkan ari-ari kita ditanam di sini',” kata Rano.
Menurut Rano, kedekatan emosional warga dengan kampung halamannya memang tidak mudah dipisahkan. Meski demikian, ia menilai rumah susun dapat menjadi pilihan yang lebih baik dibandingkan bertahan di kawasan permukiman padat.
Selain itu, kawasan yang terbakar diketahui berdiri di atas lahan milik Sekretariat Negara, sehingga penataan dan penyediaan hunian yang lebih aman menjadi salah satu opsi yang terus didorong pemerintah.
”Kami terus berupaya menyadarkan masyarakat. Tinggal di rumah susun bisa memberikan kondisi yang lebih baik dan lebih aman,” ujarnya.
Rano menyebut berdasarkan data sementara, kebakaran di lokasi itu berdampak pada 304 bangunan dan menyebabkan 354 kepala keluarga atau 679 jiwa terdampak. Dari jumlah tersebut, terdapat 326 laki-laki dan 353 perempuan. Sebanyak 90 di antaranya merupakan balita. Namun Rano memastikan tidak ada korban jiwa hingga saat ini.
Untuk memenuhi kebutuhan para penyintas, Pemprov Jakarta telah menyiapkan berbagai fasilitas di lokasi pengungsian yang berada di Lapangan Yusuf Hamka. Bantuan tersebut meliputi kebutuhan dasar hingga layanan kesehatan.
Rano juga memastikan siswa yang menjadi korban kebakaran tetap dapat mengikuti proses pendidikan. Pemprov Jakarta telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan agar anak-anak yang kehilangan buku, seragam, maupun perlengkapan sekolah dapat mengikuti ujian susulan.
Rano mengatakan tidak ada gedung sekolah yang terdampak dalam kebakaran tersebut. Namun, banyak siswa tidak dapat mengikuti ujian karena perlengkapan sekolah mereka hangus terbakar.
Selain menyediakan layanan pendidikan, Pemprov Jakarta juga membuka posko trauma healing untuk membantu pemulihan psikologis para korban, terutama anak-anak.
Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Jakarta juga turut disiagakan untuk membantu warga mengurus dokumen penting yang hilang atau terbakar dalam peristiwa tersebut.
Di sisi lain, Rano mengingatkan warga Jakarta agar rutin memeriksa dan memastikan instalasi listrik di rumah dalam kondisi aman. Sebab, korsleting listrik masih menjadi penyebab utama kebakaran di ibu kota.
”Yang harus pertama kali dijaga adalah listrik, karena di Jakarta ini hampir rata-rata kebakaran terjadi karena korsleting listrik. Itu berdasarkan survei kami hampir 95 persen,” ujarnya.
Rano juga menyoroti kebiasaan penggunaan listrik yang berlebihan di lingkungan permukiman padat. Menurut dia, tidak sedikit rumah yang menggunakan satu stopkontak untuk menyalurkan daya ke berbagai perangkat elektronik sekaligus, sehingga berpotensi memicu korsleting.
”Kadang-kadang dalam suatu rumah, ada satu stopkontak dicolok 10 charger handphone. Kemudian juga buat kompor dan segala macam, akibatnya menjadi panas,” tuturnya.
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta terus menyalurkan bantuan logistik bagi warga terdampak kebakaran di Kemayoran, Jakarta Pusat.
Kepala Pelaksana BPBD Jakarta Marulitua Sijabat mengatakan distribusi bantuan telah dilakukan sejak Senin malam. Bantuan masih terus berlangsung meliputi 330 paket sandang, 330 paket family kit, 330 paket bantuan anak, 620 kasur lipat, 620 bantal, 620 selimut, serta 10 lembar terpal. Untuk kebutuhan konsumsi, BPBD juga mendistribusikan 620 boks makanan siap saji, 200 dus air mineral, dan 330 kaleng biskuit.
Selain menyalurkan logistik, BPBD Jakarta turut mengerahkan personel ke lokasi untuk membantu penanganan dan kebutuhan para penyintas.
BPBD Jakarta bersama instansi terkait juga telah mendirikan sejumlah tenda pengungsian sebagai tempat tinggal sementara bagi warga terdampak. Jumlah tenda akan terus ditambah menyesuaikan kebutuhan di lapangan.
”Pendirian tenda sudah dilakukan. Saat ini akan ditambah lagi tendanya, menyesuaiakan kebutuhan,” ujarnya.
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) DKI Jakarta, Miftahudin menilai, kebakaran di kawasan Pasar Jiung, Kemayoran, menjadi pengingat bahwa kawasan padat penduduk yang beririsan dengan aktivitas pasar rakyat memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana kebakaran.
Menurut Miftahudin, Pasar Jiung bukan sekadar pusat perdagangan, melainkan kawasan yang tumbuh secara organik dengan perpaduan permukiman warga, kios burung, lapak semi permanen, hingga aktivitas pasar malam yang berlangsung hampir setiap hari.
”Karakter kawasan seperti ini memang memiliki risiko tinggi. Ada kepadatan hunian, aktivitas ekonomi rakyat yang intens, instalasi listrik yang saling bertumpuk, serta bangunan semi permanen yang berdiri berdempetan,” kata Miftahudin.
Di sisi lain, IKAPPI Jakarta mengapresiasi langkah cepat Pemprov Jakarta, petugas pemadam kebakaran, aparat keamanan, dan unsur terkait lainnya dalam menangani peristiwa tersebut.
Menurut Miftahudin, respons yang cepat sangat penting untuk mencegah api meluas di kawasan dengan tingkat kepadatan tinggi seperti Pasar Jiung.
”Situasi di sana berbeda dengan pasar permanen pada umumnya. Ini kawasan yang hidup dengan aktivitas masyarakat yang sangat padat, sehingga penanganannya harus cepat, tepat, dan terukur,” ujarnya.
Lebih lanjut, IKAPPI Jakarta meminta Pemprov Jakarta tidak hanya fokus pada proses pemadaman dan penanganan darurat, tetapi juga memastikan proses pemulihan bagi warga serta pedagang kecil yang terdampak dapat berjalan optimal.
”Banyak warga menggantungkan hidup dari kios, lapak malam, hingga usaha perdagangan skala kecil di kawasan itu. Karena itu, setelah masa tanggap darurat selesai, pemulihan ekonomi masyarakat harus menjadi perhatian utama,” tuturnya.





