HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Mahasiswa Program Studi Akuntansi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Ciputra Makassar melaksanakan kegiatan pendampingan UMKM bertajuk “Strategi Pengembangan Usaha Coffee Shop melalui Digitalisasi Pencatatan Keuangan dan Pengaturan Harga Pokok Penjualan (HPP)” pada Selasa, 2 Juni 2026. Kegiatan yang merupakan luaran tugas Action Learning Project (ALP) Mata Kuliah Cost Accounting ini dilaksanakan di Woodside Coffee, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Makassar.
Kegiatan tersebut bertujuan membantu pelaku usaha memahami pentingnya digitalisasi pencatatan keuangan serta perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP) yang akurat sebagai dasar pengambilan keputusan bisnis. Melalui pendampingan ini, mahasiswa memberikan edukasi mengenai pencatatan transaksi berbasis digital, pengelolaan biaya usaha, pengendalian biaya produksi, serta strategi penetapan harga yang mampu meningkatkan profitabilitas dan keberlanjutan usaha coffee shop.
Tim mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan ini terdiri atas Aidil Syukri, Ahmad Muzhakir, Naufal Zulwi, Vincent Kowolska, dan Hendra Palulun di bawah bimbingan Dosen Pengampu Mata Kuliah Cost Accounting, Dr. St. Salmah Sharon, SE., M.Si., Ak., CA., CSRS., CSRA.
Dalam sambutannya, Dr. St. Salmah Sharon menjelaskan bahwa penguasaan informasi biaya dan pengelolaan keuangan yang baik merupakan faktor penting dalam keberhasilan bisnis kuliner, termasuk coffee shop yang saat ini berkembang sangat pesat.
“Banyak pelaku usaha yang mampu menghasilkan produk berkualitas, namun belum didukung oleh sistem pencatatan keuangan yang memadai dan perhitungan biaya yang akurat. Digitalisasi pencatatan keuangan memungkinkan pelaku usaha memperoleh informasi keuangan secara real time, sedangkan perhitungan Harga Pokok Penjualan yang tepat menjadi dasar dalam menentukan harga jual yang kompetitif sekaligus menguntungkan. Kedua aspek ini sangat penting dalam meningkatkan efisiensi, profitabilitas, dan keberlanjutan usaha,” ungkap Dr. Salmah Sharon.
Beliau menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi pembelajaran berbasis praktik yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan ilmu Cost Accounting dalam menyelesaikan permasalahan nyata yang dihadapi UMKM.
Ketua tim mahasiswa, Aidil Syukri, menjelaskan bahwa hasil observasi menunjukkan pentingnya peningkatan literasi keuangan dalam mendukung pengembangan usaha coffee shop.
“Kami melihat bahwa digitalisasi pencatatan keuangan dapat membantu pelaku usaha memonitor arus kas, penjualan, dan biaya operasional secara lebih efektif sehingga proses pengambilan keputusan menjadi lebih cepat dan tepat,” ujarnya.
Ahmad Muzhakir menyoroti pentingnya perhitungan HPP sebagai instrumen pengendalian biaya.
“Perhitungan HPP yang akurat memungkinkan pelaku usaha mengetahui biaya riil setiap produk yang dijual sehingga harga yang ditetapkan mampu memberikan keuntungan yang optimal tanpa mengurangi daya saing di pasar,” jelas Ahmad.
Sementara itu, Naufal Zulwi menekankan bahwa pencatatan keuangan digital dapat meningkatkan efisiensi administrasi usaha.
“Dengan sistem pencatatan yang terorganisasi, pemilik usaha dapat mengurangi risiko kesalahan pencatatan sekaligus memperoleh laporan keuangan yang lebih mudah dipahami dan digunakan sebagai dasar evaluasi bisnis,” katanya.
Vincent Kowolska menjelaskan bahwa pengelolaan biaya yang baik berkontribusi terhadap peningkatan profitabilitas usaha.
“Efisiensi biaya bukan berarti menurunkan kualitas produk, tetapi mengoptimalkan penggunaan sumber daya yang tersedia sehingga usaha dapat menghasilkan nilai tambah yang lebih besar,” ungkap Vincent.
Senada dengan itu, Hendra Palulun menambahkan bahwa pemanfaatan teknologi digital menjadi kebutuhan penting bagi UMKM di era ekonomi digital saat ini.
“Transformasi digital dalam pencatatan keuangan akan membantu pelaku usaha menjadi lebih adaptif, profesional, dan siap menghadapi persaingan yang semakin kompetitif,” tuturnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa STIE Ciputra Makassar tidak hanya mengimplementasikan kompetensi akademik yang diperoleh di ruang kelas, tetapi juga berkontribusi dalam mendukung penguatan kapasitas UMKM sebagai salah satu penggerak utama perekonomian daerah.
Kegiatan pendampingan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi Woodside Coffee dalam mengembangkan sistem pengelolaan keuangan yang lebih modern, meningkatkan akurasi perhitungan biaya, serta memperkuat strategi bisnis yang berorientasi pada pertumbuhan dan keberlanjutan usaha di masa mendatang. (*)





