HARIAN. FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Ketua Perkumpulan Olahraga Domino Indonesia (Pordi) Sulawesi Selatan (Sulsel) Ilham Arief Sirajuddin (IAS) melantik pengurus PORDI Makassar periode 2026-2030.
Pelantikan digelar di Hotel MaxOne, Makassar, Selasa malam (2/6/2026) disaksikan oleh ratusan atlet domino se-Kota Makassar. IAS mengingatkan terkait tanggung jawab pembinaan terhadap atlet Domino.
“Selamat kepada semua pengurus yang baru saja dilantik. Pengurus bukan sekadar simbol dan gagah-gagahan, melainkan tanggung jawab dalam menakhodai seluruh atlet,” kata IAS.
IAS menaruh harapan besar dikepemimpinan Ketua Pordi Makassar, Dr Andi Amrullah Djaya melakukan pembinaan atlet dengan menjangkau seluruh pelosok Makassar.
“Jadikan Pordi Makassar pusat pembinaan atlet dan gardu agar dapat mengikuti setiap turnamen bergengsi,” harap IAS.
Pada kesempatan tersebut, IAS menyampaikan agenda-agenda yang tengah dijalankan Pordi Sulsel, di antaranya pelatihan atau training of trainers wasit profesional.
Ia mengatakan, wasit profesional pertandingan domino di Sulsel masih sangat terbatas. Padahal, tugasnya untuk mengawal turnamen dan memastikan para atlet menjunjung tinggi sportivitas.
“Kita lakukan ToT wasit. Wasit kita terbatas,” kata Wali Kota Makassar 2004-2014 ini. Pordi Sulsel kata IAS, juga sangat konsen dengan pembinaan gardu dan pencarian atlet berbakat.
Ia mengungkapkan, telah melakukan audiensi dengan Kapolda Sulsel untuk membentuk Poskamling di setiap rukun wilayah Sulawesi Selatan jadi gardu binaan Pordi.
Dalam sambutannya, Andi Amrullah Djaya menjelaskan perkembangan pembinaan atlet domino di Kota Makassar.
Ia mengatakan, bahwa saat ini Pordi Makassar telah membina sebanyak 1000-an atlet. Hal ini dapat dilihat dari jumlah kartu atlet yang telah dikeluarkan Pengurus Daerah (Pengda).
“Domino adalah satu olahraga yang dekat dengan masyarakat. Domino ini dimainkan mulai dari pejabat hingga anak muda di lorong-lorong,” kata mantan legislator Makassar ini.
Ia menegaskan, bahwa Pordi Makassar saat ini lebih ketat dalam pemberian izin perpindahan atlet dari satu keluarga domino unggul (Gardu) ke gardu lain.
Ini dilakukan untuk agar atlet lebih fokus pada pengembangan diri dan soliditas antar tandem alias partner.
“Kita harus menerima dikritik oleh partner kalau salah turun. Maka naluri saat menurunkan kartu itu harus terbangun dengan partner,” ujarnya. (nas)





