- Mengapa Presiden Prabowo disarankan mengurangi kunjungan ke luar negeri?
- Bagaimana gambaran frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo?
- Apa respons Istana terhadap saran Dino agar Presiden Prabowo mengurangi kunjungan luar negeri?
- Apa tujuan Presiden Prabowo mengunjungi sejumlah negara?
- Mengapa Presiden Prabowo menerapkan ”diplomasi bahasa” saat bertemu Presiden Perancis dan Brasil?
Presiden Prabowo Subianto disarankan mengurangi kunjungan kenegaraannya ke luar negeri. Sederet perjalanan itu dinilai memboroskan anggaran negara di tengah kondisi ekonomi warga yang serba sulit. Kegelisahan segenap masyarakat itu hendaknya ditanggapi secara serius terlepas dari berbagai kerja sama strategis yang dihasilkan perjalanan tersebut.
Saran itu diutarakan mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal dalam rekaman video berdurasi 7 menit yang diunggahnya pada akun Instagram-nya, @dinopattidjalal, Sabtu (30/5/2026). Hingga Minggu (31/5/2026) siang, video itu sudah disukai lebih dari 230.000 pengguna Instagram, diunggah ulang lebih dari 65.000 kali, dan menerima lebih dari 17.000 komentar.
Secara garis besar, isi video itu membahas tingginya intensitas kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo yang belakangan ini banyak dikomentari masyarakat luas.
”Sebagai sahabat lama Bapak, saya mewakil komunitas hubungan internasional dan banyak rakyat Indonesia mengimbau Presiden Prabowo untuk secara signifikan mengurangi perjalanan keluar negeri dan tidak menganggap remeh jeritan publik mengenai hal ini,” kata Dino dalam videonya.
Politik luar negeri ibarat panglima dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Tiga minggu setelah dilantik, Presiden sudah memulai rangkaian lawatan ke luar negeri. Selama dua pekan, ia berkeliling ke enam negara, mulai dari China, Amerika Serikat, Peru, Brasil, Inggris, hingga Uni Emirat Arab. Akhir Desember 2024, Prabowo pun kembali mengadakan kunjungan ke Mesir.
Memasuki 2025, lawatan luar negeri Presiden semakin intens. Sepanjang Januari-Desember 2025, ia mengadakan setidaknya 34 kunjungan ke 25 negara selama total 63 hari. Sejumlah negara yang dikunjungi tersebar hampir di seluruh benua di dunia. Ia berkunjung ke 13 negara di Asia, 7 negara di Eropa, 3 negara di Amerika, serta 1 negara di Afrika dan Australia.
Negara yang paling banyak dikunjungi oleh Prabowo adalah Malaysia (5). Selanjutnya, Prabowo dua kali mengunjungi Uni Emirat Arab, Mesir, Qatar, Singapura, dan Rusia. Adapun 19 negara lainnya dikunjungi satu kali.
Dari seluruh kunjungan, mayoritas dilakukan Prabowo untuk mengadakan pertemuan bilateral dan personal dengan kepala negara terkait. Mereka umumnya membahas penguatan hubungan kedua negara dan menandatangani kerja sama di berbagai bidang, mulai dari ekonomi hingga pertahanan. Dari serangkaian diplomasi itu, ada beberapa perjanjian kerja sama yang berhasil disepakati setelah bertahun-tahun tertahan sebelumnya, misalnya kerja sama strategis komprehensif dengan Uni Eropa (IEU-CEPA).
Istana merespons saran yang dilontarkan mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal menyoal rentetan kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto. Jawaban atas saran Dino itu disampaikan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dalam video berdurasi 6 menit 44 detik yang diunggah pada akun Instagram resmi milik Sekretaris Kabinet, yaitu @sekretaris.kabinet, Senin (1/6/2026) petang.
Hal yang disampaikan menyangkut persoalan anggaran, jadwal, dan frekuensi kunjungan Presiden Prabowo, berikut hasil dari lawatan luar negerinya. Hingga Selasa (2/6/2026) sekitar pukul 09.00 WIB, video itu telah disukai lebih dari 77.000 pengguna Instagram lainnya, menampung lebih dari 26.000 komentar, dan diteruskan lebih dari 11.000 kali.
Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kenegaraan perdana setelah dilantik pada 20 Oktober 2024 dengan menemui Presiden Xi Jinping di Beijing, China. Pertemuan itu diisi dengan pembicaraan seputar ekonomi dan geopolitik global. Langkah politik luar negeri ini diprediksi memperkuat relasi antara Indonesia dan China yang telah dibangun secara intens selama dua periode sebelumnya.
Presiden Prabowo tiba di Bandara Internasional Capital Beijing (BCIA), China, Jumat (8/11/2024) pukul 18.25 waktu setempat. Presiden didampingi sejumlah menteri Kabinet Merah Putih.
Sebelum terbang ke China, Presiden saat di Pangkalan Udara TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat pagi, mengatakan akan mengunjungi sejumlah negara untuk melakukan pertemuan bilateral dan multilateral. Dalam kunjungan tersebut, akan dibahas sejumlah masalah ekonomi dan geopolitik global.
Dalam kunjungan kenegaraan keempatnya ke Perancis untuk menemui Presiden Emmanuel Macron di Paris, Kamis (28/5/2026), Presiden Prabowo mengungkapkan bahwa dirinya telah menginstruksikan sekolah-sekolah di Indonesia agar mengajarkan bahasa Perancis. Penguasaan bahasa Perancis dinilai krusial karena negara itu juga diproyeksikan bakal menjadi kekuatan besar di tengah dunia yang kian multipolar.
Penekanan Prabowo pada penguasaan bahasa negara sahabat ini bukan yang pertama. Sebelumnya, ketika Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva berkunjung ke Istana Merdeka, Jakarta, akhir Oktober 2025, ia juga mengungkapkan arti penting penekanan Prabowo pada penguasaan bahasa tersebut.
Dalam pertemuan bilateral kala itu, Prabowo menegaskan bahwa Brasil merupakan mitra yang sangat penting bagi Indonesia. Untuk membuktikan keseriusan kerja sama kedua negara, Prabowo juga menyebut telah memutuskan agar bahasa Portugis diajarkan di sekolah-sekolah.





