Bekal Keterampilan untuk Kehidupan Baru Mantan Narapidana Terorisme

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Seorang instruktur menjelaskan prinsip dasar kerja penyejuk ruangan (AC) di depan kelas. Puluhan pria dewasa menyimak materi itu dengan saksama. Di antara para peserta pelatihan tersebut, ada yang mencatat, ada pula yang mengecek modul yang disediakan.

Demikian suasana hari pertama pelatihan teknisi AC yang diadakan Densus 88 dan Astra International di Kota Padang, Sumatera Barat, Selasa (2/6/2026). Pelatihan diikuti 29 mantan narapidana terorisme (eks napiter) dari Sumbar, Sumatera Utara, Jambi, dan Riau.  

”Saya antusias ikut pelatihan ini. Berharap dengan skill yang didapat, saya bisa bangun usaha servis AC,” kata Novendri (48), peserta asal Padang, di sela-sela pelatihan di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Padang, Selasa siang.  

Kesulitan ekonomi kerap menghantui eks napiter saat kembali berbaur di tengah masyarakat. Upaya melanjutkan usaha lama ataupun mendapatkan pekerjaan baru tak selalu berjalan mulus. Pelatihan keterampilan praktis diharapkan dapat jadi pembuka jalan.

Situasi tersebut diakui oleh Novendri. Ia sudah empat tahun lepas dari masa hukuman, tetapi belum mendapat pekerjaan yang stabil. Berbagai pekerjaan dilakoni, mulai dari mengojek, berdagang, hingga kini jadi relawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Saat kembali ke masyarakat, Novendri juga sempat kembali ke usaha awalnya berdagang garam pakai becak keliling. Namun, karena daya beli masyarakat rendah, usaha itu tak lagi menjanjikan seperti sebelum ia terjaring Densus 88 pada 2019. 

Maka, menyerap ilmu sebanyak-banyak dari pelatihan teknisi AC jadi ikhtiar agar bisa jadi teknisi andal sehingga mendapat tambahan penghasilan. ”Keterampilan ini sangat saya butuhkan,” kata ayah empat anak ini.

Baca JugaDua Perpres Terkait Terorisme dan Daya Tahan di Era Siber

Muhammad Rofik (39), asal Jambi, juga tak kalah antusias mengikuti pelatihan. Baginya, kegiatan ini merupakan wadah menambah ilmu, keterampilan usaha, sekaligus upaya agar bermanfaat untuk masyarakat.

”Saya ikut pelatihan ini supaya punya usaha mandiri. Seandainya ini berhasil, saya ingin rekrut orang sehingga bermanfaat untuk masyarakat,” kata Rofik yang menjalani reintegrasi ke masyarakat sejak Mei 2025.

Rofik menyebut, sejatinya penerimaan masyarakat saat ia kembali sangat baik. Apalagi, Densus 88 dan aparatur desa membantu menjembataninya untuk berbaur dengan masyarakat. Walakin, untuk urusan mata pencaharian, memang tidak mudah.

Menurut Rofik, salah satu faktor eks napiter kesulitan dapat pekerjaan adalah kebingungan hendak melakukan apa setelah bebas. Hingga kini, ia bekerja serabutan mulai dari pengemudi ojek daring hingga penjual bakso tusuk untuk menafkahi keluarga.

Sejatinya, pekerjaan awal Rofik sebagai pedagang kerupuk relatif menjanjikan. Omzetnya mencapai Rp 350.000 per hari. Namun, ia tak mau kembali ke usaha yang dilanjutkan oleh temannya itu. ”Saya tidak ingin mengganggu rezeki teman,” katanya.

Rofik pun kini mulai merintis usaha sebagai teknisi elektronik, termasuk servis AC yang ia pelajari di pelatihan. ”Semoga ini jadi wasilah agar saya bisa bermanfaat,” ujarnya.

Baca JugaSeribu Akal demi Bekal Anak Napiter

Kepala Satuan Tugas Wilayah Sumbar Densus 88 Ajun Komisaris Besar Jim Brilliant Birnes mengatakan, pelatihan teknis AC merupakan salah satu kegiatan dalam program reintegrasi sosial eks napiter. Kegiatan ini berkolaborasi dengan Astra International dan BBPPKS Padang.

Menurut Jim, konsep penanggulangan terorisme di Indonesia tidak hanya bicara penegakan hukum, tetapi juga bagaimana memulihkan dan mengintegrasikan kembali eks napiter ke masyarakat. Mereka tetap didampingi hingga bisa mandiri.

Jim mengakui, eks napiter memang sering kali sulit mendapat kesempatan saat kembali ke masyarakat, terutama dari sisi ekonomi. Oleh sebab itu, negara pun mengambil peran, salah satunya dengan membekali eks napiter keterampilan praktis melalui pelatihan.

”Kami harapkan ini jadi keterampilan profesional ke depannya dan bermanfaat bagi mereka secara pribadi ataupun bagi kehidupan keluarga dan masyarakat,” kata Jim di sela-sela acara pembukaan pelatihan. 

Pelatihan teknisi AC pun menjadi pilihan karena peluang dari jasa servis penyejuk ruangan terbuka lebar. Keterampilan yang didapat peserta dalam pelatihan dapat langsung terpakai di tengah masyarakat sebagaimana pengalaman peserta-peserta sebelumnya.

Baca JugaSenjata Tidak Mematikan Ideologi: Catatan Seorang Mantan Teroris

Jim menambahkan, pelatihan teknisi AC ini diikuti oleh 29 peserta, yaitu 14 orang dari Satgas Wilayah Sumbar, 10 orang dari Satgas Wilayah Sumut, 4 orang dari Satgas Wilayah Jambi, dan 1 orang dari Satgas Wilayah Riau.

Strategic Business Intelligence Department Head PT Astra Internasional Jaka Fernando Arisandi mengatakan, pelatihan teknisi AC di Padang ini merupakan angkatan ketujuh. Sebelumnya, bersama Densus 88, Astra juga menggelar pelatihan serupa sejak 2023 di Surakarta, Jakarta, Bogor, Makassar, Palembang, dan Banten.

Jaka menyebut, total peserta pelatihan pada tujuh angkatan itu hampir mencapai 300 orang. Sejauh ini, hasil pelatihan relatif membanggakan karena sebagian besar lulusan mendapat manfaat dari keterampilan yang diajarkan.

”Setelah pelatihan, banyak laporan kami terima dari peserta pelatihan bahwa mereka bisa menghidupi keluarga lebih baik lagi melalui skill yang didapat dalam pelatihan. Rata-rata tambahan pendapatan para peserta (sebagai teknisi AC) berkisar Rp 2 juta-Rp 3,5 juta per bulan,” kata Jaka.

Menurut Jaka, para eks napiter mendapatkan pelatihan teknisi AC selama lima hari dari instruktur profesional. Dalam pelatihan, mereka tidak hanya diajarkan hard skills, tetapi juga soft skills.

Kami harapkan ini jadi keterampilan profesional ke depannya dan bermanfaat bagi mereka secara pribadi ataupun bagi kehidupan keluarga dan masyarakat.

Dari sisi hard skills, peserta diajarkan sistem manajemen bisnis AC ini, mulai dari pemasangan AC baru, servis, penggantian suku cadang, dan lainnya. Dari sisi soft skills, peserta dibekali dengan keterampilan mengelola keuangan hingga mentalitas dasar untuk jadi pebisnis.

”Dari sisi hardware-nya, kami juga bekali mereka dengan alat-alat yang dibutuhkan di lapangan. (Pelatihan ini) one stop solution untuk seseorang menjadi teknisi AC profesional,” katanya.

Zulkhadri Hasan (40), eks napiter lulusan pelatihan teknisi AC di Palembang pada Juni 2025, mengatakan, hasil pelatihan yang ia ikuti berdampak signifikan. Ia kini terus mengembangkan usaha servis AC di Padang bersama dua temannya. 

”Alhamdulillah usaha ini sangat menunjang perekenomian keluarga,” kata Zulkhadri yang menggeluti usaha servis AC di sela-sela pekerjaannya sebagai kontraktor bangunan.

Selain mendapatkan keterampilan, ayah empat anak itu menyebut, lulusan pelatihan tidak dilepas begitu saja. Untuk memulai, mereka dimodali satu set perlengkapan servis AC per tim.

Para lulusan juga tergabung dalam grup sehingga dapat berkonsultasi langsung dengan instruktur. ”Ketika hadapi konsumen di lapangan, kami bisa tanya langsung, apa rusaknya, solusi, dan berapa biaya jasanya,” kata Zulkhadri yang kini jadi asisten instruktur dalam pelatihan di Padang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo Instruksikan Bahasa Prancis Masuk Kurikulum, Anggota DPR Pertanyakan Jumlah Tenaga Pengajar
• 6 jam lalukompas.tv
thumb
Ibadah Intelektual di Era AI
• 4 jam lalurepublika.co.id
thumb
Keseruan kumparan Hangout, Eksplor Sudut Bersejarah Manggarai!
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
INFOGRAFIK: Badan Ekspor di Tengah Gejolak Harga Sawit
• 6 jam lalukatadata.co.id
thumb
Pemkot Jaktim amankan dua pengemis bergaya pocong
• 17 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.