Bisnis.com, JAKARTA — Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Rabu (3/6/2026) seiring dengan sikap pelaku pasar yang mencermati ketidakpastian negosiasi Amerika Serikat dan Iran di tengah aksi saling serang yang kembali terjadi antara kedua pihak.
Melansir CNBC International, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Juli naik lebih dari 1% menjadi US$94,81 per barel. Sementara itu, harga minyak jenis Brent untuk kontrak Agustus menguat 0,88% ke level US$96,84 per barel.
Komando Pusat Amerika Serikat (U.S. Central Command/CENTCOM) pada Selasa menyatakan telah menggagalkan sejumlah serangan rudal balistik dan drone Iran. Militer AS juga melancarkan serangan balasan yang disebut sebagai langkah pertahanan setelah adanya upaya serangan dari Iran, menandai meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Perkembangan tersebut terjadi setelah Presiden AS Donald Trump dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa Washington masih menjalin komunikasi dengan Iran guna mencapai kesepakatan yang dapat menghentikan konflik. Pernyataan itu membantah laporan sejumlah media Iran yang menyebut jalur komunikasi kedua negara telah terputus.
Rubio juga mengatakan kepada Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS bahwa dalam pembahasan tersebut terdapat kemungkinan Iran bersedia bernegosiasi terkait beberapa aspek program nuklirnya.
Pernyataan tersebut bertolak belakang dengan laporan Kantor Berita Fars pada Selasa (2/6/2026) waktu setempat yang menyebut Teheran dan Washington tidak saling bertukar pesan selama beberapa hari terakhir.
Baca Juga
- Harga Minyak Global Terkoreksi, Pasar Tunggu Kepastian Negosiasi AS-Iran
- Bank Dunia Prediksi Harga Minyak Tetap Panas Meski Gangguan Pasokan Mereda
- Harga Minyak Melonjak di Tengah Kebuntuan Perundingan AS-Iran
Sebelumnya, media Tasnim melaporkan bahwa negosiator Iran akan menghentikan komunikasi tidak langsung dengan AS dan berupaya menutup sepenuhnya Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak mentah dunia.
"Berita palsu yang menyebut Republik Islam Iran dan Amerika Serikat telah berhenti berbicara beberapa hari lalu adalah tidak benar dan keliru," tulis Trump melalui unggahan di Truth Social pada Selasa sore waktu setempat.
Di sisi lain, analis Fitch Group menilai perang antara AS dan Iran telah memicu gangguan besar pada sektor minyak dan gas Timur Tengah. Dampaknya meliputi anjloknya ekspor, penghentian produksi, serta serangan berulang terhadap infrastruktur energi yang menyebabkan kerugian hingga miliaran dolar AS dan memperpanjang proses pemulihan.
"Berdasarkan analisis kami terhadap gangguan produksi akibat konflik, waktu perbaikan aset yang rusak, serta pemulihan lapangan yang ditutup, kami menilai Qatar, Bahrain, dan Irak menjadi negara yang paling terdampak oleh konflik ini," tulis Fitch Group.





