Sisa-sisa kebakaran di RW 004 Kelurahan Jembatan Besi, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Kebakaran menghanguskan sekitar 175 rumah di kawasan permukiman padat dan membuat 300 keluarga mengungsi, 27 September 2015. KOMPAS/RADITYA HELABUMI
Warga korban kebakaran di pemukiman padat di Kampung Kayu Putih Pedongkelan, Pulogadung Jakarta Timur, 6 Juli 2002. KOMPAS/LASTI KURNIA
Warga berusaha memadamkan api yang membakar rumah-rumah warga di Jembatan Besi, Tambora , Jakarta Barat. Kebakaran yang terjadi lebih dari 2,5 jam tersebut menghabiskan ratusan rumah warga, 10 Desember 2009. KOMPAS/WISNU WIDIANTORO
Kebakaran yang melanda kawasan permukiman padat di Jakarta terus berulang. Peristiwa terbaru terjadi di kawasan permukiman padat penduduk Kampung Pasar Haji Ung, Jalan Kemayoran Gempol, Kelurahan Kebon Kosong, Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat. Api yang mulai berkobar sejak Senin (1/6/2026) malam baru dapat dipadamkan setelah penanganan lebih dari tujuh jam.
Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta menyatakan, pemadaman dan pendinginan selesai pada Selasa (2/6/2026) pukul 04.15 WIB. Sebanyak 240 rumah semipermanen hangus terbakar. Tiga warga terluka dalam peristiwa tersebut.
Dalam catatan arsip Kompas, kebakaran di kawasan permukiman padat Ibu Kota sudah mewarnai pemberitaan harian ini sejak 1965. Pada terbitan 27 Oktober 1965, kebakaran di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat, menjadi salah satu berita yang menghiasi halaman pertama Kompas. Peristiwa itu menghanguskan 250 rumah dan membuat sekitar 1.000 orang kehilangan tempat tinggal.
Kemudian, pada 4 September 1970, kebakaran besar melanda permukiman di Galur, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Dalam insiden itu, 220 rumah hangus terbakar dan lebih dari 3.000 jiwa kehilangan tempat tinggal.
Setahun berselang, kebakaran besar melanda kawasan Tanah Sereal, Tambora, Jakarta Barat. Insiden saat itu merupakan yang terbesar dalam kurun waktu satu tahun saat itu.
Rumah-rumah warga di empat RW dengan cakupan luas sekitar 5 hektar musnah dilalap api pada 11 Oktober 1971. Sebanyak 1.600 keluarga atau sekitar 7.900 jiwa kehilangan tempat tinggal. Kebakaran ini juga menghanguskan rumah empat anggota dinas pemadam kebakaran yang bermukim di kawasan tersebut.
Meskipun tidak merenggut korban jiwa, sedikitnya lima warga dan tiga petugas pemadam kebakaran pingsan. Sementara itu, 15 orang lainnya luka-luka. Saat itu, dinas pemadam kebakaran mengerahkan 23 mobil pemadam. Hampir semua armada dikerahkan karena saat itu dinas pemadam kebakaran baru memiliki total 33 unit mobil.
Sekitar empat puluh rumah di Kampung Rawa Bebek, Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara, habis terbakar, 28 Juni 1984. KOMPAS/JB SURATNO
Sekitar empat puluh rumah di Kampung Rawa Bebek, Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara, habis terbakar, 28 Juni 1984. KOMPAS/JB SURATNO
Petugas pemadam kebakaran berusaha memadamkan kobaran api dari atap rumah yang selamat dari amukan api di Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, 8 Oktober 1991. KOMPAS/JULIAN SIHOMBING
Warga mencoba memadamkan api dengan alat seadanya serta menyelamatkan barang-barang miliknya di gang-gang yang ada di kawasan Angke, Jakarta Barat, 21 November 1987. KOMPAS/JULIAN SIHOMBING
Salah satu kebakaran yang merenggut korban jiwa terjadi di kawasan Kalibaru, Jakarta Utara, pada 30 Juni 1980. Api yang berasal dari jatuhnya lampu teplok di salah satu rumah warga dengan cepat menjilat dinding bambu. Embusan angin laut yang kencang membuat api lekas merembet ke rumah-rumah lain. Tiga orang tewas dan 560 rumah hangus terbakar.
Sebagai ibu kota, Jakarta selalu menjadi daya tarik besar bagi warga daerah yang mencari pekerjaan. Pertambahan penduduk ini diikuti dengan munculnya permukiman-permukiman padat di sejumlah wilayah. Tidak dimungkiri bahwa permukiman padat di Jakarta kemudian menjadi wilayah yang sangat rawan kebakaran.
Kondisi yang padat tidak memberi ruang gerak cukup bagi upaya pemadaman karena akses gang amat sempit. Sempitnya jalan juga menyulitkan evakuasi korban luka. Ditambah lagi, di permukiman tersebut terdapat banyak bangunan semipermanen berbahan mudah terbakar.
Kawasan permukiman padat di RW 03 dan RW 04 Kelurahan Tanah Tinggi, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat, yang pernah terbakar dua tahun sebelumnya, kembali terbakar pada 20 Agustus 1993. KOMPAS/JULIAN SIHOMBING
Kebakaran di Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, 2 Juli 1984. KOMPAS/GUNAWAN SETIADI
Api yang berkobar tiga setengah jam menghanguskan ratusan rumah di pemukiman padat penduduk di Rw 02 Kelurahan Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, 9 September 1991. KOMPAS/BARNABAS SUDARTO
Hubungan pendek arus listrik atau korsleting menjadi dugaan penyebab kebakaran tertinggi di Jakarta. Faktor pemicu lainnya adalah gas, tumpukan sampah, dan puntung rokok. Dari 2.286 peristiwa kebakaran pada 2023, korsleting menjadi faktor utama (Kompas.id, 15 Agustus 2024). Sepanjang 2023, tercatat ada 1.216 insiden kebakaran akibat korsleting.
Mengurangi risiko kebakaran bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Pada 2024, Dinas Gulkarmat DKI Jakarta telah membentuk satuan tugas di 267 kelurahan yang berperan menyosialisasikan dan melatih warga mengenai sarana prasarana kebakaran. Salah satu edukasinya adalah penggunaan alat pemadam api ringan (APAR).
Kesadaran dan keterlibatan masyarakat untuk memahami mitigasi risiko amat diperlukan agar tragedi kebakaran di permukiman tidak terus berulang dan mengancam nyawa warga Jakarta.
Serial Artikel
Arsip Foto ”Kompas” : Saat Dua KRL Beradu Muka di Pelintasan Tunggal
KRL 531 dari arah Bogor bertabrakan dengan KRL 520 dari arah Jakarta di Desa Ratujaya, Depok, 1993. Tragedi itu mendorong percepatan pembangunan jalur ganda.





