Bisnis.com, JAKARTA – Momentum Hari Raya Iduladha yang identik dengan peningkatan konsumsi protein hewani dinilai tidak akan mengurangi prospek industri perunggasan nasional. Justru setelah periode tersebut, sektor poultry diperkirakan masih memiliki ruang pertumbuhan yang menarik hingga paruh kedua 2026.
Senior Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji menilai sejumlah faktor fundamental masih akan menjadi penopang kinerja industri unggas, mulai dari pemulihan daya beli masyarakat, perbaikan keseimbangan pasokan, hingga berbagai momentum konsumsi yang berpotensi mendorong permintaan daging ayam.
"Sektor poultry masih memiliki prospek yang cukup baik. Konsumsi protein hewani masyarakat terus meningkat dan daging ayam tetap menjadi pilihan utama karena harganya lebih terjangkau dibandingkan sumber protein lainnya," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (2/6/2026).
Di sisi pasokan, industri perunggasan saat ini dinilai berada dalam kondisi yang relatif lebih sehat dibandingkan beberapa tahun terakhir. Kebijakan pengendalian populasi serta penyesuaian kuota impor grand parent stock (GPS) dan parent stock (PS) dinilai membantu menjaga keseimbangan pasokan day old chick (DOC) maupun live bird di pasar.
Kondisi tersebut berpotensi menjaga harga jual di tingkat peternak tetap stabil sehingga memberikan ruang perbaikan margin bagi pelaku usaha unggas terintegrasi.
Pemerintah Indonesia menetapkan kuota impor GPS ayam ras sebesar 800.000 ekor untuk memenuhi kebutuhan protein dan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dari total tersebut, 580.000 ekor didatangkan khusus dari Amerika Serikat melalui kesepakatan Agreement on Reciprocal Trade (Art).
Baca Juga
- Emiten Unggas Sreeya Sewu (SIPD) Atur Strategi Pertumbuhan 2026
- Duo Emiten Unggas Trengginas
- Outlook Raksasa Unggas CPIN-JPFA di 2026 Usai Laba Tumbuh Dua Digit
Program MBG yang mendorong peningkatan konsumsi protein hewani juga diperkirakan akan memberikan dampak positif terhadap permintaan produk unggas dalam jangka menengah. Dengan harga yang relatif lebih ekonomis, daging ayam dinilai menjadi salah satu komoditas yang paling diuntungkan dari peningkatan konsumsi masyarakat.
Memasuki semester II/2026, pelaku industri juga menaruh harapan pada sejumlah momentum musiman, seperti libur sekolah, perayaan Natal, hingga Tahun Baru yang secara historis mampu mendorong konsumsi makanan dan minuman, termasuk produk berbasis ayam.
Meski demikian, sejumlah tantangan masih perlu dicermati. Pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi meningkatkan biaya produksi karena sebagian bahan baku pakan ternak masih bergantung pada komponen impor.
Selain itu, harga jagung domestik menjadi faktor yang akan menentukan kinerja industri ke depan. Kenaikan harga jagung akibat faktor cuaca atau gangguan pasokan dapat menekan biaya produksi perusahaan poultry.
Untuk saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN), Nafan memberikan rekomendasi Add dengan target harga Rp5.150 per saham. Sementara itu, saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) direkomendasikan Accumulative Buy dengan target harga Rp3.170 per saham.
Penguatan Ekosistem
Penguatan ekosistem peternakan regional juga mulai menjadi sentimen positif baru bagi industri ke depan. Program Asia Mega Qurban 2026 yang digagas Aliyah Rizq Holdings Pte Ltd melalui anak usahanya, Aliyah Rizq Farm Sdn Bhd. Akan menjangkau Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura yang membangun sistem qurban dan peternakan yang lebih modern, terintegrasi, dan berkelanjutan di kawasan Asean.
Menurut Chief Executive Officer Aliyah Rizq Holdings Pte Ltd, Dato’ Seri Ashraf Bakar hal ini membuka peluang pembentukan rantai pasok regional yang lebih terstruktur guna mendukung kebutuhan qurban berskala besar pada masa mendatang.
Langkah tersebut dinilai dapat menciptakan peluang baru bagi peternak lokal untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperluas akses pasar di kawasan Asean. Dalam jangka panjang, pengembangan ekosistem qurban lintas negara juga berpotensi mendorong investasi, modernisasi peternakan, serta peningkatan standar operasional industri.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





