Bisnis.com, JAKARTA — Memasuki pertengahan 2026, perjalanan wisatawan domestik di dalam dan ke luar negeri cenderung lesu imbas rentetan dampak gejolak geopolitik global dan pelemahan daya beli. Saat perjalanan domestik dan outbound melemah, sektor pariwisata Tanah Air justru ditopang oleh kenaikan kunjungan wisatawan mancanegara.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) pada April 2026 mencapai 97,55 juta perjalanan. Angka tersebut turun 22,79% dibandingkan Maret 2026 (mtm) dan merosot 24,14% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (yoy).
Penurunan juga terjadi pada perjalanan wisatawan nasional (wisnas) alias warga Indonesia yang bepergian ke luar negeri. Pada bulan keempat tahun ini, jumlah perjalanan wisnas tercatat sebanyak 644.000 perjalanan, turun 18,85% secara bulanan dan anjlok 30,54% secara tahunan.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini menjelaskan pelemahan terjadi pada kedua indikator tersebut. Meski demikian, perjalanan wisnus masih menunjukkan pertumbuhan secara kumulatif.
Sepanjang Januari–April 2026, jumlah perjalanan wisnus mencapai 417,06 juta perjalanan atau meningkat 1,48% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Capaian kunjungan wisnus Januari hingga April 2026 ini merupakan capaian tertinggi sejak tahun 2021,” kata Pudji dalam rilis berita resmi statistik, Selasa (2/6/2026).
Baca Juga
- Kunjungan Turis Asing Januari-April 2026 Capai 4,68 Juta, Tertinggi Sejak 2020
- Jumlah Warga RI Pelesiran Anjlok pada April 2026, Begini Data BPS
- 794.733 Warga RI Pelesiran ke Luar Negeri pada November 2025, Malaysia jadi Tujuan Utama
Sementara itu, kunjungan wisman justru bergerak positif. BPS mencatat jumlah kunjungan wisman pada April 2026 mencapai 1,25 juta kunjungan, naik 14,75% dibandingkan bulan sebelumnya dan meningkat 7,22% dibandingkan April 2025.
Secara kumulatif, kunjungan wisman mencapai 4,68 juta pada 4 bulan pertama tahun ini, tumbuh 8,24%. Capaian ini juga disebut sebagai yang tertinggi sejak 2020.
Kondisi ini diakui oleh pelaku industri pariwisata sebagai bagian dari dinamika pasar yang tengah terjadi. Mobilitas wisata warga Indonesia cenderung melemah, sementara daya tarik destinasi dalam negeri bagi wisatawan mancanegara relatif masih terjaga.
Sekretaris Jenderal Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Budijanto Ardiansjah menilai penurunan perjalanan warga Indonesia ke luar negeri tidak terlepas dari tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
Dia menyoroti pertimbangan keamanan dan biaya perjalanan yang kian membengkak sebagai faktor pemicu sebagian masyarakat Tanah Air untuk menunda rencana bepergian ke luar negeri.
“Melonjaknya harga dolar dan situasi geopolitik di Timur Tengah memang menyebabkan penurunan jumlah wisatawan yang melancong ke luar negeri dengan alasan faktor keamanan dan harga yang semakin mahal,” kata Budijanto kepada Bisnis.
Sementara itu, dia memandang pergerakan wisata domestik pada awal tahun masih terbantu oleh momentum liburan hari besar keagamaan nasional (HBKN). Budijanto menilai kenaikan kumulatif perjalanan wisnus sepanjang Januari–April 2026 lebih banyak dipengaruhi pergeseran momentum libur Idulfitri ke kuartal I/2026, serta banyaknya hari libur nasional dan cuti bersama.
Kendati demikian, dia menilai tantangan bagi wisatawan domestik masih cukup besar. Salah satu faktor utama berasal dari biaya penerbangan yang belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.
Budijanto mengatakan, kenaikan harga avtur membuat ruang penurunan tarif tiket pesawat domestik menjadi semakin terbatas. Padahal, biaya transportasi udara masih menjadi komponen terbesar dalam pengeluaran wisatawan domestik.
“Dengan kenaikan avtur saat ini kelihatannya agak sulit mengharapkan turunnya harga tiket pesawat domestik yang merupakan komponen utama perjalanan wisata dalam negeri,” tegasnya.
Demi menjaga permintaan perjalanan pariwisata, dia menyebut, pelaku industri mulai mengubah strategi pemasaran. Sejumlah biro perjalanan mulai menawarkan konsep paket pariwisata yang bersifat free and easy, memanfaatkan transportasi darat, serta melakukan penyesuaian komponen perjalanan lainnya.
Menurut Budijanto, langkah ini ditempuh agar harga paket wisata tetap terjangkau di tengah tekanan daya beli masyarakat saat ini.
Dari kacamata akademisi, Pengamat Pariwisata Chusmeru memandang bahwa penurunan wisnus dan wisnas pada April 2026 disebabkan normalisasi pascalibur panjang lebaran di bulan Maret. Pasalnya, biaya dan waktu wisatawan cenderung dialokasikan pada periode tersebut.
Selain itu, dia juga menyoroti penurunan daya beli masyarakat pascalebaran lantaran kenaikan harga-harga komoditas dalam negeri. Hal ini tak terlepas dari penguatan dolar terhadap rupiah yang memicu wisata berbiaya tinggi.
“Tiket pesawat yang teramat mahal membuat wisata antarkota besar dan antarpulau menjadi membengkak biayanya. Wisatawan masih harus mengeluarkan biaya untuk akomodasi, objek wisata, dan kuliner,” terang Chusmeru kepada Bisnis.
Sebagai konsekuensi, dia mencermati adanya perubahan pola perilaku berwisata ke arah micro-tourism. Wisatawan disebutnya memilih bepergian ke objek wisata terdekat dengan biaya murah sehingga berdampak pada penurunan mobilitas wisatawan antarkota dan antarpulau.
Oleh karena itu, dia menilai bahwa pemerintah perlu mengendalikan nilai rupiah dan harga komoditas dalam negeri sehingga daya beli masyarakat meningkat. Penurunan harga tiket pesawat hingga penyelenggaraan event berskala nasional dan internasional juga dinilai dapat menjadi opsi untuk memicu daya tarik berwisata.
Selain itu, Chusmeru menilai pelaku industri pariwisata perlu menerapkan variasi strategi pemasaran dengan menerapkan diskon produk wisata, serta menjaga dan meningkatkan kualitas pelayanan. Inovasi dan diversifikasi produk wisata dinilai penting agar tidak menimbulkan kejenuhan pada wisatawan.
Target PemerintahDi tengah perlambatan pergerakan wisatawan nusantara dan wisatawan nasional tersebut, pemerintah tetap mempertahankan sejumlah target ambisius sektor pariwisata pada 2026.
Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa mengatakan, pemerintah menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 16 juta hingga 17,6 juta kunjungan sepanjang tahun ini. Selain itu, pemerintah juga membidik pergerakan wisatawan nusantara sebanyak 1,18 miliar perjalanan.
Target lainnya mencakup devisa pariwisata sebesar US$22 miliar hingga US$24,7 miliar serta kontribusi sektor pariwisata terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 4,6% hingga 4,7%. Menurut Ni Luh, capaian tersebut memiliki dampak ekonomi yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar angka statistik.
“Capaian tersebut bukan sekadar angka statistik, melainkan representasi dari terbukanya lapangan kerja bagi jutaan masyarakat, tumbuhnya ekonomi daerah, serta meningkatnya kebanggaan nasional terhadap sektor pariwisata Indonesia,” katanya usai Rakornas Pariwisata 2026 di Jakarta, Kamis (21/5/2026) lalu.
Dia menilai percepatan implementasi Undang-Undang (UU) Kepariwisataan dan kerangka Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional (Ripparnas) perlu segera dilakukan untuk memperkuat fondasi pertumbuhan sektor tersebut. Dia juga meminta pemerintah daerah dan pelaku industri memperkuat kolaborasi guna menjaga momentum pertumbuhan pariwisata nasional.





