EtIndonesia.com Industri layanan antar makanan dan transportasi daring (ride-hailing) di Tiongkok pernah dianggap sebagai “jalan keluar terakhir” bagi mereka yang kehilangan pekerjaan. Namun, seiring berlanjutnya perlambatan ekonomi, semakin banyak pengangguran memasuki sektor-sektor yang memiliki hambatan masuk rendah ini, sehingga pasokan tenaga kerja jauh melebihi permintaan.
Data menunjukkan bahwa tingkat kelebihan tenaga kerja kurir makanan di Tiongkok mencapai 80%, sementara kapasitas berlebih di sektor ride-hailing telah melampaui 60%.
Di Beijing, banyak kurir makanan berkumpul sambil terus-menerus menyegarkan aplikasi di ponsel mereka, tetapi tetap kesulitan mendapatkan pesanan. Kondisi ini kini menjadi masalah umum yang dihadapi para kurir di seluruh Tiongkok.
Menurut statistik industri, jumlah kurir makanan di Tiongkok saat ini mendekati 20 juta orang. Namun, berdasarkan rata-rata sekitar 110 juta pesanan per hari secara nasional, sebenarnya hanya diperlukan sekitar 4 juta kurir untuk menyelesaikan seluruh pengiriman.
Dengan kata lain, terdapat sekitar 16 juta pekerja berlebih, atau tingkat kelebihan tenaga kerja mencapai 80%.
Seorang kurir mengatakan:”Satu pesanan hanya bernilai tiga atau empat yuan. Ketika ada satu pesanan muncul, puluhan bahkan ratusan orang berebut untuk mendapatkannya.”
Akibat persaingan yang sangat ketat, pendapatan para kurir terus menurun sementara jam kerja semakin panjang.
Di Beijing, misalnya:
- Jumlah pesanan yang diterima per hari turun dari sekitar 35 pesanan pada masa puncak menjadi sekitar 20 pesanan.
- Jam kerja meningkat dari 8 jam menjadi 12 jam per hari.
- Biaya pengantaran dasar turun dari 6–9 yuan menjadi hanya 3–4 yuan per pesanan, bahkan ada yang kurang dari 2 yuan.
Situasi serupa juga terjadi di pasar transportasi daring.
Pemerintah Kota Shenzhen baru-baru ini mengeluarkan peringatan risiko bahwa pasar ride-hailing setempat telah mencapai kondisi jenuh.
Pada April lalu, rata-rata setiap kendaraan ride-hailing di Shenzhen hanya menyelesaikan sekitar 13 perjalanan per hari.
Seorang pengemudi ride-hailing di Shenzhen mengatakan bahwa meskipun bekerja keras selama 16 jam sehari, setelah dikurangi biaya sewa kendaraan dan denda pelanggaran lalu lintas, pendapatan bersihnya hanya sekitar 5.000 yuan per bulan.
Data menunjukkan bahwa jumlah pengemudi ride-hailing yang terdaftar secara resmi di seluruh Tiongkok telah melampaui 7,5 juta orang.
Sementara itu, jumlah pesanan efektif rata-rata per hari hanya sekitar 31 juta perjalanan, yang berarti secara rata-rata setiap pengemudi hanya memperoleh sekitar empat pesanan per hari. Tingkat kelebihan kapasitas diperkirakan telah melampaui 60%.
Laporan konsumsi yang diterbitkan oleh Qingshan Capital menunjukkan bahwa sejak semester pertama tahun 2023, jumlah pengemudi ride-hailing yang terdaftar di berbagai platform Tiongkok telah menembus 100 juta orang, dan setiap hari lebih dari 20.000 orang baru masih terus bergabung.
Direktur Aliansi Pengacara Hak Asasi Manusia Luar Negeri, Wu Shaoping, mengatakan bahwa memburuknya kondisi ekonomi Tiongkok selama beberapa tahun terakhir telah mendorong banyak pekerja yang kehilangan pekerjaan, pemilik usaha yang bangkrut, serta lulusan universitas yang tidak mendapatkan pekerjaan untuk beralih ke sektor kurir dan ride-hailing.
Akibatnya, persaingan di kedua sektor tersebut menjadi sangat ketat.
Wu Shaoping mengatakan:”Pasar sebenarnya hanya membutuhkan sekitar 4 juta pekerja, tetapi yang masuk mencapai 20 juta orang. Jika bahkan mengantar makanan pun tidak lagi menghasilkan uang, sementara semua orang terus berkumpul di platform yang sama, maka jumlah pekerjaan yang tersedia untuk setiap orang pasti semakin sedikit. Pendapatan setiap individu juga pasti terdampak.”
Menurut Wu, masalah yang lebih serius adalah banyak orang kini tidak lagi memiliki pilihan lain.
Kembali ke desa sulit untuk bertahan hidup, sementara tetap tinggal di kota juga semakin sulit memenuhi kebutuhan hidup.
Ia mengatakan:”Banyak orang yang sebelumnya merupakan kelas menengah perkotaan kini terpaksa beralih menjadi kurir, pengantar paket, atau pengemudi ride-hailing. Tetapi sekarang bahkan sektor ride-hailing pun tidak mampu lagi menopang kehidupan normal mereka. Penurunan status sosial dan kualitas hidup seperti ini akan membuat rasa frustrasi terhadap masyarakat semakin besar.”
Sebuah survei tahun lalu menunjukkan bahwa:
- 77% pengemudi ride-hailing memasuki sektor tersebut setelah kehilangan pekerjaan.
- 62,8% pengemudi merupakan satu-satunya pencari nafkah dalam keluarga mereka.
Ekonom Amerika, Davy J. Wong (Huang Dawei), mengatakan bahwa kejenuhan di sektor kurir makanan dan ride-hailing menunjukkan bahwa “waduk penampung” pasar tenaga kerja Tiongkok sedang mengering.
“Dalam perspektif sosiologi ekonomi, layanan antar makanan dan ride-hailing sudah menjadi waduk terakhir sekaligus jaring pengaman terakhir bagi lapangan kerja kelompok bawah. Jika bahkan perlindungan terakhir ini hilang, maka jalan keluar terakhir bagi masyarakat biasa akan terputus,” katanya.
“Ini berarti kondisi kelompok berpenghasilan rendah dalam mencari nafkah akan semakin memburuk, dan banyak keluarga pengangguran akan menghadapi situasi tanpa perlindungan apa pun,” lanjutnya.
Huang memperkirakan risiko pengangguran terbesar ke depan akan terkonsentrasi pada tiga kelompok utama:
1. Mantan pekerja kantoran dan kelas menengah yang mengalami penurunan status ekonomiBerusia antara 35 hingga 50 tahun, masih memiliki cicilan rumah atau hutang lainnya.
2. Lulusan perguruan tinggi yang menganggur sejak lulusKelompok berpendidikan tinggi yang kesulitan memasuki pasar kerja.
3. Pekerja kontrak dan pegawai non-permanenTermasuk pekerja sementara di sektor pemerintahan maupun di luar sistem pemerintahan.
Menurut Huang, perubahan ini akan membawa dampak sosial yang mendalam bagi Tiongkok.
Ia menilai bahwa tekanan sosial terus meningkat, sementara pemerintah dianggap semakin memanfaatkan berbagai bentuk perpecahan sosial, seperti konflik gender dan perbedaan wilayah, sehingga di masa depan dapat muncul konflik yang lebih serius antar kelompok masyarakat.
“Secara keseluruhan, sistem ekonomi sedang bergerak menuju model setengah militeristik, setengah ekonomi terencana, dan setengah ekonomi pasar. Di masa depan, para pengemudi dan kurir yang menganggur mungkin hanya akan dipertahankan hidup dengan kebutuhan paling dasar agar tidak kelaparan, sementara energi dan aspirasi mereka secara perlahan dihilangkan,” kata Huang.
Huang menyimpulkan bahwa kejenuhan sektor kurir makanan dan ride-hailing merupakan sebuah transformasi sosial besar yang berlangsung secara diam-diam. Menurutnya, masyarakat Tiongkok kini semakin sulit mengandalkan kemampuan mereka sendiri untuk bertahan menghadapi perlambatan ekonomi. Sementara kelompok penguasa tetap berada dalam posisi yang relatif stabil, kondisi kehidupan masyarakat lapisan bawah diperkirakan akan terus memburuk. (***)
Editor/Wawancara: Li Yun/Zhong Yuan





