Denpasar (ANTARA) - Pengamat ekonomi dari Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar, Bali, Prof Dr Ida Bagus Raka Suardana menganjurkan masyarakat untuk mengelola keuangan dan mengurangi gaya hidup konsumtif menyikapi pelemahan mata uang rupiah.
“Sebagai masyarakat biasa, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengubah pola konsumsi menjadi lebih bijak dan produktif,” kata Raka Suardana di Denpasar, Rabu.
Guru Besar Fakultas Ekonomi Bisnis Undiknas itu menambahkan ketika rupiah melemah, harga barang impor biasanya naik lebih cepat dibanding pendapatan masyarakat.
Oleh karena itu, imbuh dia, masyarakat perlu mengurangi gaya hidup konsumtif, terutama membeli barang-barang impor yang tidak terlalu penting.
Kemudian perlu mengutamakan produk lokal menjadi langkah sederhana namun penting untuk membantu menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus memperkuat UMKM dalam negeri.
Selain itu, masyarakat juga perlu mulai membangun ketahanan keuangan keluarga.
Ia juga menekankan pentingnya alokasi sejumlah dana darurat dan pengelolaan pengeluaran saat kondisi ekonomi bergejolak.
“Dalam situasi rupiah melemah, masyarakat sebaiknya memperbesar tabungan, mengurangi utang konsumtif, dan lebih berhati-hati menggunakan fasilitas kredit. Banyak keluarga saat ini rentan karena pengeluaran lebih besar daripada pendapatan, sementara harga kebutuhan pokok terus meningkat,” ucapnya.
Meski begitu, pelemahan rupiah membawa dampak lain yaitu membuka peluang ekonomi baru yakni produk lokal dan sektor pariwisata menjadi lebih kompetitif karena biaya di Indonesia relatif lebih murah bagi wisatawan asing.
Untuk itu, kata dia, masyarakat dapat memanfaatkan kondisi itu dengan memperkuat usaha berbasis lokal, ekonomi kreatif, kuliner, kerajinan, hingga jasa digital.
“Di Bali misalnya, ketika wisatawan asing meningkat akibat nilai tukar yang menguntungkan, UMKM lokal ikut merasakan dampak positif melalui peningkatan penjualan dan perputaran ekonomi rakyat,” ucapnya.
Ia pun mengharapkan masyarakat tidak perlu panik berlebihan menghadapi pelemahan rupiah karena justru dapat memperburuk kondisi ekonomi melalui perilaku konsumtif dan spekulatif.
“Yang dibutuhkan adalah sikap adaptif, hemat, produktif, serta meningkatkan keterampilan agar mampu bertahan di tengah perubahan ekonomi global,” imbuh Raka Suardana.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level Rp17.926 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memperkuat posisi dolar AS.
Baca juga: Surplus dagang susut, ekonom soroti risiko defisit transaksi berjalan
Baca juga: Pengusaha dorong respons terukur pemerintah hadapi penguatan dolar AS
Baca juga: IHSG turun 4 persen, analis saham sebut terbebani pelemahan rupiah
“Sebagai masyarakat biasa, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengubah pola konsumsi menjadi lebih bijak dan produktif,” kata Raka Suardana di Denpasar, Rabu.
Guru Besar Fakultas Ekonomi Bisnis Undiknas itu menambahkan ketika rupiah melemah, harga barang impor biasanya naik lebih cepat dibanding pendapatan masyarakat.
Oleh karena itu, imbuh dia, masyarakat perlu mengurangi gaya hidup konsumtif, terutama membeli barang-barang impor yang tidak terlalu penting.
Kemudian perlu mengutamakan produk lokal menjadi langkah sederhana namun penting untuk membantu menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus memperkuat UMKM dalam negeri.
Selain itu, masyarakat juga perlu mulai membangun ketahanan keuangan keluarga.
Ia juga menekankan pentingnya alokasi sejumlah dana darurat dan pengelolaan pengeluaran saat kondisi ekonomi bergejolak.
“Dalam situasi rupiah melemah, masyarakat sebaiknya memperbesar tabungan, mengurangi utang konsumtif, dan lebih berhati-hati menggunakan fasilitas kredit. Banyak keluarga saat ini rentan karena pengeluaran lebih besar daripada pendapatan, sementara harga kebutuhan pokok terus meningkat,” ucapnya.
Meski begitu, pelemahan rupiah membawa dampak lain yaitu membuka peluang ekonomi baru yakni produk lokal dan sektor pariwisata menjadi lebih kompetitif karena biaya di Indonesia relatif lebih murah bagi wisatawan asing.
Untuk itu, kata dia, masyarakat dapat memanfaatkan kondisi itu dengan memperkuat usaha berbasis lokal, ekonomi kreatif, kuliner, kerajinan, hingga jasa digital.
“Di Bali misalnya, ketika wisatawan asing meningkat akibat nilai tukar yang menguntungkan, UMKM lokal ikut merasakan dampak positif melalui peningkatan penjualan dan perputaran ekonomi rakyat,” ucapnya.
Ia pun mengharapkan masyarakat tidak perlu panik berlebihan menghadapi pelemahan rupiah karena justru dapat memperburuk kondisi ekonomi melalui perilaku konsumtif dan spekulatif.
“Yang dibutuhkan adalah sikap adaptif, hemat, produktif, serta meningkatkan keterampilan agar mampu bertahan di tengah perubahan ekonomi global,” imbuh Raka Suardana.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level Rp17.926 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memperkuat posisi dolar AS.
Baca juga: Surplus dagang susut, ekonom soroti risiko defisit transaksi berjalan
Baca juga: Pengusaha dorong respons terukur pemerintah hadapi penguatan dolar AS
Baca juga: IHSG turun 4 persen, analis saham sebut terbebani pelemahan rupiah





