SKK Migas segera lelang hasil studi bersama Shell di 5 blok migas RI

antaranews.com
19 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyampaikan joint study atau studi bersama perusahaan migas raksasa dunia yakni Shell, di lima 5 blok minyak dan gas bumi (migas) Indonesia sudah memasuki tahap finalisasi dan akan segera dilelang.

“Ya, (joint study) dalam finalisasi. Mudah-mudahan cepat selesai sehingga segera dilelang,” ujar Djoko Siswanto ketika ditemui setelah Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu.

Mitra Shell, yakni KUFPEC (Kuwait Foreign Petroleum Exploration Company), merupakan perusahaan hulu migas internasional yang bergerak di bidang eksplorasi, pengembangan, dan produksi minyak mentah dan gas alam di luar wilayah Kuwait. KUFPEC merupakan anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Kuwait Petroleum Corporation.

Djoksis, sapaan akrab Djoko Siswanto, mengungkapkan bahwa Shell bersama KUFPEC melakukan joint study di 5 blok atau wilayah kerja (WK) migas RI, dengan rincian 2 WK offshore (lepas pantai) dan 3 WK onshore (darat).

Setelah melalui tahap finalisasi, Djoksis pun membenarkan bahwa pemerintah akan menawarkan Shell untuk menggarap blok migas tersebut.

“Iya, iya (ditawarkan ke Shell),” ujar Djoksis.

Pada November 2025, Djoksis mengungkapkan bahwa Shell bersama KUFPEC mengajukan proposal untuk melakukan studi bersama di 5 blok migas Indonesia kepada Kementerian ESDM.

Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Laode Sulaeman pun menyampaikan sudah menerima proposal tersebut. Akan tetapi, Laode belum bisa mengungkapkan blok mana saja yang menarik minat Shell.

Yang jelas, tuturnya melanjutkan, saat ini Shell sudah menunjukkan minat untuk kembali ke industri hulu migas Indonesia.

Sebelum meninggalkan industri hulu migas Indonesia, Shell pernah terlibat dalam blok-blok migas raksasa Indonesia, seperti Blok Masela. Blok Masela merupakan salah satu proyek strategis nasional (PSN) yang bernilai 19,8 miliar dolar AS (sekitar Rp285 triliun) dan ditargetkan mulai berproduksi pada 2027.

Blok Masela berpotensi memproduksi gas 1.600 juta standar kubik per hari (MMSCFD) atau setara 9,5 juta ton LNG per tahun, gas pipa 150 MMSCFD, dan 35 ribu barel minyak per hari.

Pada 2023, PT Pertamina (Persero) mengambil alih participating interest atau hak partisipasi Shell Upstream Overseas Services Ltd sebesar 35 persen di Blok Masela, Maluku.



Baca juga: Kementerian ESDM lelang 13 blok migas di IPA Convex

Baca juga: BPMA: Perusahaan Jepang berminat eksplorasi blok Andaman eks Repsol

Baca juga: Indonesia-Jepang sepakat percepat Blok Masela di tengah perang AS-Iran


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
WTP ke-15 Kali, DPRD Jabar Dorong Pemprov Tuntaskan Seluruh Rekomendasi BPK
• 17 jam lalurepublika.co.id
thumb
Le Sserafim Bikin Kejutan Besar, Lagunya Ternyata Ada di Film Supergirl
• 20 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Denza D9: EV Premium dengan Biaya Kepemilikan Rendah
• 49 menit lalukumparan.com
thumb
Ngebut di Gang atau Kompleks Perumahan Bisa Kena Denda Rp500 Ribu
• 22 jam laluviva.co.id
thumb
Geber Motor Saat Antar Jenazah Berujung Tawuran di Makassar
• 9 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.