Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman menanggapi pencopotan Dadan Hindayana sebagai Kepala Badan Gizi Nasional dan penggeledahan kantor BGN oleh Kejaksaan Agung. Dudung mengatakan ada berbagai faktor di balik keputusan Presiden tersebut.
Wartawan sempat bertanya ke Dudung apakah ini ada kaitannya dengan dugaan jual-beli titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Mantan KSAD itu pun tak menampik salah satu faktor pencopotan Dadan berkaitan dengan adanya temu dugaan jual beli titik dapur SPPG.
“Ya, kemungkinan besar seperti itu (karena adanya temuan dugaan praktik jual beli titik dapur). Banyaklah informasi-informasi ke beliau (Presiden Prabowo Subianto),” ungkap Dudung usai rapat dengan Komisi XIII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/6).
“Saya rasa ke Presiden yang nyampe bukan tidak serta merta dari temuan saya di lapangan tetapi dari banyak sumber lah, saya yakin,” lanjutnya.
Ia menjelaskan dirinya pernah melakukan inspeksi mendadak ke lapangan sekitar sebulan lalu dan menemukan sejumlah ketimpangan dalam pelaksanaan program tersebut. Meski demikian, Dudung menegaskan bahwa banyak aspek pelaksanaan MBG yang berjalan baik.
“Kalau saya kan dulu udah sebulan yang lalu mungkin saya sidak ke lapangan ada hal-hal ketimpangan, dan tapi yang baiknya juga banyak ya,” ujarnya.
Dudung mengatakan Presiden Prabowo menginginkan pelaksanaan program tersebut berjalan optimal tanpa adanya penyimpangan sedikit pun.
“Tapi Presiden inginnya sempurna bahwa semua itu tidak ada terjadi sedikit pun ada yang menyimpang dari program beliau. Karena ini itu tadi saya katakan ini uang rakyat yang harus dipertanggungjawabkan kepada rakyat,” katanya.
Saat ditanya apakah temuan tersebut menjadi salah satu faktor Presiden Prabowo melakukan evaluasi dan mencopot Dadan, Dudung membenarkannya.
“Ya, salah satu faktornya itu,” ujar Dudung.
Ia juga mengaku meyakini pergantian pimpinan BGN bukan keputusan yang muncul secara mendadak.
“Saya yakin sudah direncanakan sebelumnya,” katanya.
Lebih lanjut, Dudung mengaku turut menerima temuan selain dugaan praktik jual beli titik dapur dalam program MBG. Namun menurutnya, persoalan yang lebih penting untuk dibenahi adalah aspek manajemen dan tata kelola program secara keseluruhan.
“Ya saya pun dapat informasi seperti itu. Kalau saya lebih banyak melihat itu adalah bagaimana manajemennya sebetulnya yang harus diperbaiki ya,” ujarnya.
“Niat baik bapak Presiden untuk mencerdaskan anak-anak melalui program MBG ini ya artinya tidak hanya sekedar makan saja tetapi manajemen ini memang harus kita atur. Sehingga tidak ada celah-celah penyimpangan-penyimpangan dimanfaatkan oleh yang punya dapur, punya yayasan, bahkan SPPG-nya sendiri sehingga pastinya akan menurunkan kualitas,” lanjut Dudung.
Karena itu, ia menegaskan akan terus melakukan pengawasan langsung terhadap pelaksanaan program MBG di lapangan.
“Nah ini yang akan kita kawal terus, pokoknya saya akan cek di lapangan dan saya akan saya temukan dan saya sampaikan ke wartawan, itu aja. Saya nggak ada beban kok,” ujarnya.
Sebelumnya, Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Dudung Abdurachman, mengakui program MBG terdapat banyak celah korupsi yang perlu diantisipasi.
Hal itu disampaikan Dudung usai bertemu dengan Wakil Ketua KPK, Agus Joko Pramono, di Kantor KSP, Jakarta, Selasa (5/5).
“Banyak celahnya, banyak celahnya,” kata Dudung usai pertemuan tersebut.
Salah satu celah korupsi yang paling mencolok, menurut Dudung, adalah praktik jual beli titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) alias dapur MBG.
“Ya salah satunya saya dapat informasi tentang ada jual-beli titik. Ya itu ada itu, salah satunya ya. Ya, titik SPPG. Titik dapur ya,” ungkap dia.





