Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan meminta para pengembang kecerdasan buatan (AI) terkemuka untuk secara sukarela menyerahkan model AI paling canggih mereka, guna menjalani uji keamanan siber pemerintah sebelum dirilis ke publik.
Kebijakan itu tertuang dalam perpres yang dirilis Gedung Putih pada Selasa (2/6) waktu setempat. Perilisian perpres tersebut dilakukan, di tengah meningkatnya kekhawatiran di AS terhadap kemampuan sistem AI generasi terbaru, termasuk model Mythos milik Anthropic.
Trump meneken perpres yang menginstruksikan Kementerian Keuangan, Kemhan, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Keamanan Dalam Negeri AS, serta sejumlah lembaga federal lainnya, untuk menjalin kesepakatan dengan pengembang AI guna menguji keamanan model mereka.
Berdasarkan aturan tersebut, lembaga pemerintah akan memiliki waktu hingga 30 hari untuk menguji model AI sebelum teknologi itu dapat dirilis kepada organisasi di luar pemerintah.
Perintah itu juga meminta lembaga-lembaga terkait memperkuat pertahanan siber di lingkungan pemerintahan federal.
Perubahan Strategi AI TrumpPerpres ini menandai perubahan pendekatan Trump terhadap AI. Sebelumnya Trump mendorong pemerintah federal untuk tidak terlalu mencampuri industri teknologi. Kini Trump mengambil peran yang lebih aktif dalam memantau kemampuan dan risiko teknologi tersebut.
Sejak kembali menjabat, Trump kerap menyuarakan pendekatan yang lebih longgar terhadap regulasi sektor teknologi. Ia juga berupaya menghalangi sejumlah negara bagian menerapkan aturan AI yang tidak sejalan dengan kebijakan pemerintah federal.
Namun, kebijakan pengujian sukarela ini berpotensi memengaruhi industri AI. Proses pengujian berpotensi memperlambat peluncuran model-model baru atau memaksa perusahaan mengubah sistem mereka untuk memenuhi standar keamanan siber yang ditetapkan pemerintah federal.
Pejabat senior AS yang namanya dirahasiakan mengatakan Anthropic, OpenAI, dan Google telah berdiskusi dengan pemerintah mengenai isu keamanan siber saat penyusunan perpres ini.
Presiden Urusan Global Google, Kent Walker, menyebut kebijakan itu sebagai langkah penting ke depan.
Sementara itu, Anthropic menyatakan siap bekerja sama dengan Gedung Putih dalam implementasinya.
CEO OpenAI Sam Altman juga mendukung kebijakan tersebut.
"Perintah ini berhasil menemukan keseimbangan yang tepat. AS harus memimpin pengembangan AI dengan terus menciptakan model terbaik, memastikan keamanannya, serta menempatkan alat-alat siber di tangan pihak yang dapat dipercaya," ujar Altman seperti dikutip dari Reuters.
Trump sejatinya dijadwalkan menandatangani perpres AI pada 21 Mei lalu. Namun, ia menunda penandatanganan karena menilai beberapa aspek aturan tersebut berpotensi melemahkan posisi AS dalam persaingan AI dengan China.





