Koreksi ini turut menekan kapitalisasi pasar kripto global yang turun sekitar 5,6% ke level USD 2,28 triliun. Sementara itu, dominasi Bitcoin di pasar (BTC dominance) masih berada di level tinggi, yakni 58,6%, menunjukkan aset ini tetap menjadi acuan utama di tengah volatilitas yang meningkat.
Dalam riset Ajaib, tekanan jual yang terjadi tidak lepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik global serta memburuknya sentimen risiko di pasar keuangan. Salah satu pemicu utama adalah eskalasi konflik di Timur Tengah setelah pemerintah Iran mengklaim serangan rudal ke fasilitas militer Amerika Serikat di Kuwait pada 3 Juni 2026. Peristiwa ini memicu kekhawatiran baru di pasar global dan mendorong investor untuk mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk kripto.
Dalam kondisi tersebut, Bitcoin tercatat telah melemah lebih dari 9% sejak awal bulan. Koreksi tajam ini juga memicu likuidasi besar di pasar derivatif kripto yang mencapai sekitar USD 1,5 miliar, sekaligus menghapus nilai kapitalisasi pasar hingga ratusan miliar dolar.
Dari sisi arus dana institusional, tekanan semakin terlihat melalui keluarnya dana dari produk ETF Bitcoin spot. Dalam sepuluh hari perdagangan terakhir, tercatat arus keluar bersih (net outflow) sekitar USD 2,1 miliar, yang menjadi salah satu periode penarikan dana terpanjang sejak ETF tersebut diluncurkan.
Di saat yang sama, pasar juga merespons kekhawatiran terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Menjelang rapat Federal Open Market Committee (FOMC), ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga pada September meningkat menjadi sekitar 23%. Sentimen hawkish ini memperburuk tekanan di pasar aset berisiko, termasuk saham-saham yang memiliki eksposur terhadap kripto seperti Strategy, Coinbase, dan Circle yang masing-masing tercatat mengalami koreksi di tengah aksi jual global.
Meski pasar secara umum berada dalam tekanan, sejumlah aset kripto alternatif justru mencatat
perkembangan positif di tengah volatilitas.
Ekosistem Avalanche (AVAX), misalnya, mengalami lonjakan aktivitas on-chain hingga 761% setelah FIFA merilis koleksi digital “Right-to-Ticket” untuk Piala Dunia 2026 di jaringan tersebut. Aktivitas ini mendorong peningkatan interaksi pengguna secara signifikan.
Sementara itu, Stellar (XLM) mendapat dorongan dari adopsi institusional setelah perusahaan remitansi global MoneyGram meluncurkan stablecoin MGUSD untuk memfasilitasi transaksi lintas negara berbasis dolar secara langsung melalui aplikasinya.
Di sisi lain, token decentralized exchange Hyperliquid (HYPE) juga menarik perhatian pasar setelah muncul spekulasi terkait potensi peluncuran ETF oleh Grayscale di Amerika Serikat. Analis ETF Bloomberg James Seyffart menyebutkan revisi dokumen pengajuan terbaru Grayscale, termasuk detail ticker dan biaya manajemen, menjadi sinyal kuat bahwa peluncuran dapat terjadi dalam waktu dekat.
Dengan kombinasi tekanan geopolitik, ketidakpastian kebijakan moneter, dan dinamika arus dana institusional, pasar kripto diperkirakan masih akan bergerak volatil dalam waktu dekat, meski beberapa ekosistem altcoin menunjukkan ketahanan dan perkembangan yang kontras di tengah pelemahan Bitcoin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)





