INACA Proyeksikan Industri Penerbangan Tumbuh Stabil 5 Tahun ke Depan

bisnis.com
1 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia (Indonesian National Air Carriers Association/INACA) memproyeksikan industri penerbangan nasional kembali memasuki fase pertumbuhan yang lebih stabil pada periode 2026-2030 setelah mengalami stagnasi pascapemulihan pandemi Covid-19.

Proyeksi tersebut tertuang dalam buku Indonesia Aviation Outlook 2026: Strategic Plan & Investment Opportunities yang diluncurkan INACA di Jakarta, Selasa (3/6/2026).

Ketua Umum INACA Denon Prawiraatmadja mengatakan industri penerbangan Indonesia masih memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional seiring besarnya pasar domestik dan meningkatnya kebutuhan konektivitas.

"Dengan jumlah penduduk lebih dari 270 juta jiwa dan pasar domestik yang sangat besar, Indonesia memiliki modal kuat untuk membangun sektor transportasi udara yang sehat, kompetitif, dan berkelanjutan," ujarnya saat peluncuran buku tersebut, Rabu (3/6/2026).

Dalam buku tersebut, INACA mencatat industri penerbangan nasional saat ini tengah menghadapi fenomena plateau effect atau kondisi ketika pertumbuhan bisnis cenderung tertahan pada level tertentu setelah mengalami lonjakan pemulihan pascapandemi.

Jumlah penumpang maupun kargo domestik dan internasional sepanjang 2024-2025 dinilai mengalami fase stagnasi dibandingkan periode 2022-2023 yang mencatat pertumbuhan tinggi seiring pembukaan kembali mobilitas masyarakat.

Baca Juga

  • Kenaikan Tarif Tiket Pesawat Picu Inflasi, INACA Bilang Begini
  • INACA: Gejolak Harga Minyak dan Rupiah Bebani Keuangan Maskapai Domestik
  • Harga Avtur Naik, INACA Usul Penyesuaian Tarif Tiket Pesawat 15%

Meski demikian, INACA memperkirakan kinerja industri akan kembali meningkat dalam lima tahun mendatang.

Rata-rata pertumbuhan jumlah penumpang domestik pada 2026-2030 diproyeksikan mencapai 5,8% per tahun. Sementara itu, pertumbuhan penumpang internasional diperkirakan mencapai 6,6% per tahun.

Dari sisi logistik, volume kargo domestik diprediksi tumbuh rata-rata 5,86% per tahun, sedangkan kargo internasional diperkirakan meningkat 6,68% per tahun selama periode yang sama.

INACA menilai sejumlah faktor akan menjadi pendorong utama pertumbuhan industri penerbangan nasional. Salah satunya adalah bertambahnya armada pesawat yang beroperasi seiring selesainya proses perawatan dan masuknya pesawat baru yang direncanakan sejumlah maskapai.

Selain itu, kebijakan pemerintah untuk menekan harga tiket pesawat melalui pengurangan sejumlah komponen biaya juga diperkirakan akan mendorong permintaan perjalanan udara.

Pembukaan Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai pusat pemerintahan pada 2028 juga diyakini akan meningkatkan mobilitas penumpang dan arus logistik, terutama menuju wilayah Indonesia Timur.

Pertumbuhan bisnis e-commerce, ekspansi proyek hilirisasi industri, peningkatan ekspor produk bernilai tinggi dan mudah rusak (perishable goods), serta pengembangan terminal kargo internasional di sejumlah bandara turut menjadi faktor pendukung prospek industri.

Tantangan Industri Penerbangan

Namun demikian, industri penerbangan nasional masih menghadapi sejumlah tantangan eksternal, terutama ketidakpastian geopolitik global.

Menurut INACA, konflik di Timur Tengah berpotensi mendorong kenaikan harga avtur, memperkuat nilai tukar dolar AS, serta mengganggu sejumlah rute penerbangan internasional menuju kawasan tersebut.

Di sisi lain, pelaku industri melihat sejumlah peluang yang dapat menopang pertumbuhan sektor penerbangan. Peluang tersebut antara lain kebijakan pemerintah terkait mekanisme fuel surcharge yang lebih fleksibel, pembahasan revisi tarif batas atas (TBA) dan tarif batas bawah (TBB), serta program penurunan harga tiket pesawat melalui pengurangan sejumlah komponen biaya pada periode puncak perjalanan seperti Lebaran, Natal dan Tahun Baru, maupun libur sekolah.

Denon menegaskan pengembangan industri penerbangan nasional membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan yang tergabung dalam ekosistem penerbangan, mulai dari regulator, maskapai, pengelola bandara, penyelenggara navigasi penerbangan, hingga penyedia bahan bakar dan jasa pendukung lainnya.

Menurutnya, para pemangku kepentingan perlu mulai menyusun strategi jangka panjang untuk menghadapi kebutuhan dan tantangan industri dalam 10 hingga 20 tahun mendatang guna menyongsong target Indonesia Emas 2045.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Atasi Banjir DKI, Pemprov Andalkan Pompa, Pengerukan & Normalisasi Sungai
• 11 jam laludetik.com
thumb
Neraca Perdagangan Jawa Barat Surplus USD 8,90 Miliar pada Januari-April 2026
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Kurir Makanan dan Pengemudi Ride-Hailing Sama-sama Jenuh, Jalan Keluar bagi Pengangguran Tiongkok Semakin Tertutup
• 4 jam laluerabaru.net
thumb
Gantikan Dadan Hindayana Jadi Kepala BGN, Nanik S Deyang Minta Dukungan Publik
• 9 jam lalukompas.com
thumb
Aturan Beli Dolar Maksimal USD 25.000 Resmi Berlaku Mulai Hari Ini
• 23 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.