Harga Bahan Pokok Melonjak, Warteg di Tangsel Hapus Menu Favorit dan Kurangi Porsi

kompas.com
1 jam lalu
Cover Berita

TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com - Pemilik warteg di Pamulang, Tangerang Selatan, mulai menyiasati mengurangi porsi makanan dan menghapus menu andalan karena menghadapi lonjakan harga bahan pokok.

Hery (42), pemilik Warteg 21 di Pamulang, mengungkapkan bahwa dirinya telah menghentikan penjualan sejumlah menu favorit pelanggan seperti terong balado, opor ayam, dan rawon jeroan.

"Terong itu naik dari Rp 8.000 menjadi Rp 16.000 per kilogram, naik 100 persen. Kalau rawon, harga jeroannya naik dari Rp 30.000 ke Rp 55.000. Akhirnya saya close (hapus), tidak saya masak karena modalnya sudah tidak ketemu dengan harga jual," ujar Hery saat ditemui Kompas.com, Rabu (3/6/2026).

Baca juga: Jeritan Pedagang Warteg: Harga Sembako Naik, Keuntungan Menipis, Pembeli Makin Sepi

Hery menjelaskan, biaya belanja harian membengkak hingga kurang lebih 40 persen.

Jika sebelumnya ia cukup merogoh kocek Rp 500.000 untuk belanja harian, kini angka tersebut melonjak menjadi Rp 800.000.

Namun, ia memilih tidak menaikkan harga jual agar pelanggan tidak kabur.

"Siasatnya porsi saja dikurangi. Kalau harga dinaikkan, pembeli bisa hilang. Padahal barang-barang lain seperti gelas kopi dan kantong plastik juga naik hampir 100 persen," tambahnya.

Lebih Berat dibanding Masa Pandemi

Kondisi saat ini dirasakan lebih mencekik dibandingkan masa pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu.

Lina (37), pengelola Warteg Gria Bahari Pamulang, menyebut daya beli masyarakat saat ini sedang berada di titik terendah.

"Kalau saya bilang, masih mending zaman Covid. Dulu orang masih berani makan (lauk lengkap). Sekarang, pelanggan turun sampai 50 persen. Dari 100 orang, sekarang paling tinggal 50 orang per hari," kata Lina.

Baca juga: Kalau Mahal Nanti Enggak Ada Pelanggan, Curhat Pedagang Warteg di Tengah Harga Naik

Lina memerinci kenaikan harga terjadi merata pada seluruh komponen dapur.

Minyak goreng kini menyentuh Rp 22.000 dari sebelumnya Rp 16.000.

Sementara itu, beras ukuran 50 kilogram yang biasa ia beli kini mencapai Rp 700.000 per karung.

"Harga cabai kemarin bahkan sampai Rp 120.000 per kilo. Kita pedagang kaget, tahu-tahu naik saja. Dampaknya, kami harus sering nombok untuk menutupi modal belanja," ungkapnya.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }
Daya Beli Pelanggan Terpangkas

Menurunnya daya beli terlihat dari nominal uang yang dikeluarkan pelanggan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Blibli (BELI) Batal Gelar RUPSLB Besok, Ini Jadwal Barunya
• 7 jam laluidxchannel.com
thumb
Jujur-jujuran! Sukhdev Singh Akui Sampai Ribut dengan Bunga Zainal Buntut Kasus Penipuan Cek Kosong
• 23 jam lalugrid.id
thumb
Maling di Tebet Pura-pura Beli Sepeda Motor dengan Jaminan iPhone 17 Pro Max KW
• 21 jam lalukompas.com
thumb
Dinkes Jeneponto Perkuat Koordinasi dan Sinergi Program Percepatan Penurunan Stunting 2026
• 2 jam laluterkini.id
thumb
Beredar Kabar Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Cs Dijemput Kejagung, Kasusnya Dirilis Sore Ini
• 5 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.