Pasuruan (beritajatim.com) – Kabar gembira datang dari dunia konservasi satwa liar Indonesia atas keberhasilan persalinan mamalia pemangsa yang statusnya kini terancam punah di habitat aslinya. Fasilitas pelestarian di lereng Gunung Arjuna ini sukses memfasilitasi persalinan satwa endemik tersebut tanpa intervensi medis yang ekstrem.
Anak-anak kucing besar yang baru lahir tersebut kini ditempatkan di area isolasi khusus bersama induknya agar tidak mengalami stres akibat kebisingan dari luar. Pihak manajemen menegaskan bahwa seluruh bayi predator ini tidak akan dipamerkan kepada wisatawan umum demi menjaga sifat liarnya.
“Saat ini peran Harimau Sumatera di TSI Prigen bukan untuk pengunjung. Yang diutamakan adalah meningkatkan populasi secara regional dan global,” jelas Vice President Life Sciences TSI Grup, drh. Bongot Huaso Mulia, Rabu (3/6). Pihaknya menerangkan bahwa fokus utama lembaga saat ini murni untuk kepentingan penyelamatan genetika spesies dan sama sekali bukan untuk tujuan komersial.
Jumlah anak yang lahir dalam satu siklus kehamilan kali ini dinilai sangat istimewa karena berada di atas rata-rata reproduksi normal satwa sejenis. Tim medis menduga tingkat kesuburan yang tinggi ini dipengaruhi oleh optimalnya kualitas sel telur serta kecocokan genetik dari kedua indukan.
Proses penggabungan sepasang harimau dewasa hingga sukses membuahkan hasil merupakan fase paling kritis yang membutuhkan keahlian tinggi dari para perawat. Kesalahan dalam membaca tanda-tanda masa subur pada harimau betina bisa berakibat fatal berupa perkelahian yang memicu cedera hingga kematian satwa.
“Kami mengutamakan agar anakan harimau ini dapat dirawat oleh induknya. Kami menyebutnya natural care,” tambah Bongot. Dengan membiarkan induk merawat sendiri bayinya, insting keibuan harimau betina tersebut akan tetap terasah dengan baik untuk masa kehamilan berikutnya.
Keberhasilan program pembiakan ini juga didorong oleh empat faktor utama, yakni kemahiran perawat membaca masa subur satwa, pemantauan indikator keberhasilan perkawinan, pemberian suplemen dan pemeriksaan USG oleh tim dokter, serta penyediaan kandang persalinan yang nyaman dan bebas gangguan. Intervensi yang terukur dari seluruh tim ahli di lapangan membuat potensi kegagalan dapat ditekan sekecil mungkin sejak masa awal perjodohan.
Kondisi kesehatan seluruh anggota keluarga baru bergaris hitam ini dilaporkan sangat stabil dan terus menunjukkan perkembangan fisik yang signifikan dari hari ke hari. Tim dokter hewan terus melakukan pemantauan berkala menggunakan kamera pengawas nirkabel agar tidak mengganggu ruang gerak mereka di dalam kandang persalinan.
Keberhasilan ini menumbuhkan secercah harapan baru bagi masa depan kelestarian satwa predator kebanggaan Indonesia di tengah maraknya ancaman perburuan liar. Masyarakat pun diajak untuk terus mendukung kampanye perlindungan hutan yang menjadi rumah sejati bagi populasi harimau di alam bebas. (ada/kun)




