Terapi Pengganti Nikotin Meningkatkan Peluang Keberhasilan Berhenti Merokok

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Upaya untuk berhenti merokok sering kali membutuhkan bantuan profesional dan tidak hanya mengandalkan kemauan atau niat pasien semata. Penggunaan terapi pengganti nikotin dapat meningkatkan peluang keberhasilan berhenti merokok hingga dua kali lipat dibandingkan hanya dengan mengandalkan niat.

Penasihat Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Agus Dwi Susanto mengemukakan, rokok konvensional merupakan faktor risiko utama Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), kanker paru, penyakit jantung, dan stroke. Adapun rokok elektronik juga memiliki risiko kesehatan karena tetap mengandung zat adiktif nikotin.

“Ketergantungan nikotin adalah kondisi medis sehingga berhenti merokok seringkali membutuhkan bantuan profesional, bukan sekadar mengandalkan niat,” ujarnya saat diskusi dalam memeringati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, di Jakarta, pada Rabu (3/6/2026).  

Di Indonesia, terapi pengganti nikotin (Nicotine Replacement Therapy/NRT) dalam bentuk Nicotine Gum telah disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebagai terapi farmakologis untuk membantu perokok berhenti merokok. Produk ini juga masuk dalam daftar prequalification (PQ) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Agus menjelaskan, NRT bekerja dengan membantu mengurangi keinginan kuat untuk merokok (craving) serta gejala putus nikotin (withdrawal) melalui pemberian nikotin dalam dosis terkontrol. Dengan mekanisme itu, proses berhenti merokok dapat dijalani secara lebih terarah dan nyaman.

Menurut Agus, penggunaan NRT terbukti meningkatkan peluang keberhasilan berhenti merokok hingga dua kali lipat dibandingkan hanya mengandalkan niat semata. Bahkan, tingkat keberhasilan dapat meningkat hingga lima kali lipat apabila terapi tersebut dikombinasikan dengan konseling perilaku dari tenaga kesehatan.

Baca JugaBerhenti Merokok Bukan Hal Mustahil, Bagaimana Melakukannya?

Nicorette merupakan salah satu produk NRT yang diproduksi Kenvue Indonesia. Nicorette telah berstatus farmakoterapi resmi di Indonesia yang bekerja dengan cara menyuplai nikotin dosis terkontrol ke dalam tubuh tanpa paparan racun dan asap rokok berbahaya sehingga membantu meredakan gejala sakau.

Ketergantungan nikotin adalah kondisi medis sehingga berhenti merokok seringkali membutuhkan bantuan profesional, bukan sekadar mengandalkan niat.

Marketing Director Kenvue Indonesia Fika Yolanda menyatakan, Kenvue memiliki komitmen berkesinambungan untuk mendukung program Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam mengintervensi prevalensi perokok di Indonesia.

Upaya ini bertujuan untuk memastikan setiap individu yang memiliki niat untuk berhenti merokok mendapatkan pendampingan yang tepat serta akses terhadap solusi medis yang terbukti secara ilmiah.

“Rangkaian program kampanye kami tidak sekadar pemberian pelatihan medis, melainkan mencakup edukasi komprehensif bagi tenaga kesehatan dan masyarakat luas, serta penayangan Iklan Layanan Masyarakat bersama Kemenkes dan PDPI,” tuturnya.

Selain itu, Kenvue Indonesia membuka kemudahan akses produk melalui kerja sama dengan jaringan apotek Guardian dan berbagai apotek serta toko obat lainnya. Saat ini, Nicorette mulai digunakan untuk membantu terapi di sejumlah klinik Upaya Berhenti Merokok (UBM) Puskesmas di area Jakarta dan Bogor.

Transformasi sistem kesehatan

Bertepatan dengan Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang diperingati setiap 31 Mei, Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mengingatkan bahwa semua pihak memiliki agenda transformasi sistem kesehatan. Agenda ini menempatkan upaya promotif dan preventif sebagai fondasi utama.

“Pemerintah terus memperkuat kebijakan pengendalian tembakau serta menyelesaikan regulasi yang bertujuan untuk mengurangi daya tarik produk tembakau, terutama bagi anak-anak dan remaja. Peraturan ini kami susun untuk menekan normalisasi penggunaan produk tembakau di masyarakat, sekaligus mencegah munculnya pengguna baru," ucapnya.

Dukungan kebijakan yang tegas sangat penting mengingat ketergantungan tembakau masih menjadi salah satu krisis kesehatan masyarakat terbesar di Indonesia yang membawa dampak serius secara sosial dan ekonomi. Dampak rokok tidak hanya mengancam perokok aktif, tapi juga membahayakan kelompok rentan yang terpapar sebagai perokok pasif.

Kemenkes mencatat, jumlah perokok aktif di Indonesia telah menembus angka 70 juta orang, di mana 7,4 persen di antaranya berusia 10-18 tahun. Krisis kesehatan nasional saat ini turut diperparah lonjakan penggunaan rokok elektrik (vape) di kalangan remaja yang meningkat pesat hingga 10 kali lipat, dari 0,3 persen menjadi 3 persen.

Tingginya angka perokok ini berbanding lurus dengan ancaman mematikan pada anak-anak yang hidup bersama orang tua perokok. Berdasarkan data WHO dan Kemenkes, pneumonia memicu 740.000 kematian pada anak di bawah usia 5 tahun secara global setiap tahunnya. Anak-anak yang berada di lingkungan orang tua perokok memiliki kerentanan jauh lebih tinggi untuk terkena pneumonia akibat asap rokok.

Sebagai upaya akselerasi penurunan prevalensi perokok, Kemenkes bersama Kenvue, PDPI, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), dan Guardian mendorong kampanye nasional #SehatTanpaRokok.

Inisiatif ini merupakan langkah lanjutan dari Program Upaya Berhenti Merokok untuk Indonesia Sehat yang sejalan dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.

Sebagai implementasi konkret dari kampanye ini, rangkaian acara dilanjutkan dengan Workshop UBM yang melibatkan 150 tenaga kesehatan profesional. Peserta terdiri dari 100 konselor Klinik UBM dari berbagai Puskesmas di bawah Dinas Kesehatan, serta 50 apoteker dan staf lapangan dari Guardian.

Commercial Director Guardian Indonesia Karina Elisabet Wirian menambahkan, Guardian turut berkomitmen mendukung penerapan gaya hidup sehat melalui akses terhadap edukasi dan pendampingan kesehatan yang terpercaya.

Melalui peran lebih dari 500 apoteker dan tenaga vokasi farmasi Guardian sebagai garda terdepan, perusahaan terus aktif memberikan edukasi mengenai UBM kepada masyarakat. Guardian meyakini bahwa akses terhadap informasi akurat serta pendampingan yang tepat dapat membantu warga lebih percaya diri memulai perjalanan berhenti merokok.

Baca JugaIklan dan Promosi Rokok Masih Terus Membayangi Anak

Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif BPOM, William Adi Teja juga menyoroti pentingnya standardisasi dalam penanganan adiksi.

“Perlindungan konsumen adalah prioritas mutlak. Dalam konteks pengendalian zat adiktif, kehadiran produk farmakoterapi yang telah memiliki izin edar resmi dari BPOM dapat membantu masyarakat yang ingin melepaskan diri dari ketergantungan nikotin,” katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tiga Eks Pimpinan BGN Ditetapkan Tersangka Kasus Korupsi SPPG
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
InJourney Group Raih Tiga Penghargaan di Trip.com Group Envision 2026
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Jaga Stabilitas Rupiah, Alasan Bank Indonesia Naikkan BI-Rate Jadi 5,25%
• 12 jam lalukatadata.co.id
thumb
Komentar Dasco soal Pencopotan Kepala BGN Dadan Hindayana dan 2 Wakilnya, Singgung Tata Kelola MBG
• 22 jam laluviva.co.id
thumb
Berikan Pendanaan ke 72 Tim Siswa, Ini Cara East Ventures Dorong Ekosistem Startup Muda di Singapura
• 2 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.