Jatuh Cinta Kedua di Panti Lansia

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Lahir dari keluarga kurang beruntung membuat hidup nenek Musiatin (80) tidak banyak pilihan. Pahit getir kehidupan sudah dilaluinya penuh ujian sampai akhirnya kini ia dirawat negara hingga menemukan teman hidup baru di panti rehabilitasi lansia di Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL), Bekasi, Jawa Barat.

Pagi itu, nenek Musiatin duduk berjemur tersenyum menikmati sinar Matahari di depan paviliun tempatnya tinggal. Sesekali ia menyapa pekerja dan penghuni lain yang melintas. Namun, di balik senyumnya itu, tersimpan begitu banyak kisah tentang cobaan hidup.

Nenek Musiatin masih ingat, ia lahir dua bulan setelah Indonesia merdeka atau tepatnya 2 Oktober 1945. Ayahnya turut terlibat membela negara demi kemerdekaan di Tulungagung, Jawa Timur. Setelah merdeka, ia tumbuh dalam keluarga yang akrab dengan kemiskinan. Orangtuanya menyambung hidup dengan berjualan nasi di pinggir jalan.

Garis kemiskinan itu tidak terputus ketika ia dewasa dan berkeluarga di Bekasi. Keadaan ekonominya tak banyak berubah. Bersama suaminya, ia berjualan jajanan pasar dari pabrik ke pabrik di kawasan Pondok Ungu demi membesarkan 14 anak.

Keterbatasan itu membuat mereka tak mampu memberikan pendidikan tinggi kepada seluruh anaknya. Sebagian anak-anaknya hanya mampu bersekolah hingga tingkat tertentu sebelum akhirnya membantu mencari nafkah. Ada yang jadi tukang bangunan, ada pula yang kerja serabutan.

Saya enggak tahan kehidupan saya begini, sudah tidak ada harapan. Anak saya pada menderita, mungkin dari saya.

Saat ini anaknya hanya tersisa enam orang yang masih hidup. Sebagian meninggal dunia, termasuk pada masa pandemi Covid-19. Sang suami pun meninggal pada tahun 2003, bebannya semakin berat. Musiatin lalu tinggal bersama salah satu anaknya.

Baca JugaMengubur Masa Lalu di Panti Lansia

Emosinya semakin membuncah saat menceritakan anaknya yang terpaksa harus cerai saat ia tinggal bersama mereka. Dia menyalahkan diri sendiri sebagai pemicu perceraian tersebut karena ia merasa terlalu membebani rumah tangga anaknya.

"Sempat berpikir, aku pengen mati, saya enggak tahan kehidupan saya begitu, sudah tidak ada harapan. Anak saya pada menderita, mungkin dari saya. Dia cerai itu dari saya," kata Musiatin saat ditemui Kompas di STPL Bekasi, Jawa Barat, pada Senin (1/6/2026).

Setelah seratus hari kematian suaminya, Musiatin memutuskan mencari tempat tinggal yang dapat memberinya perlindungan karena ia merasa tidak lagi mampu bertahan sendiri. Pada September 2003, Musiatin diterima di STPL Bekasi.

"Waktu itu, saya mohon-mohon sekali sama bapak kepala panti. Mohon saya mau ikut di sini daripada saya mati, Pak," tuturnya.

Baca JugaLansia dalam Bayang-bayang Depopulasi

Meski datang sebagai penghuni, Musiatin tidak tinggal diam. Ia membantu di dapur panti selama sekitar 3,5 tahun dan menerima honor untuk kebutuhannya sendiri. Sebagian makanan yang tersisa bahkan ia bawa untuk anak bungsunya yang masih sekolah.

Selama 23 tahun di panti, perlahan ia menemukan kembali makna hidup dengan adanya dukungan sosial yang selama ini tidak ia miliki. Meski kadangkala ia tetap menyimpan kerinduan dan kesedihan terhadap anak-anaknya, apalagi saat momen Lebaran.

Kini, hari-harinya diisi dengan rutinitas yang teratur. Ia bangun sekitar pukul 02.30 dini hari untuk beribadah. Setelah itu ia mengikuti kegiatan panti seperti senam, apel pagi, pengajian, dan berbagai aktivitas lainnya.

Musiatin juga merasa bersyukur karena kebutuhan dasar dan kesehatannya terjamin. Ia telah lama mengidap penyakit tiroid dan tekanan darah tinggi, tetapi seluruh pengobatan diurus oleh pihak panti.

“Setiap hari minum obat. Nanti kalau waktunya kontrol, dianterin sama kesehatan di sini. Pokoknya terurus. Terima kasih sekali saya boleh ada di sini,” ucap Musiatin penuh syukur.

Di panti ini pula ia bertemu dengan Abdurahman (86), seorang penghuni laki-laki yang kemudian menjadi suaminya. Kakek Abdurahman awalnya datang menjadi penghuni panti bersama istrinya, tetapi tak lama istrinya meninggal lalu hidup sebatang kara tanpa anak maupun keluarga dekat.

Hubungan mereka tumbuh selayaknya teman dekat dari saling membantu ketika sama-sama berada dalam kondisi fisik yang lemah. Kedekatan mereka lalu mendorong pengurus panti untuk menikahkan keduanya pada tahun 2020.

Baca JugaDi Usia Senja Mereka Masih Harus Bekerja

Namun, menurut Musiatin, pernikahan ini didasari atas kebutuhan akan teman hidup di masa tua. Mereka saling menemani dalam keseharian dan saling menjaga ketika sakit. "Sudah tua untuk apa lagi. Kaya juga tidak ingin. Inginnya itu hanya bahagia dengan mendekat ke Allah aja. Supaya nanti kalau meninggal khusnul khatimah," ungkapnya.

Keluarga miskin

Pekerja sosial, Dedek Roslina mengungkapkan, nenek Musiatin hanya satu dari 73 lansia yang kini menghuni STPL Bekasi. Masing-masing dari mereka memiliki berbagai kisah getir tentang penuaan, keterlantaran, dan rumitnya relasi antara lansia dengan keluarga mereka.

Mayoritas dari mereka itu inginnya kembali ke keluarga, tetapi nyatanya lebaran saja tidak ada yang datang, sedikit sekali. Nanti datang-datang pada saat meninggal, ini sangat miris.

Sebagian besar penghuni merupakan lansia terlantar yang berasal dari keluarga miskin atau tak lagi mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka. Meski masih memiliki keluarga, banyak di antara mereka yang akhirnya harus bergantung pada negara karena tidak mendapat perawatan yang layak di rumah.

"Mayoritas dari mereka itu inginnya kembali ke keluarga, tetapi nyatanya lebaran saja tidak ada yang datang, sedikit sekali. Nanti datang-datang pada saat meninggal, ini sangat miris," ujarnya.

Baca JugaMenikmati ”Tanggal Merah” Setiap Hari di Wisma Lansia

Dedek menegaskan, tujuan utama panti ini adalah rehabilitasi dan mengembalikan lansia ke keluarganya, bukan dirawat negara hingga meninggal dunia. Pada kenyataannya, banyak lansia yang justru kembali lagi ke sentra setelah dipulangkan karena tidak diperhatikan atau tidak mendapatkan kebutuhan dasar yang layak di keluarganya.

Direktur Rehabilitasi Sosial Lansia di Kementerian Sosial Suratna menambahkan, keluarga merupakan tempat terbaik bagi lansia untuk memperoleh kasih sayang, perhatian, dan perawatan. Hal-hal sederhana seperti meluangkan waktu untuk mendengarkan dan menemani beraktivitas saja sangat berarti bagi kualitas hidup lansia.

Pemerintah, lanjut Suratna, terus mengembangkan layanan kepada lansia dengan tidak hanya memberikan bantuan, melainkan juga pada penguatan sistem perawatan dan dukungan sosial bagi lansia yang tinggal di masyarakat atau komunitas. Salah satu arah pengembangan yang sedang didorong adalah penguatan layanan berbasis keluarga dan komunitas.

"Ke depan, arah kebijakan kami adalah membangun layanan yang memungkinkan lansia tetap sehat, mandiri, aktif, dan dapat menjalani masa tuanya secara bermartabat di lingkungan keluarga dan komunitasnya," kata Suratna.

Baca JugaMensos: Lansia Bukan Beban Negara

Dia juga menegaskan bahwa meningkatnya jumlah penduduk lansia merupakan keberhasilan pembangunan. Untuk itu, pemerintah mengajak seluruh warga untuk terlibat merawat dan menghormati lansia karena ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab keluarga, komunitas, dan masyarakat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bos KAI Minta Restu DPR Mau Kuasai Rel, Stasiun Sampai Sinyal Kereta
• 58 menit lalucnbcindonesia.com
thumb
Dendam Istri Berujung Pembunuhan Sadis WN Korsel, Sewa Algojo Bayaran
• 12 jam laluliputan6.com
thumb
Mensesneg Ungkap Alasan Presiden Prabowo Rombak Tiga Pimpinan BGN
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Rupiah Melemah Nyaris Rp 18.000, BI Batasi Beli Valas-Dorong Mata Uang Lokal
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Beli Valas Tunai Tanpa Underlying Dibatasi US$25.000, Ini Aturannya!
• 13 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.