Nilai tukar Rupiah ditutup melemah 127,5 poin atau 0,71 persen ke level Rp17.966 per Dollar AS pada perdagangan Rabu (3/6/2026) sore.
Ibrahim Assuaibi, pengamat pasar uang menilai pelemahan yang mendekati angka psikologis Rp18.000 itu dipicu oleh kombinasi sentimen dari faktor global maupun domestik.
Dari sisi eksternal, perhatian investor masih tertuju pada eskalasi konflik di Timur Tengah. Ketegangan kian memanas setelah Israel melanjutkan operasi militernya di Lebanon selatan, sementara Iran dilaporkan menembakkan rudal balistik ke Kuwait dan Bahrain.
“Putaran pembicaraan lain yang melibatkan Israel dan Lebanon dijadwalkan pada hari Rabu, sementara ketidakpastian masih berlanjut mengenai negosiasi antara Washington dan Teheran,” ujar Ibrahim di Jakarta, seperti dilaporkan Antara, Rabu (3/6/2026).
Laporan media Iran yang menyebutkan tidak adanya komunikasi antara Teheran dan Washington dalam beberapa hari terakhir turut memunculkan spekulasi bahwa perundingan tengah mengalami kebuntuan.
Di sisi lain, lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran atas inflasi global sekaligus memperkuat spekulasi bahwa Bank Sentral AS atau The Fed akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.
Data yang dirilis pada Selasa (2/6/2026) menunjukkan jumlah lowongan kerja di AS meningkat secara tak terduga pada April 2026, yang semakin memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan tetap bersikap ketat dalam kebijakan moneternya.
Pelaku pasar kini menantikan sejumlah rilis data ekonomi AS, termasuk laporan ketenagakerjaan ADP, indeks sektor jasa ISM, dan data pesanan pabrik, sebagai petunjuk arah kebijakan The Fed menjelang pengumuman data nonfarm payrolls pada Jumat (5/6/2026).
Dari dalam negeri, sentimen terhadap rupiah ikut tertekan setelah inflasi Mei 2026 tercatat sebesar 0,28 persen secara bulanan, lebih tinggi dibandingkan inflasi April 2026 sebanyak 0,13 persen.
Kenaikan inflasi tersebut didorong oleh harga pangan bergejolak, harga energi, harga yang diatur pemerintah, serta pelemahan nilai tukar itu sendiri.
Kemudian, neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 masih membukukan surplus sebesar 89,1 juta Dollar AS, menandai tren surplus yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Surplus tersebut terutama ditopang oleh kinerja perdagangan nonmigas yang mencatat surplus 3,53 miliar Dollar AS.
Namun, Ibrahim mengingatkan bahwa secara statistik, surplus April menyempit tajam, yang menurutnya mencerminkan tekanan pada daya beli dan ketahanan eksternal akibat terganggunya pasokan global, khususnya dampak blokade Selat Hormuz oleh Garda Revolusi Iran yang hingga kini belum ada kejelasan kapan akan dibuka kembali.
Untuk perdagangan Kamis (4/6/2026), Ibrahim memproyeksikan nilai tukar Rupiah bergerak fluktuatif pada kisaran Rp17.960 hingga Rp18.030 per Dollar AS.(ant/iss/rid)




