Bisnis.com, MAKASSAR - Kinerja pembiayaan perbankan di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) menunjukkan tren pemulihan pada awal tahun ini.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran kredit perbankan di wilayah ini tumbuh sebesar 5,19% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal I/2026.
Kepala OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat Moch. Muchlasin menyampaikan bahwa dengan pertumbuhan tersebut, total penyaluran kredit perbankan di Sulsel per Maret 2026 mencapai Rp174,39 triliun.
Menurutnya, realisasi ini mencerminkan akselerasi yang lebih kokoh dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, di mana pertumbuhan kredit pada Maret 2025 hanya tertahan di level 3,76% (yoy).
"Akselerasi pertumbuhan kredit ini mengindikasikan adanya peningkatan aktivitas ekonomi dan menguatnya permintaan pembiayaan di tengah masyarakat," ujar Muchlasin di Makassar, Rabu (3/6/2026).
Kredit produktif tercatat masih mendominasi struktur pembiayaan di Sulsel dengan pangsa mencapai 52,69% dari total portofolio. Namun pertumbuhannya cukup tertahan hanya berada di level 2,79% (yoy).
Baca Juga
- BRI Pacu 3 Ekosistem Klaster Komoditas untuk Kembangkan Produk Unggulan Sulawesi
- Mengangkat Popularitas Mete Sulawesi hingga Pasar Internasional
- Pengembangan Kakao Sulawesi: Kredit Rp26 Miliar Dikucurkan, 2 Tantangan Masih Mengintai
Adapun jika ditinjau dari sektoralnya, penyaluran kredit produktif paling besar mengalir ke sektor perdagangan besar dan eceran. Sektor ini menggenggam porsi hingga 22,00% dari total penyaluran kredit perbankan di Sulsel.
Di sisi lain, daya beli dan konsumsi masyarakat yang solid turut mendongkrak kinerja kredit konsumtif. OJK mencatat, sektor kredit konsumtif berhasil membukukan pertumbuhan yang cukup tinggi, yakni mencapai 8,00% (yoy).
Sementara itu, sejalan dengan fungsi intermediasi yang cukup solid, total aset perbankan di Sulsel ikut terkerek naik 4,12% (yoy) menjadi Rp213,44 triliun.
Pertumbuhan ini ditopang oleh kinerja penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 7,33% (yoy) menjadi Rp147,41 triliun.
"Postur simpanan masyarakat di Sulsel masih didominasi oleh produk tabungan dengan pangsa sebesar 61,45%. Posisi berikutnya disusul oleh deposito dengan porsi 22,70%, dan giro sebesar 15,85%," jelas Muchlasin.
Kendati ekspansi kredit terhitung agresif, OJK memastikan fungsi intermediasi perbankan di Sulawesi Selatan tetap berjalan secara terjaga dan prudent. Hal ini tercermin dari rasio pinjaman terhadap simpanan atau Loan to Deposit Ratio (LDR) yang berada di level 118,30%.
Sedangkan dari sisi manajemen risiko, kualitas aset perbankan di Sulsel dipastikan masih berada dalam koridor yang aman. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) per kuartal I/2026 ini berhasil ditekan dan bertahan di level 3,73%





