DEPOK, KOMPAS.com - Di tengah maraknya layanan digital dan kemudahan membeli peralatan rumah tangga secara daring, profesi pengasah pisau keliling perlahan semakin jarang ditemui.
Namun bagi Ujang (58), pekerjaan tersebut masih menjadi sumber penghidupan yang ia pertahankan hingga kini.
Dengan pikulan bambu yang memanggul batu gerinda, alat asah, dan perlengkapan kerja lainnya, ia berjalan menyusuri jalan-jalan permukiman menawarkan jasa yang telah ditekuninya selama dua dekade.
Baca juga: Dari Buruh Pabrik Jadi Pengasah Pisau, Jalan Panjang Marno Menjemput Rezeki
Ujang mengaku tidak pernah membayangkan akan menjadi pengasah pisau keliling.
Sebelum menekuni profesi tersebut, ia bekerja sebagai buruh bangunan dan berbagai pekerjaan serabutan.
Namun ketika pekerjaan konstruksi mulai tidak menentu, ia mengikuti jejak seorang kerabat yang lebih dahulu bekerja sebagai pengasah pisau keliling.
“Awalnya saya cuma bantu bawa alat. Saya lihat cara kerjanya, belajar sedikit-sedikit. Lama-lama berani menerima pelanggan sendiri,” kata Ujang saat ditemui Kompas.com tengah berkeliling di kawasan Pancoran Mas, Depok, Selasa (2/5/2026).
Berbeda dengan sebagian pengasah pisau yang kini menggunakan sepeda modifikasi, Ujang masih mempertahankan cara lama.
Ia memikul seluruh peralatannya menggunakan bambu dan berjalan kaki dari satu wilayah ke wilayah lain.
Setiap pagi sekitar pukul 07.00 WIB, ia berangkat dari rumah kontrakannya di Depok.
Baca juga: Kondisi Terkini Rumah Eks Kepala BGN Dadan Hindayana di Bogor Usai Ditetapkan Tersangka
Rute hariannya meliputi Pancoran Mas, Depok Lama, Rangkapan Jaya, hingga sejumlah pasar tradisional.
Menurutnya, suara panggilan yang terus diulang sepanjang perjalanan masih menjadi cara paling efektif untuk menarik pelanggan.
“Banyak pelanggan lama yang hafal suara saya. Kadang mereka langsung keluar rumah begitu dengar saya lewat,” ujarnya.
Jasa yang ditawarkan Ujang tidak hanya terbatas pada pisau dapur.
Ia juga menerima pengasahan golok, parang, gunting, pisau potong daging, hingga sejumlah alat pertanian sederhana.
Tarif yang dikenakan relatif murah. Untuk pisau dapur dan gunting biasa berkisar antara Rp 3.000 hingga Rp 10.000, sedangkan golok dan parang dikenakan biaya lebih tinggi karena membutuhkan waktu pengerjaan lebih lama.
Meski demikian, pendapatan yang diperoleh tidak selalu sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan.
Pada hari ramai, Ujang bisa membawa pulang Rp80.000 hingga Rp150.000.
Namun ketika pelanggan sepi, penghasilannya hanya sekitar Rp30.000 hingga Rp50.000 sehari.
“Sekarang banyak yang pilih beli baru. Kalau dulu pisau tumpul sedikit langsung diasah. Sekarang banyak yang dibuang lalu beli lagi,” kata dia.
Baca juga: Pemilik WO Marwah Eka Rismayanti Ternyata Residivis Kasus Penipuan





