JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Luar Negeri RI Sugiono menanggapi kritik mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal soal kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke luar negeri.
Sugiono menyinggung niat Presiden Prabowo sejak awal yang ingin berpegang pada prinsip bebas aktif dan menjalin hubungan baik dengan semua negara.
“Sejak awal Presiden juga menyampaikan bahwa kita adalah negara yang netral, beliau selalu mengatakan 1.000 kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak,” ujar Sugiono di kantornya, Rabu (3/6/2026).
“Implementasinya ataupun konsekuensinya dari ini adalah ya itu tadi, kita harus hadir di banyak tempat, kita harus berkawan dengan semuanya. Istilahnya kan kita harus gaul, kan gitu,” tambah dia.
Baca juga: Dino Pati Djalal Singgung 17 Calon Dubes Asing “Terdampar” di Jakarta, Menlu: Minggu Ini Kami Jadwalkan
Sugiono mengaku belum menyaksikan secara penuh video Dino yang memberikan soal 5 saran tentang kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke luar negeri.
Meski demikian, Sugiono mengatakan telah mendengar poin besarnya dan mengapresiasi setiap kritik maupun saran yang bertujuan untuk perbaikan.
“Sejujurnya saya belum lihat. Tapi saya dengar, terima kasih ya semua, saya kira semua saran, semua kritik dalam rangka perbaikan itu bagus, baik, tentu saja harus konstruktif, tentu saja juga harus berdasarkan pada fakta-fakta dan data-data yang saya kira akurat,” kata Sugiono.
Menurut Sugiono, kunjungan Presiden ke berbagai negara merupakan bagian dari amanat konstitusi yang menempatkan Indonesia sebagai bagian dari masyarakat internasional.
Sugiono menegaskan, setiap kunjungan luar negeri Presiden direncanakan secara matang dan didahului pembahasan diplomatik yang mendalam.
Dalam proses tersebut, Presiden menentukan isu, substansi, dan prioritas yang perlu dibahas sesuai perkembangan situasi global.
Menurut dia, dinamika dunia saat ini tidak bisa dihadapi dengan pendekatan konvensional karena berbagai kawasan tengah menghadapi konflik dan ketegangan geopolitik.
Baca juga: Dino Sebut Presiden Negara Lain Tak Direspons Prabowo Saat Mau Bertemu, Seskab Beri Klarifikasi
“Timur Tengah perang, banyak juga beberapa titik di dunia ini yang panas dan kita, sekali lagi, ini amanat undang-undang, Indonesia ingin terlibat dalam upaya perdamaian dan ketertiban dunia, ya secara proaktif menawarkan dirinya menawarkan Indonesia ini untuk jadi jembatan,” ucap dia.
Saat ditanya apakah diplomasi tatap muka lebih efektif dibandingkan pertemuan virtual, Sugiono menilai interaksi langsung tetap memiliki keunggulan tersendiri.
“Sama lah kayak kita juga. Kalau cuma telepon-teleponan aja kan beda sama ketemu langsung, kita bisa melihat bahasa tubuh, ada kedekatan personal dari situ kita bisa berbicara mengenai hal yang lebih banyak intinya itu,” pungkas dia.
Adapun Presiden Prabowo Subianto disarankan untuk mengurangi kunjungan kenegaraannya ke luar negeri.





