SPIEF 2026 Angkat Isu Air, Retno Marsudi Ajak Semua Pihak Harus Terlibat Atasi Krisis

medcom.id
18 jam lalu
Cover Berita
St. Petersburg: Di tengah pesatnya pembangunan ekonomi dan kemajuan teknologi, dunia menghadapi tantangan yang tak bisa dianggap sepele yaitu krisis air bersih. Isu ini kini tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menyentuh sektor pangan, kesehatan, lingkungan, hingga pertumbuhan ekonomi global.
 
Besarnya tantangan tersebut membuat isu air menjadi salah satu topik penting yang dibahas dalam St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2026. Para pemimpin dunia, pelaku usaha, hingga organisasi internasional menilai ketahanan air akan menjadi salah satu faktor penentu pembangunan berkelanjutan di masa depan. Kelangkaan air jadi ancaman global Dalam forum bertajuk Challenges and Prospects of International Water Cooperation: Water as a Sustainable Development Factor, Utusan Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Urusan Air, Retno Marsudi, menyoroti kondisi air dunia yang semakin mengkhawatirkan.
 
Menurutnya, kebutuhan air terus meningkat seiring pertumbuhan populasi dan aktivitas ekonomi. Namun di sisi lain, jutaan orang masih belum memiliki akses yang layak terhadap air bersih.

“Jadi, pesan utama saya hari ini sederhana. Kita harus melihat air sebagai suatu kehidupan, dan juga sebagai prioritas strategis, ekonomi, dan perkembangan,” katanya dalam forum dialog di SPIEF 2026, St. Petersburg, Rabu, 3 Juni 2026.
  Baca juga: Krisis Ketersediaan Air jadi Perhatian Dunia
Retno menjelaskan bahwa dampak krisis air tidak hanya dirasakan dari sisi kebutuhan rumah tangga. Kelangkaan air juga dapat mengganggu produktivitas ekonomi, ketahanan pangan, stabilitas sosial, hingga keberlanjutan lingkungan. Air bukan sekadar kebutuhan dasar Bagi banyak negara, air kini telah menjadi aset strategis yang menentukan daya saing ekonomi. Ketersediaan air memengaruhi sektor pertanian, industri manufaktur, energi, hingga kesehatan masyarakat.
 
Ketika akses air terganggu, biaya ekonomi yang harus ditanggung suatu negara bisa sangat besar. Oleh karena itu, pengelolaan air tidak lagi bisa dipandang sebagai isu sektoral, melainkan bagian penting dari strategi pembangunan nasional dan global.
 
Retno menegaskan bahwa ketahanan air dan ketahanan pembangunan memiliki keterkaitan yang sangat erat.
 
“Dengan menjaga air di tengah-tengah, kita bisa memastikan kemajuan ekonomi dan pertahanan kita menjadi resilient,” ucapnya.
 
Dalam mengatasi krisis air bukan pekerjaan satu negara atau satu institusi saja. Menurut Retno, diperlukan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan mulai dari pemerintah, sektor swasta, akademisi, komunitas ilmiah, hingga masyarakat umum.
 
Kolaborasi menjadi kunci untuk mempercepat inovasi, meningkatkan efisiensi penggunaan air, memperkuat sistem pendanaan, dan menghadirkan solusi berbasis teknologi.
 
Forum-forum internasional seperti SPIEF dinilai memiliki peran penting dalam mempertemukan berbagai pihak untuk membangun kerja sama yang lebih luas dalam pengelolaan sumber daya air.

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ANN)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ketua Timwas DPR soal Haji 2026: Sudah Lakukan Transformasi yang Bagus
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Purbaya Ungkap Peran Kemenkeu Lapor Kejanggalan MBG yang Seret Eks Pimpinan BGN
• 20 jam lalukatadata.co.id
thumb
Daftar 5 Provinsi yang Gelar Pemutihan Pajak Kendaraan Juni 2026, Cek Syaratnya!
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Motor Dicuri, Ibu di Tangerang Jengkel Diminta Leasing Lunasi Cicilan Dulu untuk Urus Surat Kehilangan
• 2 jam lalukompas.com
thumb
Menavigasi Ulang Politik Pertahanan Udara di Langit Dirgantara Indonesia-Korea
• 5 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.