REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV— Migrasi dari Israel kini tidak lagi sekadar kasus-kasus individual orang yang mencari peluang hidup yang lebih baik.
Fenomena ini telah berkembang menjadi apa yang oleh Ketua Komite Imigrasi Knesset (Parlemen Israel), Gilad Kariv, disebut sebagai tsunami warga Israel yang memilih meninggalkan negara mereka.
Baca Juga
Tentara Israel akan Mundur dari Lebanon Seusai Ultimatum Trump? Ini Kata Pakar Militer
Trump Bekukan Serangan ke Lebanon, Netanyahu Membangkang, Iran Beri Peringatan Keras
Jaringan Miliarder AS Superkaya di Balik Misi Canary yang Melawan Akvitis Pro Palestina
Israel, yang sejak awal berdirinya dibangun di atas ideologi menarik dan mengumpulkan orang-orang Yahudi dari seluruh dunia, serta secara historis pernah menyebut mereka yang meninggalkan negara itu sebagai orang-orang yang gugur dari cita-cita Zionisme, kini menghadapi krisis yang menyentuh fondasi kekuatan manusia dan ekonominya.
Berikut ini sejumlah fakta terkait eksodus besar-besaran Israel sebagaimana dilansir dari Aljazeera, Kamis (4/6/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Pertama, angka yang terus meningkat
Negara tersebut mengalami pengurasan besar-besaran modal manusia yang tidak mampu ditutupi oleh jumlah pendatang baru.
Sebuah laporan yang disusun oleh Pusat Penelitian dan Informasi Knesset atas permintaan Gilad Kariv, berdasarkan data Biro Pusat Statistik Israel, mencatat bahwa sisa bersih migrasi warga negara—yakni selisih kumulatif antara mereka yang pergi dan yang kembali—menurun sebanyak 125.200 orang antara awal 2022 hingga Agustus 2024.
Laporan Knesset menunjukkan perubahan demografis yang mendasar dan semakin cepat, yang dapat diringkas sebagai berikut:
•Rata-rata sebelum 2021: Jumlah warga yang meninggalkan Israel setiap tahun berada di kisaran 40.500 orang
•Pada 2022: Jumlah yang pergi meningkat menjadi 59.400 orang, sementara yang kembali turun menjadi 29.600 orang
•Pada 2023: Terjadi lonjakan besar dengan 82.800 orang meninggalkan negara itu (naik 44 persen), sedangkan jumlah yang kembali terus menurun menjadi 24.200 orang.
•Pada 2024 (delapan bulan pertama): Sekitar 50 ribu orang meninggalkan Israel, sementara hanya 12.100 orang yang tercatat kembali.