JAKARTA, KOMPAS.com - Sela-sela jari jemari para pelajar saat ini tidak hanya dihiasi alat tulis, tetapi juga sebatang rokok setiap harinya.
Di usia yang masih belasan tahun, para pelajar terlihat begitu lihai mengisap rokok di sela jarinya tersebut.
Fenomena merokok di kalangan pelajar sudah menjadi hal biasa di berbagai kota Indonesia, terutama Jakarta.
Para pelajar biasanya memanfaatkan warung dekat sekolah sebagai tempat aman dan nyaman untuk mengisap batang per batang rokok yang mereka beli dari uang jajan seadanya itu.
Baca juga: Sisi Lain Masinis Tragedi Bintaro 1987: Mbah Slamet Pernah Jualan Rokok di Stasiun Kutoarjo demi Sambung Hidup
Salah satu pelajar bernama Dhea (16) mengaku, sudah mulai mencoba rokok ketika masih duduk di kelas satu bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau sekitar 13 tahun.
Pertama kali pelajar itu mencoba rokok ketika sedang berkumpul dengan teman-temannya yang sudah lebih dulu kecanduan dengan nikotin tersebut.
Lambat laun, ia mengaku penasaran untuk mencoba rokok seperti teman-temannya yang lain.
"Awalnya batuk itu terasa enak juga rasanya manis. Sekarang kecanduan merokok setiap hari," ungkap Dhea ketika diwawancarai di kawasan Jakarta Selatan, Rabu (3/6/2026).
Baca juga: Filter Rokok Turut Merusak Lingkungan lewat Limbah, Polusi, dan Emisi
Tahu bahayaKini dalam satu hari, Dhea bisa menghabiskan lebih dari lima batang rokok yang dibeli dengan harga Rp 15.000.
Ia pun mengorbankan uang jajan sekolahnya yang hanya Rp 20.000 untuk membeli rokok, sehingga sisanya hanya sekitar Rp 5.000.
Untuk mengakali agar tidak kelaparan di sekolah karena uang jajannya sisa sedikit, maka ia membawa bekal nasi dan lauk pauk dari rumah.
Selain boros uang, pelajar tersebut juga sadar bahwa kebiasaan merokoknya bisa membahayakan kesehatan.
Baca juga: Minta Cukai SKM Kelas III Khusus di Madura, Bupati Pamekasan: Saya Jamin Rokok Ilegal Habis
Bahkan Dhea mengaku, dadanya pernah terasa sesak hingga batuk-batuk karena kebanyakan mengisap rokok.
"Tahu menyebabkan sakit, pernah sakit dada juga kayak sesak gitu. Cuma tetap merokok karena sudah ketagihan," sambung dia.
Ia juga sempat mencoba berhenti merokok, tetapi berkali-kali gagal karena tak kuasa menahan rasa asam di mulutnya setiap kali habis makan.
Pelajar lain Ucup (14) juga tahu bahwa kebiasaan merokoknya bisa membahayakan kesehatan.
Baca juga: Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
"Enggak kapok, tahu bahayanya bisa bikin sakit paru-paru," ucap pelajar itu ketika ditemui Kompas.com di kawasan Jakarta Selatan, Rabu.
Siswa itu mengaku sulit berhenti merokok karena sudah terlanjur ketagihan selama bertahun-tahun.
Rela tahan laparPertama kali Ucup mencoba rokok, karena melihat teman-temannya, sehingga ia merasa begitu penasaran dan mencobanya.
Sejak itu, ia kecanduan merokok hingga saat ini dan dalam sehari setidaknya bisa menghabiskan lima batang.
Baca juga: Pencuri Dikunci di Ruang Brankas Minimarket Tangsel, Awalnya Mau Curi Rokok
Untuk membeli lima batang rokok seharga Rp 10.000, Ucup menggunakan uang jajan sekolahnya yang hanya Rp 15.000.
"Jadi saya siap mehanan lapar, dibanding enggak beli rokok," sambung Ucup.





