Seleksi Ciputra Film Festival 2026 Semakin Ketat, Kualitas Disebut Meningkat

kompas.id
9 jam lalu
Cover Berita

SURABAYA, KOMPAS — Setelah menerima 1.636 film dari 128 negara pada tahun lalu, Ciputra Film Festival (CFF) 2026 memperketat standar seleksi dengan menerapkan biaya pendaftaran bagi peserta. Jumlah karya yang tampil turun menjadi 280 film dari 35 negara, tetapi panitia menilai kualitas film yang masuk meningkat.

Festival film pendek internasional yang diinisiasi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Ciputra Surabaya ini berlangsung pada 2-6 Juni 2026. Panitia mengusung tema ”Mosaic”, dengan harapan bisa menjadi wadah keberagaman eksplorasi, kreativitas, dan identitas para sineas.

Director CFF Jason Cliff Kurniawan, Rabu (3/6/2026), mengatakan, penyelenggaraan kali ini tidak lagi gratis atau cuma-cuma. Film-film yang masuk dikenai biaya 2-5 dolar AS, kecuali karya sineas SLTA.

”Dari pengalaman tahun lalu, begitu banyak karya yang dari sisi standar sebenarnya tidak layak. Tahun ini, kami menginginkan standar yang lebih tinggi, film-film yang masuk perlu berkualitas,” kata Jason.

Pada edisi keempat atau tahun lalu, jumlah film yang masuk 1.636 karya dari 128 negara. Kini, hanya tercatat 280 karya yang tampil. ”Kami melihat, film-film yang didaftarkan melalui platform FilmFreeway ini sebagai karya yang dibuat serius,” ujar Jason.

Festival yang digelar di Kampus Citraland Universitas Ciputra dan Ciputra World Surabaya itu juga bakal menghadirkan nama besar di dunia film nasional.

Beberapa di antaranya seperti sineas Robert Ronny, pembuat konten Chandra Liow, pemain film Ardinia Wirasti. Tidak ketinggalan ada sutradara dan produser Riri Reza serta sutradara dan produser Wregas Bhanuteja.

Dwi Pratiwi, Line Producer film Pencatat Rindu yang Datang di Tengah Malam, berharap kualitas CFF terus meningkat dan mendorong industri kreatif sinematografi di daerah.

”Di CFF, film ditayangkan di Bioskop XXI yang layak, melalui penilaian dan penjurian yang bagus. Model seperti ini amat jarang di festival di Indonesia,” kata Pratiwi.

Baca JugaFilm Battle of Surabaya Film Animasi Terbaik HIMPFF di Hollywood
Baca JugaFilm yang Menjadi Penghubung Bangsa-bangsa Berjauhan

Dekan Fikom Universitas Ciputra Cosmas Gatot Haryono mengatakan, CFF adalah praktik nyata perkuliahan dengan prinsip berdampak terhadap masyarakat dalam hal ini komunitas perfilman.

”CFF ialah proyek nyata dengan klien (sineas) yang juga nyata. Inilah esensi penting dari dunia pendidikan tinggi, seimbang dalam pengajaran dan pengabdian,” katanya.

Meskipun dikerjakan oleh mahasiswa, lanjut Gatot, standar event harus tinggi. Tidak boleh suatu gelaran dikerjakan secara amatiran atau sekadarnya.

”Profesionalitas dan standar tinggi berkonsekuensi membuat mahasiswa yang terlibat akan tertatih, tetapi tekanan ini bagus untuk mentalitas saat berada dalam dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat,” kata Gatot.

Secara terpisah, Wakil Wali Kota Surabaya Armuji mengatakan, ibu kota Jatim kian dikenal salah satunya dengan produksi sinematografi dan konten media sosial.

”Surabaya memang lebih dikenal sebagai kota jasa, perdagangan, tetapi punya potensi yang bisa dioptimalkan dalam kerja seni secara profesional, mungkin salah satunya perfilman,” kata Armuji.

Baca JugaFestival Film Ciputra Diikuti Ribuan Sinema, Singkap Potensi Besar Industri Kreatif Surabaya
Baca JugaFilm Dokumenter, Sarana Mengenalkan Tokoh Inspiratif


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Toyota Urban Cruiser Ebella, Jadi Saudara Suzuki e Vitara
• 22 jam lalumedcom.id
thumb
Kronologi Kecelakaan Pikap Bawa 16 Penumpang di Sumedang, Korban Bergeletakan
• 14 jam lalurctiplus.com
thumb
Khofifah Pastikan SPMB Jatim 2026 Bebas Antrean, Verifikasi Data Terjadwal
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Piala AFF U-19: Timnas Indonesia Tidak Pernah Kalah Lawan Timor Leste, Nova Arianto Waspadai Kebangkitan Lawan
• 5 jam laluharianfajar
thumb
Diperiksa Polisi Buntut Seruan Gulingkan Pemerintah, Saiful Mujani: Daripada Saya di Andrie Yunus-kan!
• 3 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.