Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara kembali terbang seiring lonjakan harga minyak dan masih tingginya kekhawatiran pasokan di China.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara kontrak Juli pada perdagangan Rabu (2/6/2026) ditutup di posisi US$ 148 per ton atau terbang 2,2%.
Harga penutupan kemarin adalah yang tertinggi sejak 30 Maret 2026 atau dua bulan lebih. Kenaikan ini juga membawa batu bara mendekati level US$ 150 per ton.
Harga batu bara melonjak ditopang kenaikan minyak dan kondisi di China.
Pada Rabu, harga minyak naik setelah AS dan Iran melancarkan serangan baru. Kontrak minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 2,41% dan ditutup di US$96,02 per barel, sedangkan Brent menguat 1,89% ke US$97,81 per barel.
Batu bara dan minyak adalah komoditas yang saling memengaruhi karena menjadi substitusi.
Kenaikan juga dipicu kondisi di China. Harga batu bara di China terutama kokas naik akibat kekurangan pasokan struktural yang masih berlangsung.
Pemicunya adalah gangguan produksi setelah kecelakaan tambang maut di Shanxi yang menewaskan 82 orang dan memicu inspeksi keselamatan ketat di berbagai tambang batu bara China. Langkah itu membuat banyak tambang menghentikan produksi sehingga pasokan mengetat.
Di sisi lain, permintaan dari pabrik baja tetap kuat menjelang musim puncak konsumsi energi musim panas. Produksi hot metal China bahkan mencapai level tertinggi sejak Oktober tahun lalu, sehingga kebutuhan bahan baku baja seperti coking coal tetap tinggi.
Kondisi tersebut membuat harga kontrak batu bara kokas di Dalian Commodity Exchange melonjak tajam dan harga kokas ikut naik. Pasar menilai pemulihan produksi tambang berlangsung lebih lambat dibanding gangguan pasokan akibat inspeksi keselamatan.
Namun, harga batu bara termal tertekan karena produksi domestik China tetap tinggi dan stok batu bara di pelabuhan maupun pembangkit listrik meningkat. Permintaan listrik juga belum cukup kuat untuk menyerap kelebihan pasokan tersebut.
Pemerintah China sebelumnya mendorong peningkatan produksi batu bara demi menjaga ketahanan energi setelah krisis listrik beberapa tahun lalu. Akibatnya, pasokan batu bara domestik melimpah dan menekan harga di pasar domestik.
Selain itu, impor batu bara China mulai melemah karena pembeli lebih memilih pasokan domestik yang lebih murah. Kondisi ini membuat harga batu bara termal di tingkat tambang kehilangan momentum kenaikan.
(mae/mae) Add as a preferredsource on Google




