Kebijakan Ekonomi PKT yang Terdistorsi Menyebabkan Penderitaan Global

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

oleh Lin Yan – Epochtimes.com

Kebijakan industri global Beijing yang terdistorsi sangat merugikan ekonomi global. Tidak seperti ekonomi normal lainnya, Partai Komunis Tiongkok (PKT) tidak bermaksud menyerahkan industri kelas bawah kepada pemain hilir, sebaliknya, rezim ingin sekaligus mengendalikan sektor hulu, hilir, dan berbagai sektor manufaktur, sehingga menyulitkan upaya estafet dari negara lain. Kebijakan ekonomi PKT yang terdistorsi telah menyebabkan penderitaan bagi negara-negara lain di dunia.

Sebuah artikel yang dimuat di “The Economist” baru-baru ini menunjukkan bahwa “Flying Geese Paradigm” (Paradigma Angsa Terbang, model ekonomi yang menggambarkan bagaimana perkembangan industri dan kekayaan menyebar di suatu wilayah) yang diusulkan oleh ekonom Jepang Kaname Akamatsu pada tahun 1930-an, menjelaskan siklus pada industri tekstil Jepang “impor → domestik → ekspor” yang kemudian diperluas menjadi model dinamis pembangunan ekonomi regional di Asia, secara bertahap meningkatkan industri dengan mengikuti model angsa yang sedang bermigrasi: angsa yang terbang terdepan membuka jalan dan menahan hambatan angin, sementara yang lain mengikuti secara berurutan.

Contoh paling klasik dari Flying Geese Paradigm adalah kebangkitan Empat Macan Asia: Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong, dan Singapura. Dengan ledakan ekonomi Jepang dan kenaikan upah, industri padat karya bergeser dari angsa terdepan ke ekonomi berkembang seperti Korea Selatan dan Taiwan.

Selama ini banyak negara berharap Tiongkok dapat membawa momentum pertumbuhan serupa ke negara-negara miskin. Namun, harapan ini semakin tidak mungkin terwujud.

Dalam sebuah makalah baru, Shoumitro Chatterjee dari Universitas Johns Hopkins dan Arvind Subramanian dari Institut Peterson untuk Ekonomi Internasional menunjukkan bahwa meskipun upah meningkat dan sektor manufaktur di Tiongkok lebih matang, negara itu masih memegang “pangsa yang luar biasa tinggi secara historis” dalam manufaktur kelas bawah.

Sekarang, bahkan negara-negara maju seperti Jerman khawatir tentang ekspansi Tiongkok ke industri kelas atas, dan bahkan negara-negara miskin bertanya-tanya kapan Beijing akan melepaskan pasar kelas bawahnya dan memberi ruang bagi mereka.

Barang manufaktur sering dikategorikan menjadi empat jenis: produk teknologi rendah, teknologi menengah, teknologi tinggi, dan produk berbasis sumber daya alam (seperti minyak olahan).

Sebuah makalah karya Yu Fei dan Guo Kai dari China Finance 40 Institute (CF40), sebuah lembaga think tank Tiongkok, menemukan bahwa antara tahun 2010 dan 2024, pangsa ekspor global Tiongkok untuk keempat kategori barang manufaktur meningkat, menunjukkan bahwa “manufaktur Tiongkok bersaing dengan semua negara.”

The Economist berpendapat bahwa dalam beberapa kasus, pangsa manufaktur Tiongkok seharusnya lebih besar daripada angka ekspornya. Hal ini karena Tiongkok juga merupakan pengekspor utama bahan baku untuk produk padat karya, yang mungkin dijahit atau dirakit menjadi produk jadi di tempat lain. 

Di antara 30 negara berpenghasilan rendah dan menengah dengan data yang tersedia, Tiongkok menyumbang 64% dari total nilai ekspor pakaian, tekstil, kulit, dan produk serupa. Proporsi ini jauh lebih tinggi daripada proporsi penduduk usia kerja Tiongkok dalam kelompok pendapatan yang sama.

Kebijakan Ekonomi PKT yang Terdistorsi Menyebabkan Penderitaan Global

Jadi, apa yang menyebabkan fenomena aneh ini? Lant Pritchett, ekonom pembangunan pada tahun 2010 menunjukkan bahwa ekonomi Tiongkok di bawah pemerintahan PKT bukanlah angsa, melainkan “Pterosaur of population” (menggambarkan besarnya perekonomian Tiongkok dan betapa tidak meratanya perkembangannya, sehingga menciptakan guncangan unik dan tekanan kompetitif di pasar global).

Faktor lain adalah ketidakseimbangan ekstrem dalam pembangunan ekonomi Tiongkok, dengan kekayaan dan kemiskinan yang ekstrem berdampingan. Yu Fei dan Guo Kai menunjukkan bahwa PDB per kapita dari empat kota terkaya di Tiongkok (total penduduk 84 juta) melebihi PDB per kapita Jepang. 

Sementara itu, tingkat pendapatan dari empat provinsi termiskinnya (penduduk 140 juta) mirip dengan Vietnam. Mereka mengatakan bahwa situasi ekonomi Tiongkok setara dengan 0,7 kali lipat dari Jepang, hampir 6 kali lipat dari Malaysia, 5 kali lipat dari Meksiko, 4 kali lipat dari Thailand, dan 1,4 kali lipat dari Vietnam. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Tiongkok bersaing dengan semua negara lain.

Laporan AS Menunjukkan PKT Sedang Menerapkan Kebijakan Industri yang Komprehensif

Sebuah laporan yang dirilis bulan ini oleh perusahaan riset AS, Rhodium Group menemukan bahwa Partai Komunis Tiongkok sedang mendorong “kebijakan industri komprehensif,” yang mencakup hampir semua industri dan wilayah, secara bersamaan menangani penawaran dan permintaan, menekankan barang dan jasa, serta mencakup sektor-sektor mutakhir dan tradisional.

Kerangka kebijakan tersebut mencakup teknologi mutakhir dan industri yang sudah mapan, serta simpul-simpul rantai pasokan dasar. Pedoman kebijakan Beijing yang diperbarui, yang dirilis pada tahun 2023, juga mencakup industri-industri yang sudah mapan seperti peralatan rumah tangga dan tekstil.

Pada tahun 2016, Tiongkok menyumbang lebih dari setengah ekspor global di 163 jenis industri (diklasifikasikan menurut standar internasional). Antara tahun 2021 dan 2024, angka ini hampir berlipat ganda, meningkat dari 192 menjadi 315 jenis.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa putaran ekspansi ekonomi ini terjadi dalam lingkungan makroekonomi yang lebih terbatas di Tiongkok. Di mana Beijing terus memperkuat kendalinya atas pengeluaran fiskal, pinjaman bank, pasar modal, dan dana investasi negara. Pada saat yang sama, ekonomi Tiongkok sedang menghadapi tantangan seperti perlambatan pertumbuhan, lemahnya permintaan domestik, meningkatnya tekanan fiskal, dan menurunnya efisiensi alokasi modal.

Meskipun pemerintah secara verbal mengakui perlunya mengatasi ketidakseimbangan industri, tetapi respons kebijakan mereka jelas tidak memadai. Lebih jauh lagi, kebijakan untuk merangsang konsumsi terbatas cakupannya, dan masalah mendasar dari lemahnya permintaan sebagian besar masih belum terselesaikan.

Kolumnis Wall Street Journal, Greg Ip, menulis di artikelnya bahwa di balik lapisan manufaktur yang maju, ekonomi Tiongkok stagnan, tercekik di bawah beban utang, deflasi, dan populasi yang menua.

Greg Ip menyebutkan bahwa sejumlah kritikus memprediksi, bahkan berharap, bahwa kebijakan industri PKT pada akhirnya akan runtuh di bawah beban kontradiksi mereka sendiri. Namun, tidak ada yang dapat memprediksi secara akurat kapan itu akan terjadi. (***)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jadwal Sidang Putusan Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus
• 20 jam laluliputan6.com
thumb
KPK Cari Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Silmy Karim, Terkait OTT di Jakbar
• 16 jam laluliputan6.com
thumb
Purbaya Respons soal Anjloknya IHSG ke Level 5.000-an: Kondisi Ekonominya Bagus
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Profil dan Riwayat Pendidikan Dadan Hindayana Eks Kepala BGN Diciduk Kejagung, Alumnus IPB Terbaik
• 23 jam laludisway.id
thumb
Sultan HB X Buka Rakernas APJI di Yogya, Dorong Digitalisasi Industri Jasaboga
• 16 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.