Terdampak Pelemahan Rupiah, Bos KAI Buka Suara soal Harga Tiket

bisnis.com
6 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mengakui pelemahan nilai tukar rupiah mulai memberikan tekanan terhadap kinerja operasional perusahaan, terutama pada sejumlah komponen biaya yang masih bergantung pada impor.

Berdasarkan data analisis Doo Financial Futures, rupiah dibuka melemah sebesar 0,11% ke level Rp17.998.

Pelemahan mata uang Garuda terhadap dolar AS sejalan dengan depresiasi mayoritas mata uang Asia lainnya. Hal ini ditunjukkan dari Yen Jepang terhadap dolar AS melemah 0,11%, diikuti dolar Singapura terhadap dolar AS yang melemah 0,03%, won Korea melemah 0,35%, dolar Hong Kong ikut melemah 0,03%. 

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan fluktuasi kurs menjadi salah satu faktor yang memengaruhi beban operasional perseroan. Hal itu terutama terkait kebutuhan suku cadang kereta api yang masih didatangkan dari luar negeri. 

"Tentu berpengaruh. Sebab masih ada sejumlah suku cadang [spare part] yang kami beli dari luar negeri," ujar Bobby di Jakarta, dikutip Kamis (4/6/2026).

Terlebih, nilai tukar rupiah kian menunjukkan tren pelemahan hingga menembus di kisaran Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (4/6) pagi.

Selain komponen impor, Bobby menjelaskan sebagian kebutuhan bahan bakar untuk operasional kereta juga dibeli dengan harga komersial sehingga turut terpengaruh dinamika harga pasar.

"Selain itu, sebagian kebutuhan solar kami juga tidak menggunakan solar bersubsidi, melainkan solar dengan harga pasar," jelasnya.

Kendati demikian, KAI belum berencana melakukan penyesuaian tarif tiket di tengah tekanan akibat pelemahan rupiah tersebut. Perseroan masih mengkaji berbagai langkah efisiensi untuk menjaga kinerja operasional, di tengah fluktuasi nilai tukar.

"Belum ada. Saat ini belum ada kajian untuk menaikkan harga tiket," tegasnya.

Pernyataan tersebut memberikan sinyal bahwa masyarakat masih dapat menikmati tarif kereta api yang berlaku saat ini, meskipun perusahaan menghadapi tekanan biaya akibat pelemahan rupiah dan kenaikan sejumlah komponen operasional yang mengikuti harga pasar.

Sebagai catatan, volume angkutan penumpang KAI tercatat sebanyak 493 juta orang sepanjang 2025, atau naik 9% dibandingkan 452 juta orang pada tahun sebelumnya.

Sementara itu, volume angkutan barang KAI tercatat sebanyak 70 juta ton barang pada 2025, naik 0,5% dibandingkan 69,2 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi kinerja keuangan, perseroan membukukan total pendapatan konsolidasi yang belum diaudit sebesar Rp35,7 triliun pada 2025. Angka tersebut terkoreksi tipis 1% (year-on-year/yoy) dibandingkan realisasi 2024 yang mencapai Rp35,9 triliun.

"Laba bersih perusahaan naik 2% dari Rp2,2 triliun pada tahun 2024, menjadi Rp2,3 triliun pada 2025," pungkas Bobby.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Noel Ebenezer Harap Divonis Bebas di Kasus Pemerasan Sertifikasi K3
• 2 jam laluviva.co.id
thumb
Baca Pleidoi! Nadiem Yakin Kasus Chromebook Tidak Ada Mens Rea: Tak Ada Kerugian Negara
• 16 jam lalukompas.tv
thumb
Menikmati Sarapan Mewah di The Trans Luxury Hotel Surabaya
• 6 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Harga Telur Turun, Pemerintah Minta SPPG Wajib Serap Produksi Lokal: Jaga Harga Sesuai HET
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
IHSG Anjlok ke Level 5.000-an, Dirut BEI Beberkan Kondisi Fundamental Pasar
• 1 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.