Satu Anak di Toraja Utara Meninggal Usai Digigit Anjing, Sebelumnya Positif Rabies dan Terlambat Dibawa ke Rumah Sakit

harianfajar
3 jam lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Kasus rabies kembali memakan korban di Toraja Utara. Seorang anak dilaporkan meninggal dunia setelah sempat mengalami gejala serius akibat infeksi rabies. Korban ternyata pernah digigit anjing sebulan sebelum akhirnya dirawat di rumah sakit.

Peningkatan kasus rabies di Toraja kembali menjadi perhatian serius. Korbannya kali ini seorang anak berinisial N yang berasal dari Rantepao, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan.

Korban sempat mendapatkan penanganan medis di Rumah Sakit Lakipadada, Tana Toraja. Namun terlambat untuk ditangani, sehingga nyawanya tidak dapat diselamatkan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, anak tersebut diketahui pernah mengalami gigitan anjing sekitar satu bulan sebelum akhirnya dibawa ke rumah sakit.

Pilih Pengobatan Tradisional

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Toraja Utara, dr. Remen Taula’bi’, mengungkapkan bahwa pihaknya juga terkejut saat menerima laporan kasus tersebut.

Menurutnya, setelah peristiwa gigitan terjadi, keluarga korban tidak segera membawa anak tersebut ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis sesuai prosedur. Sebaliknya, keluarga lebih memilih melakukan pengobatan tradisional.

“Jadi orang tua anak ini jauh sebelum kejadian, memilih pengobatan kampung daripada pergi ke puskesmas ataupun ke dinas terkait seperti dinas pertanian,” ujar Remen, Kamis (4/6/2026).

Ia berharap kejadian serupa tidak kembali terulang dan masyarakat lebih cepat mengambil langkah medis ketika terjadi kasus gigitan hewan yang berpotensi menularkan rabies.

“Jadi kami penyuluh kesehatan, penyuluh pertanian dan dari instansi lainnya sudah sering mengedukasi masyarakat di bawah. Namun keputusan terakhir ada di masyarakat. Intinya mari kita sama-sama menjaga daerah kita,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Toraja Utara, Medan Sandabunga, menegaskan pihaknya terus berupaya memberikan pelayanan kepada masyarakat meski di tengah berbagai keterbatasan.

Menurutnya, kebutuhan vaksin rabies untuk hewan masih perlu mendapat perhatian lebih dari pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi.

“Dengan segala keterbatasan, kami siap melayani masyarakat sekuat kami. Memang kami berharap vaksin untuk hewan juga ditambah oleh kementerian dan provinsi. Kalau vaksin untuk manusia kan penanggung jawabnya Dinas Kesehatan,” jelas Medan.

Ia menilai meningkatnya kasus rabies tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga berpotensi memengaruhi sektor ekonomi dan pariwisata daerah.

“Jadi bukan hanya ekonomi dari peternakan atau ekonomi warga secara umum, ini juga berdampak ke ranah pariwisata, bisa turis ini menurun,” katanya.

Guna mengantisipasi penyebaran kasus yang lebih luas, Medan berharap seluruh unsur yang tergabung dalam Satgas Rabies kembali meningkatkan peran dan koordinasi di lapangan.

Menurutnya, penanganan rabies membutuhkan kerja sama lintas sektor, mulai dari bidang kesehatan, pertanian, peternakan hingga pariwisata.

“Jadi dari Dinas Pariwisata, Kesehatan, Pertanian yang di dalamnya ada peternakan, guide dan lain sebagainya agar juga aktif kembali. Semoga persoalan teknis-teknis lainnya juga akan semakin diperlengkapi,” tutupnya. (edy)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kenapa Kreativitas dan Adaptabilitas Jadi Skill Terpenting di Era AI?
• 15 jam laluviva.co.id
thumb
Klasemen Piala AFF U-19 2026 Jelang Timnas Indonesia U-19 Vs Timor Leste: Garuda Nusantara Siap Kudeta Vietnam dari Puncak
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
Menlu Sugiono Tanggapi Saran Dino Patti Djalal: Diplomasi Perlu Pertemuan Langsung
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
Erick Thohir Sanjung John Herdman Promosikan Mathew Baker ke Timnas Indonesia, Singgung Alphonso Davies di Kanada
• 8 jam lalubola.com
thumb
Zodiak yang Paling Suka Pelihara Anabul
• 21 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.