Bisnis.com, JAKARTA — PT Supra Boga Lestari Tbk. (RANC) memastikan program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) yang tengah digencarkan pemerintah belum memberikan dampak material terhadap bisnis perseroan.
Direktur RANC Hady Purnama menilai kehadiran koperasi desa akan menciptakan dinamika baru dalam industri ritel Indonesia. Namun demikian, perseroan memilih menyikapinya secara positif dan optimistis.
"Bagi RANC, kehadiran koperasi desa kami sikapi dengan cermat tetapi optimistis berpotensi memperkuat daya beli masyarakat di tingkat menengah ke bawah. Pada akhirnya hal itu justru dapat memperluas basis konsumen ritel modern secara keseluruhan," ujarnya kepada Bisnis, Rabu (3/6/2026).
Selain itu, pengelola jaringan Ranch Market dan Farmers Market itu menilai segmen pasar yang dibidik KDMP berbeda dengan target konsumen yang dilayani perseroan.
Dia meyakini koperasi desa dan ritel modern tidak berada dalam posisi saling meniadakan. Kedua model bisnis tersebut justru dinilai dapat berkembang secara berdampingan karena menyasar kebutuhan dan segmen konsumen yang berbeda.
"Kami percaya koperasi desa dan ritel modern dapat berjalan berdampingan secara komplementer, bukan saling menggantikan. Segmen, kualitas layanan, dan pengalaman berbelanja yang ditawarkan memiliki karakteristik yang berbeda," ujarnya.
Baca Juga
- Supra Boga (RANC) Targetkan Pendapatan Naik 16,3% di 2026
- GMFI Rancang Kuasi Reorganisasi, Tutup Saldo Laba Negatif US$512 Juta
- Singaraja Putra (SINI) Rancang Rights Issue untuk Akuisisi Tambang PTRO Rp1,73 Triliun
Sisi lain perseroan tetap akan menjalankan strategi ekspansi secara hati-hati dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan tingkat persaingan di masing-masing wilayah. Untuk mendukung ekspansi bisnis, RANC mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp130 miliar pada 2026.
Dana capex tersebut digunakan selain untuk pembukaan toko baru, juga untuk mendukung renovasi toko serta peremajaan equipment. Perseroan menegaskan bahwa setiap pembukaan gerai baru akan melalui kajian yang matang agar tetap sejalan dengan profil konsumen yang menjadi target perusahaan.
Pada tahun ini, perseroan menargetkan membuka empat gerai baru. Tiga gerai telah beroperasi pada kuartal pertama 2026, sementara satu gerai tambahan dijadwalkan dibuka pada Juni di Jakarta.
Sementara itu, sepanjang 2025, RANC menutup tiga gerai yang dinilai tidak memberikan kontribusi optimal. Perseroan tercatat mengoperasikan 57 gerai yang tersebar di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Makassar, hingga Ambon per akhir 2025.
Emiten terafiliasi dengan grup Djarum menargetkan perolehan pendapatan bersih sebesar Rp 3,39 triliun pada 2026, atau bertumbuh16,30% dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara dari sisi bottom line, Supra Boga Lestari diproyeksikan masih tetap membukukan kerugian senilai Rp19,97 miliar. Angka tersebut menurun jika dibandingkan rugi tahun berjalan tahun 2025 yang sebesar Rp53,96 miliar.
Per kuartal I/2026, RANC tercatat membukukan pendapatan sebesar Rp823,45 miliar, lebih tinggi 9,23% dibandingkan Rp753,19 miliar di periode yang sama tahun sebelumnya.
Perusahaan juga berhasil membalikan keadaan dengan mencetak laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp7,17 miliar, dari posisi rugi Rp5,21 miliar pada kuartal I/2025.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





