Bisnis.com, JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) dalam intraday perdagangan Kamis (4/6/2026) pukul 11.04 WIB melemah 3,88% ke 5.710. Level harga indeks komposit itu mencerminkan koreksi tajam sebesar 33,96% sejak awal tahun.
Secara bulanan, IHSG juga rutin terpangkas sejak Januari hingga Mei. Rentetan koreksi ini bahkan mendekati rekor koreksi bulanan terpanjang saat krisis finansial global 2008 silam.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan mengatakan bahwa terdapat empat faktor yang saling berkaitan menjadi penyebab koreksi IHSG. Menurutnya, penurunan tajam indeks komposit bukan sekadar aksi jual umum di pasar saham, melainkan cerminan dari kenaikan risk premium di emerging market seperti Indonesia.
Faktor pertama menurutnya adalah risiko fiskal akibat lonjakan harga minyak global yang dipicu konflik AS-Iran membuat harga minyak global melonjak, sedangkan Indonesia merupakan net importir minyak.
"Kedua adalah menurunnya kepastian kebijakan pemerintah. Misalnya perubahan kebijakan royalti tambang yang berulang hingga wacana kebijakan ekspor satu pintu," ujarnya, dikutip Kamis (4/6/2026).
Ketiga, faktor outlook negatif terhadap utang pemerintah yang dikeluarkan oleh pemeringkat global Moody's dan Fitch Rating.
Baca Juga
- IHSG Dibuka Melemah, Saham Big Caps BMRI hingga MORA Cs Kompak Merah
- Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini Kamis 4 Juni 2026
- Eksodus Dana Asing Hantam Bursa RI, BRIDS-KISI Rombak Target IHSG 2026
Keempat, review MSCI yang menghapus enam saham berkapitalisasi besar Indonesia dari indeksnya membuat asing ramai-ramai hengkang.
"Arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia yang mencapai US$3,1 miliar sepanjang tahun ini mencerminkan proses pengurangan risiko (de-risking) oleh investor asing," ujar Erindra.
Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai pelemahan tajam IHSG saat ini bersifat spesifik domestik. Pasalnya, kala pasar modal Indonesia tertekan, bursa negara kawasan Asia terpantau masih cukup stabil, bahkan ada yang melonjak signifikan di tengah gejolak geopolitik.
"Pasar modal Indonesia sedang dihukum investor global bukan karena ekonominya tidak tumbuh, melainkan karena masalah transparansi kepemilikan saham (free float) yang disorot MSCI serta kekhawatiran atas disiplin anggaran fiskal," kata Nafan.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





