Di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat ketegangan geopolitik, fragmentasi ekonomi, disrupsi teknologi, hingga perubahan iklim, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dinilai tetap menjadi fondasi utama ketahanan ekonomi nasional. UMKM yang dijalankan oleh perempuan memiliki peran signifikan dalam menggerakkan perekonomian.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, sebanyak 64,5% pelaku UMKM di Indonesia atau sekitar 37 juta orang adalah perempuan.
CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, mengatakan meskipun kondisi ekonomi Asia saat ini tidak mudah dan jutaan usaha kecil masih menghadapi tantangan berat, setiap periode ketidakpastian selalu menghadirkan peluang baru bagi mereka yang terus membangun.
"Saya tetap optimistis. Bukan karena tantangan yang kita hadapi kecil, tetapi karena saya melihat langsung ketangguhan, kreativitas, dan determinasi para pengusaha di berbagai wilayah Asia," ujar Taufan dalam The 2026 Asia Grassroots Forum (AGF) by Amartha, di Jakarta, Kamis (4/6).
Menurutnya, kewirausahaan tetap menjadi salah satu kekuatan terbesar untuk mendorong kemajuan dan inovasi merupakan alat efektif dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat.
Di tengah situasi yang penuh tantangan, kolaborasi antara pelaku usaha, investor, pembuat kebijakan, akademisi, dan komunitas menjadi kunci untuk memastikan lebih banyak wirausaha dapat berkembang.
Taufan menyoroti pengalaman bertemu seorang ibu yang menjadi pelaku usaha di Alor, Nusa Tenggara Timur, yang menjadi gambaran nyata bagaimana perempuan di tingkat akar rumput terus berjuang mempertahankan usaha dan kehidupan keluarganya.
Baginya, kemajuan ekonomi tidak hanya diukur dari pertumbuhan kelompok atas, melainkan dari seberapa jauh kelompok masyarakat di lapisan bawah dapat terangkat.
"Dia mungkin tidak akan pernah menghadiri forum seperti ini. Tetapi percakapan yang kita lakukan, kemitraan yang kita bangun, dan tindakan yang kita ambil akan membentuk peluang bagi orang-orang seperti dia. Dan itu adalah tanggung jawab kita," ujarnya.
Sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan ekonomi keluarga dan UMKM, Amartha bersama sejumlah mitra meluncurkan Indonesian Coalition for Financial Health, sebuah platform kolaborasi yang mempertemukan sektor swasta, pemerintah, lembaga pembangunan, peneliti, dan pelaku ekosistem untuk meningkatkan kesehatan finansial keluarga serta usaha kecil di Indonesia.
Sementara itu, Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengatakan dunia saat ini memasuki era baru yang ditandai ketidakpastian berkepanjangan.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi pemerintah dan pasar keuangan, tetapi juga masyarakat biasa, termasuk petani, pekerja, generasi muda, dan para pelaku UMKM.
"Pertanyaan penting bagi negara-negara berkembang saat ini bukan lagi sekadar bagaimana tumbuh cepat, tetapi bagaimana membangun pertumbuhan yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan di tengah dunia yang semakin terfragmentasi," kata SBY.
Ia menilai UMKM merupakan tulang punggung ekonomi Asia Tenggara. Mulai dari pedagang makanan, toko keluarga, petani, nelayan, hingga pelaku usaha digital, semuanya berperan menjaga roda perekonomian tetap bergerak ketika terjadi guncangan global.
"Saya percaya Asia memiliki keunggulan penting. Di seluruh Asia Tenggara, terlepas dari perbedaan sistem politik, struktur ekonomi, dan sejarah nasional kita, banyak masyarakat kita memiliki realitas akar rumput yang serupa. Dari Indonesia hingga Vietnam, dari Filipina hingga Thailand, jutaan usaha mikro, kecil, dan menengah membentuk tulang punggung perekonomian kita," kata SBY.
Pemberdayaan UMKM Jadi Agenda Strategis EkonomiMenurut SBY, pemberdayaan UMKM bukan hanya agenda sosial, tetapi juga agenda strategis ekonomi. Ia mengatakan negara yang mampu memperkuat UMKM akan memiliki ketahanan ekonomi yang lebih kuat pula.
"Negara-negara yang memperkuat kewirausahaan akar rumput akan memiliki ketahanan yang lebih kuat, partisipasi ekonomi yang lebih luas, dan stabilitas sosial yang lebih besar," ucapnya.
SBY juga menyoroti peluang besar yang dibawa oleh transformasi digital. Kehadiran layanan keuangan digital, e-commerce, mobile banking, dan berbagai platform teknologi memungkinkan jutaan pelaku usaha kecil mendapatkan akses terhadap pasar, pembiayaan, pendidikan, dan peluang usaha yang sebelumnya sulit dijangkau.
Secara khusus, ia menekankan teknologi membuka ruang yang lebih besar bagi perempuan untuk berpartisipasi dalam ekonomi formal.
"Seorang perempuan pelaku usaha kini dapat lebih terlibat dalam perekonomian formal melalui dukungan teknologi dan akses digital," ujarnya.




