BILA ada yang bertanya, apa kontribusi saudara-saudari kita orang Minang terhadap republik? Tidak pelik menjawabnya.
Sebelum dan sesudah kemerdekaan, orang-orang Minang itu sangat berjasa membuat bangsa kita melek huruf dan membangun kebiasaan membaca.
Orang Minang memiliki jasa membangun literasi di negeri ini. Lewat sastrawan dan budayawan Minang, muncul novel, hikayat, dan Roman.
Kita pun sebagai anak-anak bangsa, terpanggil dan terbiasa membaca karya-karya sastra tersebut.
Sejak duduk di bangku SD, saya sudah membaca karya-karya sastra itu. Tiada hari tanpa bacaan sastra.
Dari situ pulalah saya membangun mimpi untuk menjadi sastrawan. Namun, hingga kini, mimpi itu tidak pernah terwujud.
Tentu jutaan anak-anak bangsa sama dengan saya, menggandrungi karya-karya sastra tersebut. Namun, kita sangat menyesali, mengapa para sastrawan Minang seolah lenyap sekarang ini di republik kita?
Baca juga: Kondisi Ekonomi Kita
Tak usah melakukan penelitian untuk menjawabnya. Peran para sastrawan Minang digeser secara sengaja dan sistematis oleh para petinggi atau ponggawa negeri sekarang.
Lho, apa maksudnya ini? Penjelasannya sebagai berikut.
Para sastrawan Minang dahulu, memiliki wilayah jelajah imajinasi yang luar biasa. Mereka bisa membawa kita ke arah imajinasi yang mereka tulis.
Para pesohor negeri kita kini, yang mengganti peran para sastrawan Minang tadi, juga punya imajinasi luar biasa. Namun, mereka berbeda secara mendasar dalam hal moral.
Para sastrawan Minang menggugah relung-relung kalbu kita dengan imajinasi. Mereka menyentuh hati kita dengan terawangan.
Mereka mendikte kita secara moral dengan khayalan untuk diwujudkan dalam dunia nyata. Para sastrawan tersebut beredar dalam wilayah moral dan akhlak tinggi.
Sebaliknya, para pesohor atau ponggawa negeri kita sekarang ini, memang punya imajinasi, memiliki khayalan, tapi bukan sebagai panduan moral dan akhlak bangsa.