Dari Jauh, Saya Tahu Ia Akan Sampai ke Sana: Catatan Milad untuk Rudianto Lallo

harianfajar
5 jam lalu
Cover Berita

​Ada orang yang ketika mencapai puncak kekuasaan membuat kita terkejut. Namun, ada pula manusia yang ketika berhasil berdiri di puncak tertinggi, justru membuat kita menghela napas lega dan berkata dalam hati: “Akhirnya, ia sampai juga ke sana.”

​Hari ini, tatkala kalender menandai hari kelahirannya, ingatan saya terlempar jauh pada sebuah garis waktu yang panjang. Hari ini adalah hari ulang tahun sahabat lama saya, kawan seperjalanan yang kini takdirnya tengah menjadi salah satu wajah baru yang paling diperbincangkan di Komisi III DPR RI: Rudianto Lallo.

​Jujur saja, melihatnya berdiri di panggung nasional hari ini, saya sama sekali tidak terkejut. Sebab, saya beruntung telah mengenalnya jauh sebelum gemerlap panggung politik mencerahkan namanya.

​Saya mengenalnya ketika ia masih seorang aktivis mahasiswa di ISMAHI Makassar. Saat itu, politik baginya masih berupa peta mimpi yang sedang dirintis, bukan jabatan yang sudah diraih. Ia masih seorang pengacara muda yang bertarung di Kantor Advokat Lukas ketika sebuah dering telepon dari Akbar Faisal mempertemukan kami untuk pertama kalinya. Saat itu, saya mengemban amanah sebagai Sekretaris DPW Partai NasDem Sulawesi Selatan. Siapa yang menyangka, percakapan dan pertemuan sederhana di masa lalu itu menjadi hulu dari hilir perjalanan panjang persahabatan, sekaligus awal dari pengamatan saya terhadap seorang anak muda yang memiliki keyakinan magis terhadap masa depannya.

​Jika ada satu kata yang paling pekat melekat dalam ingatan saya tentang Rudi, maka kata itu adalah: teguh. Ia bukan tipe politisi pragmatis yang pandai bersilat lidah demi menyenangkan semua telinga. Ia bukan tipe orang yang hobi berbicara panjang hanya untuk mencari posisi aman. Ia keras, tegas, lugas, dan tanpa basa-basi. Karakter aslinya ini kadang membuat sebagian orang merasa tidak nyaman. Namun, justru di situlah letak keotentikannya. Latar belakang aktivisme telah menyepuh mentalnya menjadi pribadi yang terbiasa bersuara melawan arus, bukan sekadar bebek yang mengekor ke mana angin kekuasaan bertiup. Idealisme itu mengalir pekat di dalam darahnya, dan tidak semua orang memiliki nyali untuk memelihara idealisme masa muda hingga sedewasa ini.

​Tentu, perjalanan politik tidak pernah sunyi dari riak dan benturan ego. Saya masih mengingat dengan sangat jernih satu fragmen peristiwa yang takkan pernah luntur dari ingatan. Suatu ketika, almarhum Lutfi A. Mukti meminta saya untuk memfasilitasi pertemuan dan mendamaikan dua tokoh muda yang sama-sama saya hormati: Syaharuddin Alrif dan Rudianto Lallo. Saya mempertemukan mereka di sebuah hotel yang saat itu masih bernama Clarion Makassar.

​Banyak orang mungkin tidak mengetahui cerita di balik layar tersebut. Namun bagi saya, peristiwa itu adalah madrasah kehidupan yang mengajarkan bahwa politik tidak selalu tentang kalkulasi pertarungan dan saling menumbangkan. Kadang, politik adalah tentang seni menjembatani ego, merawat komunikasi, dan menjaga sakralnya sebuah persahabatan.

​Waktu kemudian membuktikan bahwa kapasitas Rudi terus bertumbuh melampaui ruang-ruang negosiasi. Publik Makassar kemudian menyaksikannya menakhodai parlemen kota sebagai Ketua DPRD Kota Makassar. Di posisi inilah kepemimpinannya diuji secara nyata. Ia bukan lagi sekadar anak muda yang berani berteriak di jalanan, melainkan seorang pemimpin formal yang mampu mengambil sikap, menelurkan gagasan, dan menancapkan karakter politiknya sendiri secara berwibawa.

​Di tengah perjalanan yang merayap naik itu, ia dengan bangga mengunci satu identitas geografisnya: Anak Utara. Lalu disusul oleh sebuah jargon ideologis yang tak kalah menyengat: Anak Rakyat. Bagi sebagian pengamat, itu mungkin dianggap sekadar tagline politik musiman. Namun bagi saya yang membaca batinnya, itu adalah sebuah deklarasi hidup. Ia sedang menegaskan kepada dunia bahwa ia bukan anak siapa-siapa. Ia tidak lahir dari rahim dinasti politik besar, tidak juga tumbuh dari hamparan karpet merah privilese kekuasaan. Ia murni anak rakyat yang memiliki mimpi besar, dan yang lebih penting: ia memiliki keberanian untuk mempertaruhkan segalanya demi mewujudkan mimpi itu.

​Ujian tertingginya barangkali terjadi pada Pileg 2024 lalu. Takdir menempatkan kami pada pilihan politik yang berseberangan. Saya mendapat amanah yang cukup berat sebagai Ketua Tim Pemenangan Fatmawati Rusdi di Dapil Sulawesi Selatan I. Kita semua tahu betapa kompetitifnya situasi saat itu. Riuh rendah prediksi bertebaran, dan berbagai kalkulasi angka dimainkan di atas meja-meja konsultan.

​Namun, di tengah ketegangan itu, saya masih mengingat percakapan santai saya dengan Sugali, sahabat lama kami sesama aktivis. Saya katakan kepada Sugali sambil tertawa, “Kita dapat dua kursi. Dan Rudi itu lolos kok.”

​Saya mengucapkan kalimat itu bukan karena saya sedang mendukungnya secara politik, sebab posisi saya saat itu jelas berbeda. Saya mengatakannya karena saya melihat data objektif, saya membaca riset lapangan, dan yang paling fundamental: saya sangat memahami kapasitas serta daya tahan mental dari orang yang sedang kami bicarakan.

​Kini, ketika ia melangkah masuk ke Senayan dan langsung tampil menjadi salah satu “vokalis” baru yang disegani di Komisi III DPR RI, lagi-lagi saya tidak terkejut. Pengetahuan hukumnya kuat, pengalaman organisasinya panjang, naluri advokasi aktivismenya tetap hidup, dan keberanian berbicaranya telah terlatih oleh waktu. Ia mengonfirmasi sebuah kebenaran: bahwa jabatan besar tidak akan pernah mendatangi mereka yang sekadar tertidur dan bermimpi. Jabatan besar hanya akan datang menghampiri mereka yang diam-diam mematangkan kapasitas diri jauh sebelum kesempatan itu mengetuk pintu.

​Maka, jika suatu hari nanti Rudianto Lallo melangkah ke panggung yang jauh lebih besar lagi, baik di panggung Sulawesi Selatan maupun di kancah nasional, sekali lagi, saya tidak akan terkejut. Sebab saya tahu betul, dinding reputasi itu tidak dibangun dalam semalam. Ada peluh perjuangan, ada konsistensi yang mahal, ada pengorbanan yang tak tampak oleh publik, dan ada keberanian untuk tetap berdiri tegak ketika orang lain memilih untuk menyerah.

​Ia pantas atas setiap mimpi-mimpinya. Ia layak atas panggung perjuangan yang kini digenggamnya.

​Selamat hari kelahiran, Sahabat.

​Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan yang paripurna, umur yang penuh berkah, kekuatan yang tak goyah dalam perjuangan, serta kejernihan hati dalam mengemban amanah rakyat. Teruslah menjadi penyambung lidah bagi mereka yang suaranya dibungkam. Teruslah menjadi Anak Rakyat yang tidak pernah amnesia pada asal-usulnya. Dan teruslah berjalan memeluk mimpi-mimpi besar yang sejak dulu kau rawat.

​Sebab, sebagian orang lahir hanya untuk menjadi penonton dan mengikuti arus sejarah. Tetapi sebagian kecil lainnya—termasuk dirimu—memang ditakdirkan untuk berdiri tegak dan menuliskannya.

​Barakallahu fii umrik.

​Dari saya,
Arum Spink
yang menatapmu dari jauh.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
‎Serang Balik Mantan Suaminya, Clara Shinta Ngaku Tak Pernah Terima Nafkah Anak Sejak Bercerai
• 1 jam lalugrid.id
thumb
Kejagung: Proyek Motor Listrik Rp1 Triliun BGN Jatuh ke Vendor yang Tak Penuhi Syarat
• 3 jam laluokezone.com
thumb
Menbud Fadli Zon Jajaki Kerja Sama Musik Tradisional dengan Dubes Maroko
• 17 jam lalumedcom.id
thumb
Kejagung Bongkar Modus-Hubungan Jahat Yayasan MBG Melawan Hukum
• 16 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Pria di Demak Dinyatakan Meninggal, Saat Jenazah Dimandikan Bergerak-Bernapas
• 7 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.