Momen-momen Rontoknya Rupiah dalam Setahun Terakhir

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Belakangan ini, nilai tukar rupiah memperlihatkan tren pelemahan terhadap dolar AS secara konsistem. Pelemahan rupiah bahkan menembus level-level psikologis penting dalam satu tahun terakhir, mulai Rp 16.000, Rp 17.000, hingga Rp 18.000.

Kompas mencatat, setidaknya empat isu penting yang membuat rupiah lesu darah yakni konflik geopolitik yang melambungkan harga minyak dunia, suku bunga AS yang tetap tinggi, arus keluar modal asing dari pasar berkembang (emerging market), dan kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal dan kebijakan domestik Indonesia.

Berikut momen-momen pelemahan rupiah dan faktor-faktor yang menekannya:

30 Desember 2024: Rupiah tembus Rp 16.000

Pada 30 Desember 2024 ketika orang bergembira menyambut pesta Tahun Baru 2025, rupiah justru lunglai terhadap dolar AS dan menembus level penting Rp 16.000.

Hari itu, rupiah ditutup Rp 16.162 per dolar AS. Meski cenderung menguat 89 poin dibandingkan hari perdagangan sebelumnya, rupiah  melemah secara tahunan 1,61 persen dibandingkan pembukaan awal Desember 2024 yang berada pada level Rp 15.905 per dolar AS.

Pelemahan rupiah ke level Rp 16.000 terjadi setelah rupiah bergerak di level Rp 15.000 selama tiga tahun sejak 2022.

Otoritas moneter Indonesia menjelaskan, pelemahan nilai tukar rupiah ke level Rp 16.000 terjadi seiring menguatnya mata uang dolar AS dalam beberapa bulan terakhir. Indeks dollar AS (DXY) menguat terhadap hampir semua mata uang dunia, baik mata uang negara utama maupun terhadap mata uang negara berkembang.

Penguatan DXY tersebut didorong faktor-faktor, antara lain adanya divergensi ekonomi. Di satu sisi ekonomi AS cukup berdaya tahan, sementara di sisi lain ekonomi negara-negara Eropa dan China cenderung melambat. Resiliensi ekonomi AS menyebabkan agresivitas pemangkasan suku bunga mengalami penurunan.

Selain itu, terpilihnya kembali Donald Trump sebagai Presiden AS menambah ketidakpastian global seiring dengan penerapan kebijakan tarifnya. Kemudian, isu geopolitik di Suriah serta kondisi politik di Perancis dan Korea Selatan turut menyebabkan ketidakpastian.

Baca Juga”Hadiah” Akhir Tahun, Rupiah Tembus Level Rp 16.000 Per Dollar AS
23 Maret 2026: rupiah tembus Rp 17.000

Pelemahan nilai tukar rupiah berlanjut pada triwulan I 2026. Sekitar tiga bulan setelah rupiah tembus ke level Rp 16.000, rupiah kembali rontok terhadap dolar AS hingga tembus ke level psikologis baru, yakni Rp 17.000. Ini terjadi tepatnya pada Senin (23/3/2026) siang.

Level Rp 17.000 per dolar AS merupakan titik pelemahan terdalam saat krisis Asia 1997-1998. Meskipun dari sisi kedalaman depresiasi, pelemahan rupiah pada 2026 jauh lebih rendah daripada saat krisis 1997-1998.

Bloomberg saat mencatat, nilai tukar rupiah pada Senin itu telah mencapai Rp 17.006 per dolar AS atau melemah 0,46 persen dibandingkan penutupan pasar terakhir. Secara tahun kalender berjalan, rupiah telah terdepresiasi 1,88 persen.

Tekanan ini terjadi seiring dengan menguatnya kurs dolar AS  setelah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah. Pada saat yang sama, pasar keuangan domestik masih tutup lantaran libur Lebaran.

Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan saat itu berpendapat, ekonomi Indonesia sangat rentan terhadap guncangan eksternal, terutama geopolitik. Konflik di Timur Tengah berisiko mengganggu pasokan minyak dan gas global yang berdampak serius bagi ekonomi dunia, termasuk Indonesia.

Cadangan devisa Indonesia besar dalam angka, tetapi terisi gelembung akumulasi utang luar negeri, terutama oleh pemerintah dan Bank Indonesia.

Dengan kata lain, utang luar negeri tidak digunakan untuk kegiatan produktif, melainkan untuk memperkuat cadangan devisa dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi. Praktik tersebut telah dilakukan dalam beberapa episode tekanan rupiah sepanjang periode 2014-2025.

12 Mei 2026: rupiah tembus Rp 17.500

Gejolak rupiah belum tidak reda di level Rp 17.000. Tren pelemahan nilai tukar rupiah justru mencatatkan rekor baru sejak rupiah menembus level Rp 17.000 pada Maret 2026.

Mengutip data Bloomberg, kurs rupiah terhadap dolar AS telah diperdagangkan pada kisaran Rp 17.512 pada 12 Mei 2026 siang. Angka ini melemah 0,56 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang sebesar Rp 17.414 per dolar AS. Secara tahun kalender berjalan (year to date), pelemahan nilai tukar rupiah telah mencapai 5 persen.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah telah mencatatkan pelemahan terdalam sepanjang sejarah di level Rp 17.425 per dolar AS pada 5 Mei 2026. Dari titik tersebut, rupiah sempat menguat selama dua hari beruntun hingga ke level Rp 17.362 per dolar AS.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas dari PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, saat itu menjelaskan, rupiah terus melemah akibat faktor eksternal dan internal.

Dari sisi eksternal, konflik geopolitik di Timur Tengah telah memicu lonjakan harga minyak mentah global. Di sisi lain, dinamika geopolitik tersebut turut mengakibatkan ketidakpastian yang akhirnya mendorong penguatan indeks dolar AS terhadap mata uang utama (DXY).

Sementara dari sisi eksternal, pelemahan nilai tukar juga dipengaruhi oleh data pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan I-2026 yang cenderung ditopang oleh belanja pemerintah dan konsumsi masyarakat. Meski ekonomi tumbuh tinggi hingga 5,61 persen, banyak pihak menilai angka itu tidak sesuai dengan realitas tantangan yang dihadapi sektor riil. Pertumbuhan itu juga tidak berdampak signifikan pada investasi.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan, risiko di pasar keuangan domestik tidak semata-mata datang dari faktor eksternal. Catatan dari lembaga internasional, seperti dari MSCI terhadap pasar saham Indonesia, juga berdampak bagi perkembangan nilai tukar.

Selain itu, penurunan proyeksi peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s Ratings dan Fitch Ratings pada awal tahun ini turut memengaruhi selera risiko (risk appetite) investor global terhadap pasar saham dan obligasi domestik. Salah satu aspek utama yang disorot ialah kredibilitas kebijakan pemerintah.

Rentetan dari risiko-risiko global, ditambah lagi penilaian atau peringatan dari lembaga-lembaga terhadap Indonesia ini memberikan dampak yang cukup masif kepada risk appetite dari investor asing, khususnya terhadap aset-aset berdenominasi rupiah,” ujar Josua dalam Permata Institute for Economic Research (PIER) Economic Review Kuartal Pertama 2026 secara daring.

Baca JugaRupiah Cetak Rekor Terlemah di Rp 17.500, Apa Penyebabnya?

28 Mei 2026: rupiah mendekati level psikologis Rp 18.000

Pelemahan rupiah semakin mengkhawatirkan. Pada Kamis (18/5/2026) siang, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah mendekati level psikologis baru, Rp 18.000.

Pada perdagangan Kamis siang itu, Bloomberg mencatat, nilai tukar rupiah mencapai Rp 17.906 per dolar AS, melemah 0,58 persen dibanding penutupan pasar hari sebelumnya. Secara tahun kalender berjalan, rupiah terhadap dolar AS melemah sebesar 7,34 persen.

Pelemahan ini bukan sekadar masalah angka, melainkan sinyal bahwa ekonomi Indonesia sedang berada dalam impitan ganda.

Adapun transaksi itu berlangsung di pasar derivatif luar negeri (off-shore) alias NDF. Sebaliknya, transaksi spot dan derivatif domestik (DNDF) libur bertepatan dengan peringatan hari raya Idul Adha pada 27 Mei yang dilanjutkan dengan cuti bersama pada 28 Mei 2026.

Guru Besar Ilmu Ekonomi Moneter dan Perbankan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Rahma Gafmi mencatat, pergerakan rupiah di kisaran Rp 17.700-Rp 17.800 per dolar AS telah menciptakan kecemasan akan hilangnya jangkar stabilitas.

Pelemahan ini bukan sekadar masalah angka, melainkan sinyal bahwa ekonomi Indonesia sedang berada dalam impitan ganda, yaitu tekanan moneter global yang tak kunjung reda dan tantangan struktural domestik, yaitu energi dan fiskal yang mulai diuji oleh pasar,” ujarnya saat dihubungi dari Jakarta.

Dari sisi global, pasar masih meyakini suku bunga AS akan bertahan tinggi jauh lebih lama (higher for longer). Ini tecermin dari kenaikan indeks dolar AS terhadap mata uang utama dunia (DXY) ke posisi 99,1 dan naiknya imbal hasil obligasi AS (US Treasury).

Dengan kata lain, investor melihat selisih (spread) imbal hasil Indonesia masih belum cukup kompetitif dibandingkan dengan aset dolar AS. Artinya, daya tarik instrumen domestik sedang diuji oleh magnet kelas aset aman (safe haven) yang sangat kuat.

Pasokan devisa mengetat seiring kebutuhan dolar AS untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi deviden yang mencapai puncaknya pada triwulan II. Permintaan dolar juga meningkat untuk kebutuhan impor energi di tengah lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah.

Baca JugaRupiah Tembus Rp 17.900, sampai di Mana Depresiasi Akan Berlanjut?
 4 Juni 2026: rupiah tembus Rp 18.000

Nilai tukar rupiah akhirnya menembus batas psikologis di level Rp 18.000 per dolar AS hari ini, Kamis (4/6/2026). Mengutip data Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Kamis pagi melemah ke level Rp 18.027.

Pelemahan sebanyak 0,34 persen dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya. Adapun secara tahun kalender berjalan, rupiah telah terdepresiasi sebesar 8,08 persen.

Gejolak di pasar keuangan domestik ini terjadi seiring dengan keluarnya arus modal asing. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan dan Bursa Efek Indonesia, total arus modal asing yang keluar dari pasar keuangan domestik sepanjang Januari-Mei 2026 mencapai Rp 69,5 triliun.

Baca JugaRupiah Tembus Rp 18.000, IHSG Terjun ke Level 5.600
Sampai kapan rupiah akan tertekan?

Guru Besar Ilmu Ekonomi Moneter dan Perbankan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Rahma Gafmi memprediksi, peredaan gejolak rupiah akan sangat bergantung pada kondisi eksternal, terutama ekspektasi suku bunga AS.

Rupiah berpotensi akan menemukan titik balik, apabila data ekonomi AS mulai menunjukkan titik terang atau pendinginan yang signifikan. Dalam hal ini, naiknya angka pengangguran AS dan melandainya inflasi di bawah 3 persen, akan mendorong pasar kembali bertaruh pada pemangkasan suku bunga. Dengan demikian, imbal hasil obligasi AS turun dan aliran modal pun akan kembali ke pasar keuangan Indonesia.

Jika BI mampu membuktikan bahwa cadangan devisa masih cukup kuat untuk menjaga volatilitas di level tertentu, para spekulan akan mulai mundur

Selain itu, tekanan rupiah secara musiman pada triwulan II-2026 cenderung akan mulai mereda begitu memasuki periode Juli-Agustus 2026. Jika tidak ada kejutan negatif dari sisi fiskal, rupiah secara alami memiliki ruang untuk menguat karena permintaan dolar dari korporasi menurun.

”Jika BI mampu membuktikan bahwa cadangan devisa masih cukup kuat untuk menjaga volatilitas di level tertentu, para spekulan akan mulai mundur (profit taking). Pelepasan posisi beli dolar oleh pelaku pasar ini sering kali menjadi awal dari penguatan rupiah yang cepat,” ujar Rahma.

Mengutip data BI, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2026 sebesar 146,2 miliar dolar AS. Dibanding posisi akhir Desember 2025, cadangan devisa telah menyusut 10,3 miliar dolar AS.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Grab Bantah Rumor Akan Hengkang dari Indonesia
• 11 jam lalubisnis.com
thumb
Seleksi Ciputra Film Festival 2026 Semakin Ketat, Kualitas Disebut Meningkat
• 11 jam lalukompas.id
thumb
Update Ledakan Bom Peninggalan Perang di Biak, 6 Korban Tewas dan 3 Orang Masih Hilang
• 3 jam lalurctiplus.com
thumb
Dadan Cs Ternyata Kongkalikong Cari Cuan di Proyek MBG
• 4 jam laluokezone.com
thumb
Yuk Belanja di Super Indo Sekarang! Tukar Item Eksklusif Winnie the Pooh hingga Liburan Gratis ke Hong Kong
• 17 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.