Bisnis.com, JAKARTA — PT Asuransi Astra mewaspadai dampak pelemahan nilai tukar rupiah serta kenaikan suku bunga acuan terhadap daya beli masyarakat yang berpotensi menekan pertumbuhan bisnis asuransi kendaraan bermotor.
Di tengah tantangan tersebut, Asuransi Astra tetap memproyeksikan pertumbuhan bisnis seiring kontribusi dari berbagai lini usaha salah satunya yakni asuransi kesehatan yang disertai meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap perlindungan kesehatan.
Presiden Direktur Asuransi Astra Maximiliaan Agatisianus mengatakan perkembangan kondisi makroekonomi domestik saat ini tidak dapat dilepaskan dari dinamika global. Pelemahan kurs rupiah dan kenaikan suku bunga oleh Bank Indonesia dinilai berpotensi memengaruhi konsumsi masyarakat. Adapun saat ini saat ini rupiah menyentuh Rp18.000 per dolar AS.
"Kalau yang belakangan ini diawali dengan kelemahan kurs kita. Kemudian pada RDG terakhir Bank Indonesia menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin. Rasanya pasti semua sektor langsung terdampak," ujar Maximiliaan kepada media di Jakarta, dikutip Kamis (4/6/2026).
Menurut dia, faktor yang paling perlu dicermati adalah potensi kenaikan inflasi yang berujung pada penurunan daya beli masyarakat. Kondisi tersebut sebenarnya telah mulai terlihat dalam beberapa waktu terakhir dan diperkirakan akan semakin memengaruhi sejumlah sektor ekonomi.
Salah satu sektor yang paling rentan terhadap penurunan daya beli adalah industri kendaraan bermotor, terutama pembelian kendaraan melalui skema kredit. Penurunan permintaan kendaraan baru tersebut pada akhirnya berdampak langsung terhadap bisnis asuransi kendaraan bermotor.
Baca Juga
- Ini Penyebab Anomali Premi Tunggal Naik saat Premi Reguler Asuransi Jiwa Turun
- AAJI: Total Klaim Asuransi Jiwa Sentuh Rp38,73 Triliun pada Kuartal I/2026
- OJK Tegaskan Konsolidasi Asuransi Tidak Mematikan Perusahaan Kecil
"Kalau ditanya apa yang paling terdampak dari penurunan daya beli, salah satunya tentu demand kendaraan bermotor, khususnya yang pembeliannya melalui kredit. Industri asuransi kendaraan bermotor dampaknya sejalan dengan industri otomotif," katanya.
Selain memengaruhi daya beli, pelemahan rupiah juga dinilai memberikan tekanan kepada sejumlah pelaku usaha yang memiliki biaya atau kewajiban berbasis valuta asing.
"Untuk pelemahan kurs sendiri ujung-ujungnya juga bisa memperlemah daya beli. Beberapa klien kami yang memiliki biaya berbasis valas tentu juga akan terdampak," ujar Maximiliaan.
Di tengah tantangan tersebut, Asuransi Astra mengakui bahwa lini bisnis asuransi kendaraan bermotor masih berada dalam tekanan seiring melambatnya pasar otomotif nasional. Kendati demikian, perseroan tetap optimistis dapat mempertahankan pertumbuhan bisnis melalui strategi diversifikasi portofolio.
Maximiliaan menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat dibandingkan banyak negara lain. Meskipun terdapat revisi terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi, laju pertumbuhan Indonesia masih berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi global.
"Kita masih bersyukur Indonesia hanya mengalami perlambatan. Secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di atas pertumbuhan ekonomi dunia," katanya.
Selain mengandalkan bisnis asuransi kendaraan bermotor, perusahaan juga melihat prospek positif dari segmen asuransi kesehatan. Tingkat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan kesehatan yang terus meningkat dinilai menjadi salah satu pendorong permintaan produk asuransi kesehatan.
"Untuk asuransi kesehatan, awareness masyarakat terhadap kesehatan cukup tinggi. Dengan diversifikasi bisnis tersebut, kami masih memproyeksikan dapat tumbuh meskipun ada dampak dari kondisi ekonomi saat ini," kata Maximiliaan.
Asuransi Astra pun akan terus memantau perkembangan kondisi ekonomi dan menjaga strategi bisnis yang adaptif guna menghadapi tantangan dari tingginya suku bunga, pelemahan rupiah, serta perlambatan daya beli masyarakat.





