KOMPAS.com - Hilangnya opor ayam, rawon, dan sejumlah lauk lain dari etalase warteg belakangan ini bukan hanya soal kenaikan harga bahan pangan.
Di balik perubahan kecil tersebut, ekonom melihat adanya gejala yang lebih besar, yakni masyarakat yang mulai masuk ke fase bertahan hidup.
Tanda-tandanya muncul dalam berbagai bentuk. Pelanggan yang biasanya mengambil dua hingga tiga lauk kini cukup satu lauk. Sambal yang dulu bisa diminta terpisah mulai ditiadakan.
Sementara pedagang berupaya menekan biaya dengan mengurangi porsi, mencari bahan baku yang lebih murah, hingga menghapus menu yang dianggap tidak lagi menguntungkan.
Ekonom sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menilai fenomena tersebut mencerminkan tekanan yang sedang dialami masyarakat kelas menengah ke bawah.
"Fenomena terkait hilangnya menu lauk tertentu di warteg, banyaknya tukang parkir, bahkan sampai munculnya rohana dan rojali, menunjukkan gambaran riil di masyarakat kelas menengah ke bawah," kata Huda saat dihubungi Kompas.com melalui Whatsapp, Kamis (4/6/2026).
Menurut dia, warteg merupakan salah satu tempat yang paling mencerminkan kondisi ekonomi masyarakat karena konsumennya berasal dari kelompok yang mengandalkan makanan dengan harga terjangkau untuk kebutuhan sehari-hari.
"Kelas menengah ke bawah ini tidak ke iBox, tidak ke restoran mewah, tapi mereka pergi ke warteg hanya untuk sekadar makan. Ketika pilihannya itu terbatas pada menu dengan harga terjangkau, maka ada problem di masyarakat kelas menengah ke bawah ini," ujarnya.
Baca juga: Opor Ayam Hilang, Sambal Tak Lagi Dipisah: Ada yang Berubah di Warteg Hari Ini
Bahkan Dinilai Lebih Berat dari Masa Covid-19Perubahan perilaku konsumen itu dirasakan langsung oleh para pedagang warteg. Salah satunya Lina (37), pengelola Warteg Gria Bahari di Pamulang.
Menurut dia, kondisi saat ini justru terasa lebih berat dibanding masa pandemi Covid-19.
"Saya bandingkan, jujur masih mending zaman Covid dah. Pas social distancing, orang masih butuh makan dan daya beli masih kuat. Kalau sekarang bener-bener berat, orang mau makan saja susah," ujar Lina.
Ia menyebut jumlah pelanggan di warungnya turun hingga sekitar 50 persen.
Bahkan, pelanggan yang dulu masih leluasa membeli beberapa lauk sekaligus kini mulai mengurangi pengeluarannya untuk makan.
"Lah sekarang tuh orang makan tuh mungkin satu hari sekali," katanya.
Lina juga melihat semakin banyak pedagang kecil di sekitar tempat usahanya yang memilih menutup usaha karena tidak lagi mampu menanggung biaya operasional yang terus meningkat.





