IHSG Sudah Jatuh 32%, Bos BEI Minta Investor Rasional!

wartaekonomi.co.id
2 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah kehilangan sekitar 32,46% nilainya dari posisi tertinggi tahun ini. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG berada di level 5.839,78 pada perdagangan Kamis (4/6/2026), turun 2.807 poin dibandingkan posisi puncaknya di kisaran 8.648. Dalam beberapa bulan terakhir, IHSG bergerak dalam tren menurun dan kini berada di level terendah sejak periode 2020.

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan investor perlu tetap mengedepankan analisis fundamental dan menghindari pengambilan keputusan berdasarkan sentimen jangka pendek maupun informasi yang belum terverifikasi.

“Mencermati perkembangan pasar dua hari ini, kami tentu tidak bosan-bosannya mengingatkan kepada investor untuk dapat mengambil keputusan investasi secara rasional, memperhatikan fundamental, dan juga berinvestasi sesuai dengan profil risiko masing-masing investor,” ujar Jeffrey di Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Jeffrey Hendrik menegaskan kondisi fundamental emiten masih kuat dan tidak sejalan dengan pelemahan indeks.

Baca Juga: IHSG Turun 1,70% di Akhir Perdagangan Dana Rp262 Triliun Menguap

Baca Juga: IHSG Merosot 3,48%, Saham Bank Jumbo Kompak Tersungkur

“Fundamental pasar kita pada saat ini dalam kondisi yang baik,” tegasnya.

BEI mencatat laba seluruh emiten tumbuh lebih dari 21% sepanjang 2025. Sementara itu, laba bersih emiten yang tergabung dalam indeks LQ45 naik 29,9% pada kuartal I-2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Menurut Jeffrey, sekitar 80% perusahaan tercatat juga masih membukukan laba bersih pada kuartal I-2026, menjadi persentase tertinggi dalam lima tahun terakhir.

“Kalau kita lihat distribusi laba bersih per kuartal pertama tahun 2026, dari seluruh perusahaan tercatat yang ada, 80 persen membukukan laba bersih. Ini adalah persentase tertinggi lima tahun terakhir,” ujarnya.

Sebagai perbandingan, pada 2020 hanya 63% emiten yang mencetak laba. Adapun pada periode 2021-2025, angkanya berkisar 73%-76%.

BEI juga mengingatkan investor agar tetap berinvestasi secara rasional dan memperhatikan profil risiko masing-masing di tengah volatilitas pasar.

Selain itu, Jeffrey menegaskan kebijakan stabilisasi pasar masih berlaku, termasuk fasilitas buyback saham tanpa persetujuan RUPS dan penundaan pelaksanaan short selling.

BEI juga membantah informasi yang sempat beredar terkait kemungkinan Indonesia diturunkan dari kategori emerging market menjadi frontier market oleh MSCI.

Baca Juga: Di Tengah Tekanan Pasar, BEI Optimistis Status Emerging Market Aman

Baca Juga: BEI Dorong Saham Indonesia Kembali Masuk FTSE dan MSCI

“Kemarin kita ikuti bersama ada informasi yang tidak akurat beredar di pasar terkait dengan tangkapan layar. Seolah-olah ada pengumuman MSCI bahwa Indonesia ditempatkan di frontier market. Yang ternyata itu adalah informasi yang salah,” katanya.

Terkait evaluasi MSCI, Jeffrey menyatakan BEI memiliki keyakinan tinggi Indonesia tetap mempertahankan status sebagai pasar berkembang.

“Dari hal-hal konkret yang sudah kita lakukan, kami memiliki ekspektasi yang sangat tinggi bahwa Indonesia akan tetap di emerging market,” ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dolar Tembus Rp18.000, Pengusaha Efisiensi dan Stop Buka Lowongan Kerja
• 7 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Dorong Inovasi Engineering di Sektor Hilir Energi, Pertamina Patra Niaga Gelar PINDEX 2025
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
Dicabut, Permohonan Polri di Bawah Kemendagri
• 23 jam lalukompas.id
thumb
Dukung Hilirisasi Perkebunan, PT SGN Ambil Bagian dalam Gerakan Tanam Serentak
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
Hakim Ungkap Praktik Suap Pengurusan Sertifikat K3 Kemnaker Sejak 2019
• 2 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.