Grid.ID - Profil Nanik S Deyang. Wanita yang gantikan Dadan Hindayana sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN).
Nnik Sudaryati Deyang atau Nanik S Deyang resmi ditunjuk oleh Presiden Prabowo Subianto pada 2 Juni 2026 sebagai Kepala BGN. Ia menggantikan posisi Dadan Hindayana yang dicopot dari jabatannya.
Sosok Nanik rupanya sempat menuai sorotan beberapa waktu silam. Ia diketahui sempat berseteru dengan Ratna Sarumpaet.
Sementara itu, tugas utama Nanik di lembaga ini ialah mengawal dan memastikan keberhasilan salah satu program unggulan nasional, yakni program Makan Bergizi Gratis (MBG). Berikut profil Nanik S Deyang yang kini duduki jabatan Kepala BGN.
Melansir Tribunnewsbogor.com, Nanik S Deyang sebelumnya pernah diperiksa Polda Metro Jaya perihal kasus hoaks penganiayaan Ratna Sarumpaet. Alasan pemeriksaan Nanik oleh pihak kepolisian pun diungkap Kabid Humas Polda Metro Jaya kala itu, Kombes Argo Yuwono.
Argo menyebut bahwa Nanik lah sosok yang pertama kali memberitahukan ke Prabowo perihal Ratna dianiaya. Karenanya dalam pemeriksaan tersebut, Nanik akan ditanya terkait pertemuannya dengan Prabowo yang diduga membincangkan kasus pengeroyokan terhadap Ratna Sarumpaet di Bandung.
Bukan cuma diperiksa, Nanik pun turut dijadikan saksi di persidangan Ratna tersebut. Usai bersaksi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada April 2019, Nanik menyebut Ratna adalah tukang bohong.
Dalam persidangan tersebut, Nanik menuding Ratna Sarumpaet ingin menjatuhkan Prabowo Subianto, ketika Ratna Sarumpaet menelponnya pada 3 Oktober 2018 pagi.
"Ya masa dia di depannya Pak Prabowo bilang itu untuk apa? Kenapa sih? Kalau cuma ketemu kan ketemu saja, kenapa dia beralasan dia dianiaya gitu loh. Terus maksudnya apa? Begitu Pak Prabowo ada rasa empati, rasa kasihan, terus jumpa pers, dia bilang tidak dianiaya. Terus apa maksudnya?" ungkap Nanik.
Pernyataan Nanik itu pun akhirnya direspon Ratna Sarumpaet. "Dia (Nanik) berbohong pak," ujar Ratna kepada majelis hakim.
Ratna bahkan menangis saat mendengar kesaksian Nanik yang memojokkannya saat persidangan.
"Saya jengkel sebenarnya. Jengkel karena terlalu banyak keterangan Nanik yang bohong," pungkas Ratna.
Ratna Sarumpaet menjelaskan bahwa Nanik tidak meminta izin kepadanya untuk mengunggah kondisi wajahnya yang masih lebam di akun media sosial Nanik. Hal itulah yang akhirnya ramai berkembang soal dugaan penganiayaan Ratna.
Dituduh tukang bohong oleh Ratna, Nanik pun membantahnya. "Lah sekarang begini, dia (Ratna) saja tukang bohong masa nuduh saya berbohong?" ujar Nanik sembari tertawa.
Melansir Serambinews.com, berdasarkan data resmi dari laman BGN yang dilansir pada Rabu (3/6/2026), perempuan bernama asli Nanik Sudaryanti Deyang ini lahir di Madiun, Jawa Timur, pada 3 Januari 1968. Sebelum melangkah jauh ke ranah birokrasi dan politik, nama Nanik sudah sangat lekat di industri media massa nasional sebagai seorang wartawati senior.
Profil Nanik S Deyang mengawali karir akademisnya dengan meraih gelar sarjana dari Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, Jawa Tengah. Ia kemudian melanjutkan studi S2 dan sukses menggondol gelar Magister Ilmu Kehutanan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.
Berbekal latar belakang pendidikan tersebut, Nanik berkecimpung di dunia pers dan pernah tercatat sebagai jurnalis di Tabloid Bangkit. Ketajamannya dalam industri media membawa Nanik menduduki posisi pimpinan di Kelompok Media Peluang (KMP).
Pengalaman panjang di dunia jurnalistik cetak inilah yang membentuk kompetensi kuat Nanik dalam hal komunikasi publik, investigasi, serta tata kelola organisasi.
Jejak karir Nanik S Deyang mulai bergeser ke panggung politik praktis saat dirinya merapat sebagai salah satu pendukung setia Prabowo Subianto. Loyalitas politiknya sudah teruji sejak Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, di mana Nanik dipercaya menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Koalisi Indonesia Adil Makmur, tim pemenangan pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.
Hubungan erat dan kepercayaan dari Prabowo terus terjaga hingga pasca-kemenangan besar di Pilpres 2024. Nanik pun mulai resmi ditarik masuk untuk memperkuat struktur birokrasi di pemerintahan pusat.
Selain aktif di pemerintahan, Nanik juga tercatat mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN). Dikutip dari laman resminya, GSN merupakan yayasan sosial dengan visi membangun Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045. Yayasan tersebut resmi didirikan pada 24 Agustus 2024 oleh Teguh Arief Indratmoko sesuai penugasan Prabowo Subianto.
Memasuki ranah eksekutif, karier birokrasi dan profesional Nanik terpantau melesat sangat cepat dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Langkah awalnya di pemerintahan pusat dimulai ketika ia dilantik langsung oleh Presiden Prabowo sebagai Wakil Ketua I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan untuk periode Oktober 2024 hingga September 2025.
Di tengah masa tersebut, tepatnya pada 12 Juni 2025, Nanik turut mendapat amanah di sektor korporasi pelat merah sebagai Komisaris Independen PT Pertamina (Persero). Pengangkatannya disahkan melalui Keputusan Menteri BUMN Nomor SK-150/MBU/06/2025, membuatnya berada di lingkaran dewan komisaris bersama sejumlah tokoh nasional seperti Mochamad Iriawan dan Hasan Nasbi.
Dinamika karirnya berlanjut pada 17 September 2025 saat Nanik secara resmi diberhentikan dari posisinya di badan pengentasan kemiskinan lantaran menerima penugasan baru. Ia kemudian dilantik menjadi Wakil Kepala Badan Gizi Nasional untuk mendampingi Dadan Hindayana.
Hingga pada akhirnya, memasuki awal Juni 2026, jurnalis senior ini resmi naik takhta menduduki posisi tertinggi sebagai Kepala BGN yang baru. Itulah profil Nanik S Deyang, Kepala BGN yang baru menggantikan Dadan Hindayana. (*)
Artikel Asli




