JAKARTA, KOMPAS.com - Di sudut gang sempit Manggarai, Jakarta Selatan, dua orang remaja terlihat sedang asik mengisap rokok.
Tangan para remaja terlihat begitu lihat mengisap batang per batang rokok yang mereka beli ketengan di warung.
Bagi mereka, rokok bukan sekedar penghilang rasa asam setelah makan, melaikan juga untuk meredakan stres, menenangkan pikiran, dan mengusir rasa cemas yang datang silih berganti.
"(Merokok) bisa menghilangkan stres, terus saat merokok jadi merasa tenang, tidak memikirkan masalah," ungkap salah satu pelajar SMK bernama Dhea (16) saat diwawancarai di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, Rabu (3/6/2026).
Baca juga: Rela Tahan Lapar demi Nikotin: Potret Buram Fenomena Pelajar Merokok
Pelajar itu mengaku, selama ini tak memiliki teman berbicara ketika ada masalah, sehingga untuk menenangkan pikirannya hanya dengan merokok.
Dhea bilang, ibunya sibuk bekerja, sedangkan ayahnya telah tiada, sehingga ketika mengalami stres tak memiliki tempat untuk bercerita.
Di sisi lain, ketika bercerita ke teman-teman sebayanya, ia merasa begitu malu dan memutuskan untuk melampiaskannya dengan cara mengisap rokok saja.
Pelajar lain bernama Ucup (14) juga merasakan hal serupa bahwa merokok dapat menghilangkan stres.
"Iya, bisa menghilangkan stres. Jika sedang ada masalah, saya merasa lebih tenang," ucap Ucup di lokasi yang sama, Rabu.
Pelajar itu bilang, selama ini setiap kali ada masalah memilih untuk memendam sendiri, sampai akhirnya merasa stres.
Baca juga: Merokok di Usia Sekolah: Ancaman Senyap Bagi Paru-paru dan Tumbuh Kembang
Alhasil, pelariannya untuk menghilangkan stres hanya mengisap rokok ketengan yang dibeli dengan uang jajan di warung.
Rokok jadi pelarianSosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rakhmat Hidayat, mengatakan pola asuh dan kondisi keluarga sangat memengaruhi keputusan pelajar untuk merokok.
Anak yang tumbuh di lingkungan keluarga perokok, akan menganggap kebiasaan buruk itu sebagai sesuatu hal yang wajar.
"Kurangnya pengawasan orangtua, komunikasi yang tidak efektif, atau konflik keluarga dapat meningkatkan kemungkinan remaja mencari pelarian melalui perilaku berisiko, termasuk merokok," kata Rakhmat ketika dihubungi Kompas.com, Rabu.
Baca juga: Bukan Sekadar Kenakalan, Benarkah Kebiasaan Merokok Bisa Gerus Prestasi Siswa?
Namun sebaliknya, keluarga yang dapat menerapkan pola asuh hangat, komunikaif, dan konsisten, biasanya lebih mampu mencegah anak terlibat dalam kebiasaan merokok.





